John Ronald Reuel Tolkien

Penulis : Pdt Netsen | Sun, 10 July 2016 - 11:27 | Dilihat : 389
john-ronald-reuel-tolkien.jpg

NOVELIS YANG MEMBERI PENGARUH DUNIA FANTASI

John Ronald Reuel Tolkien adalah penulis novel asal Britania Raya yang menulis The Hobbit dan lanjutannya The Lord of the Rings. Beliau lahir pada tahun 1892 di Bloomfontein, Afrika Selatan. Setelah tiga tahun berada di Afrika Selatan, dia kembali ke Inggris bersama ibunya, Mabel. Sayangnya, ayahnya meninggal setahun kemudian, meninggalkannya dengan sedikit kenangan tentang ayahnya. Masa kecilnya adalah masa kecil yang bahagia jika dilihat dari berbagai aspek. Dia kemudian dibawa ke pedesaan.
Pada tahun 1904, ketika Tolkien baru berusia 12 tahun, ibunya Mabel meninggal karena diabetes dan meninggalkan bekas yang mendalam pada dirinya dan adik laki-lakinya. Setelah kematian ibunya, dia dibawa oleh pendeta katolik dari keluarga mereka, Bapa Francis Morgen. Sejak usia muda, Tolkien adalah seorang cendekiawan yang sangat baik. Dalam pendidikannya, beliau sangat tertarik dalam mempelajari dan mendalami ilmu linguistik. Khususnya bahasa Yunani, bahasa Anglo-Saxon, dan Finlandia.
Kisah percintaannya yang kuat dengan Edith, kekasih masa kecilnya sempat membuat konsentrasi Tolkien terganggu dalam meraih prestasi belajar. Sehingga ia gagal memenangkan beasiswa ke Oxford. Namun, kisah percintaan tersebut diketahui oleh walinya, Francis Morgen. Demi kesuksesan Tolkien, maka walinya melarang dia untuk menemui Edith sampai dia berusia 21 tahun. Setelah perpisahannya dengan Edith, Tolkien pun berhasil dalam meraih prestasinya. Setahun kemudian dia memenangkan beasiswa ke Exeter College, Oxford, dan mempelajari studi Klasika. Namun ia tidak begitu tertarik dengan studi Klasika. Tolkien berhasil beralih ke cintanya yang sejati, yaitu sastra Inggris. Rasa cintanya terhadap bahasa tidak memudar sepanjang hidupnya. Dia mulai mengembangkan bahasa-bahasanya sendiri, sebuah usaha yang luar biasa. Dia berkata bahwa bahasa-bahasa terletak sebagai jantung hati tulisan-tulisannya.  
Pada Perang Dunia I, tepatnya pada tahun 1916. Tolkien Bergabung dengan pasukan penembak Lancashire. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan kengerian dan pembantaian dari "Perang Besar" tersebut. Dia kehilangan banyak teman dekat. Namun pengalamannya tersebut sangat mempengaruhi tulisan-ulisannya. Salah satunya adalah penggambaran tanah gersang Mordor mungkin saja terinspirasi dari kengerian yang berlumpur dari Western Front, di medan perang. Pada tahun 1917, Tolkien dalam karyanya yang berjudul "The Silmarillion" dia melukiskan sejarah alam semesta, melalui gambaran umum yang hampir alkitabiah. Ceritanya bergerak dari Penciptaan Alam Semesta, kepada pengenalan akan kejahatan dan pemberontakan di Noldor. 
Sekitar tahun 1930, Tolkien mendapatkan inspirasi dan mulai menulis ide yang baru "The Hobbit". Selagi memeriksa lembar-lembar ujian, dia menuliskan di tepi halaman kertas kalimat "Di sebuah lubang dalam tanah, tinggallah seorang hobbit" yang abadi ini.  "The Hobbit" adalah sebuah kisah dongeng dan petualangan yang sederhana untuk anak-anak. Mengisyaratkan tentang hal-hal yang jahat, cerita tersebut masih berakhir dengan bahagia untuk selama-lamanya dan terutama bersangkutan dengan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Dalam perjalanan beberapa tahun berikutnya, teman-temannya, termasuk C.S. Lewis, membaca naskahnya dan memberikan ulasan yang baik. Sebagai seorang teman dari C.S. Lewis, Tolkien memberikan pengaruh yang positif bagi dirinya, khusunya dalam hidup keimanannya. C.S. Lewis mengatakan bahwa perbincangannya dengan Tolkien adalah faktor kunci dalam keputusannya untuk memeluk kekristenan. 
Karya-karya tulisa Tolkien sangat memengaruhi genre fantasi yang berkembang setelah sukses The Lord of the Rings. Pada tahun 1971, Edith, isteri tercintanya meninggal dan tahun kemudian Tolkien juga tutup usia di umur 81 tahun, tepatnya tahun 1973. Setelah kematiannya, karya-karyanya mulai mendapatkan popularitas dan membooming. Netsen/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top