Translator
Search
Sapaan Gembala
gods-voice.jpg
Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Matius  3:3 Praktik ’Perdagangan Suara’ vote trading sudah merupakan suatu hal ..
Mengenal Alkitab
Congklak.jpg
Luk 22: 21-23 Dalam perikop ini kita membaca perihal percakapan Kristus dengan murid-muridNya setelah makan malam. Mereka berbicara perihal orang yang akan ..
Tokoh Gereja
260px-Cornelius_Otto_Jansen.jpg
Cornelius Otto Jansen 1585-1638 Akhirnya buku penting itu diterbitkan. Setelah sekian lama mengalami proses penulisan dan menunggu saat yang tepat, di tahun ..
Join Newsletter

Tokoh

Walter Rauschenbusch, Injil Sosial, Jawaban Kebutuhan Umat

Author : Slawi | Monday, 07 March 2011 | View : 810
BAGI sebagian umat, teologi bagai momok yang menakutkan, bahkan cenderung  dijauhi. Pasalnya, dalam teologi terkan-dung unsur-unsur yang tak sedikit orang me-mandang telah terpengaruh dengan logika filsa-fat yang kerap membingungkan. Tak heran jika kajian tentang Allah beserta karyanya di seluruh jagad ini menjadi statis, stagnan - sebagai bagian dari kristalisasi pemikiran lampau, yang cende-rung kurang selaras dengan konteks kekinian. Alhasil, gereja pun kerap kurang memiliki sensitivitas lebih dalam melihat dan menjawab jaman, sebut saja satu di antaranya tentang eksploitasi tenaga kerja dan semacamnya.

Ketidakpuasan terhadap sikap gereja seperti inilah yang banyak diekspresikan oleh beberapa orang teolog untuk mengkreasikan sebuah teo-logi baru yang sesuai dengan konteks kekinian, meski tetap menyelaraskannya dengan krista-lisasi dogma lampau. Satu di antaranya adalah Walter Rauschenbusch, seorang teolog yang konsern dengan persoalan sosial dan kaum marginal.

Bagi Walter apa yang dinamakan teologi itu haruslah kontekstual, jika tidak, maka tak layak disebut teologi. Keyakinannya ini timbul lantaran kekecewaannya terhadap gereja yang berge-ming melihat penindasan yang terjadi masa itu. Eksploitasi tenaga kerja oleh industri-industri raksasa terjadi di mana-mana, penindasan terhadap kaum miskin dan lemah, perlakuan diskriminatif dari pihak penguasa kepada orang-orang yang lemah terjadi setiap hari, namun gereja hanya sibuk dengan persoalan spiritual. Sikap pasif dari gereja inilah yang dimengerti Walter sebagai tanda dari kegagalan teologi di dalam menjawab tantangan zaman.

Dengan segala bekal ilmu yang digalinya semasa studi di Rochester Theological Seminary, Walter memutar otak sembari mengha-rap hikmat Tuhan agar memberikan pence-rahan terhadapnya untuk dapat menjawab tantangan jaman ini. Tak sia-sia, segala pergu-mulannya dengan persoalan kekinian mela-hirkan sebuah teologi baru yang berkembang saat itu, bahkan tetap dipelajari hingga saat ini sebagai “Injil Sosial”.

Melalui Injil Sosial ini, Walter ingin kembali menempatkan doktrin penting tentang Kerajaan Allah, sebagai pusat dari teologinya. Dalam Injil Sosial, doktrin Kerajaan Allah men-jadi pusat, bahkan “This doctrine (the Kingdom of God) is itself social gospel.” Menurut Walter, seluruh pengajaran kristiani haruslah dirancang-bangun ulang, diselaraskan di bawah terang doktrin ini.
Seluruh teori dan konsep pemikirannya ini banyak ditularkannya kepada orang ketika Walter kembali ke almamaternya, Baptist Theological Seminary, di Rochester, New York, untuk mengajar. Ia mengajar dan menulis cukup panjang lebar berkaitan dengan keper-cayaannya tentang teologi keprihatinan sosial ini. Bahkan tak segan-segan Walter pun mengkritik sistem kapitalistik yang telah dimo-tivasi oleh keserakahan dan penganutan dari kepemilikan properti secara kolektif itu. Meski-pun begitu bukan berarti Walter toleran dengan sistem Marxisme.

Bagi Walter, Injil bukanlah berita “egois” tentang keselamatan pribadi semata, melain-kan etika kasih Yesus yang akan mentrans-formasi masyarakat melalui penyelesaian masalah kejahatan sosial.


0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Others

Archives :20122011
  •    •    •  
Copyright © 2007-2014 Gereja Reformasi Indonesia. All rights reserved.
Facebook Twitter YouTube RSS