Kasih Tanpa Tembok Pemisah

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Wed, 7 September 2016 - 10:00 | Dilihat : 314
wall-peg-of-love-truth-or-trad.jpg

“Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” Efesus 2:13-14

Kehadiran Kristus di dalam dunia membawa suatu perubahan yang sangat radikal.  Apa yang disingkapkan pada kedua ayat di atas memberitahukan kepada kita tentang sebuah penggambaran yang digunakan oleh Paulus menunjuk kepada keberadaan tiap-tiap orang yang sudah berada di dalam Kristus.  Gambaran itu mengenai orang yang tadinya jauh karena terpisah dengan Allah kini karena Kristus menjadi  satu. Dosa telah membawa manusia bukan hanya terpisah dengan Allahnya tetapi juga membawa manusia terpisah dari sesamanya sehingga muncul permusuhan-permusuhan yang dibangun berdasarkan suku, ras, agama dan bangsa.  Itu sebab melihat kenyataan tersebut Paulus ingin mengingatkan bahwa sebagai orang yang sudah ditebus  seharusnyalah tiap-tiap orang yang sudah mengalami “dekat” dengan Allah, membangun hubungan “dekat” dengan sesama. Dengan kata lain,  Makin dekat kita datang kepada Allah, maka seharunya makin dekat pula kita datang kepada satu dengan yang lainnya.  Ketidakdekatan kita dengan sesama itu hanya merupakan suatu pertanda bahwa sebetulnya kita tidak dengan dengan Allah.  Jadi, jarak yang terjadi karena dosa telah dihancurkan oleh darah Kristus, sehingga manusia mengalami keadaan yang benar-benar dekat dengan sang pencipta. Dengan demikian maka, jarak antara kita dengan sesama orang tebusan seharusnya tidak boleh terjadi lagi.  Tidak perlu lagi membuat suatu pemisahan berdasarkan ras, suku, strata sosial, kedudukan, jabatan, dll. 

Di dalam kedekatan, tiap-tiap orang bisa saling peduli, saling mengasihi, saling menghormati, saling menghargai, saling melayani, saling mendoakan, saling membangun, saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain, saling mengampuni dll. Alkitab berkata, “.. tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3:28” Pastor Taylor dari Boston pernah berucap, “Di dunia cukup banyak tempat bagi manusia untuk hidup; tetapi seharusnya tidak ada tempat sama sekali bagi dinding-dinding yang memisahkan manusia yang satu dari manusia yang lain.” Kasih Kristus adalah penyebab kita bisa menerima seorang akan yang lainnya.  Dia adalah kedamaian kita.  Kedamaian itu telah dimenangkan dengan harga darah-Nya; salib-Nya menggugah kita untuk menghayati kasih-Nya bukan hanya dalam pemahaman tetapi dalam tindakan iman Kristen kita.  Kita menerima satu sama lain karena Kristus telah lebih dahulu menerima kita.  Hukum kasih membawa kita kepada dua hal penting, yakni mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Namun hukum yang lain, yang sama dengan itu ialah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Hanya dengan “kasih tanpa tembok” inilah maka keduanya bisa terbangun secara agung. Dan inilah yang diajarkan Yesus kepada tiap-tiap orang yang percaya kepada-Nya. 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top