HELEN ROSEVEARE, MELAYANI LEWAT PENGOBATAN MEDIS

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Thu, 4 August 2016 - 08:39 | Dilihat : 410
helen-roseveare.jpg

ELEN dilahirkan pada tahun 1925, dalam keluarga Inggris yang berkecukupan. Sebagai seorang anak, ia “aktif tanpa henti, gelisah dengan jiwa liarnya, selalu berada dalam kenakalan dengan dorongan untuk selalu unggul, ingin diperhatikan, ingin menjadi yang utama dalam

kelompok, perasaan ingin dikagumi”. Suatu hari di Sekolah Minggu, seorang guru berbicara kepada murid-muridnya tentang India. Diam-diam, Helen bertekad bahwa suatu hari, ia akan menjadi seorang misionaris. Tekad seorang anak yang tidak pernah pudar.

Dalam sebuah pertemuan misionaris di Inggris Utara, Helen Roseveare yang masih mahasiswa menyatakan di depan umum, “Saya akan pergi ke mana pun yang Allah inginkan, apa pun resikonya.” Ketertarikannya pada misi telah matang dan menjadi sebuah perasaan akan panggilan Allah. Setelah lulus, Helen mendaftar ke World Evangelization Crusade (WEC) untuk melayani di Afrika. Setelah berbulan-bulan menjalani masa orientasi dan pelatihan, akhirnya ia menjalani keinginannya untuk menjadi misionaris pada usia 28 tahun. Ia ditugaskan di wilayah timur laut Kongo (yang kemudian disebut Zaire). Ia menjadi satu-satunya dokter bagi 2,5 juta orang di sana. Pekerjaannya dimulai di sebuah rumah sakit sementara yang terbuat dari tanah liat dan atap jerami. Dengan bantuan pekerja lokal, lulusan Cambridge ini membuat dan membakar batu batanya sendiri dan membangun bangunan yang mereka butuhkan. Tangannya yang robek dan berdarah akibat bekerja di tempat pembakaran itulah yang membuat orang-orang Afrika terkesan, bahwa ia bukan sekadar wanita berkulit putih yang profesional, tetapi ia juga bersedia membayar risiko demi menyamakan dirinya dengan kondisi mereka.

Akhirnya dalam waktu 11 tahun, sebuah wilayah seluas 14 hektar berubah menjadi 100 tempat tidur rumah sakit dan alat-alat persalinan yang kompleks dengan semua bangunan dan layanan yang diperlukan. Puluhan ribu orang sakit dirawat, banyak di antaranya sudah pasti mati jika tanpa bantuan rumah sakit. Semua pasien mendengar Injil melalui pelayanan para pendeta rumah sakit. Selain itu, ia mendirikan 48 klinik kesehatan pedesaan sebagai bentuk pertolongan pertama. (dbs)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top