Fondasi Yang Kokoh

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Mon, 26 September 2016 - 11:37 | Dilihat : 242
firmfoundation-720x340.jpg

Prof. Adrew Bruce Davidson pernah menceritakan pengalamannya ketika ia harus menginap di suatu kota yang asing baginya.  Ia sangat kesepian. Setiap petang ia menyusuri sepanjang jalan. Kadang-kadang melalui jendela yang tidak bertirai ia dapat melihat kemesraan keluarga yang duduk bersekutu sekeliling meja bundar dekat sebuah perapian.  Tetapi jika jendela itu ditutup, ia pun kembali merasa sendirian di luar panorama itu dan kesepian dalam kegelapan yang mencekam dirinya.  Pengalaman yang dialami Prof. Andrew dengan segera membawa kita ke dalam suatu aspek yang penting di dalam Kekristenan bahwa seseorang bukan hanya perlu mengalami persekutuan dengan Kristus tetapi juga perlu bersekutu dengan orang-orang tebusan-Nya.  Di dalam Dia, kita tergabung dalam suatu keluarga yang indah, yaitu keluarga Allah.  Kita tidak hanya membuka hati dan tangan kita agar Allah bekerja tetapi juga membukanya bagi saudara-saudara kita yang lain.  Menghancurkan pagar atau tembok-tembok pemisah yang selama ini kita bangun merupakan suatu hal yang perlu dilakukan.  Memang suatu kesedihan yang besar bila ternyata gereja malah lebih eksklusif daripada Allah sendiri. Padahal kita adalah satu keluarga di dalam Kristus.  Melalui iman kepada Yesus Kristus, kita menjadi anggota keluarga Allah dan Allah menjadi Bapa kita.  Keluarga Allah yang indah itu bukan hanya dapat kita temukan di dalam sorga sana tetapi seharusnya sudah ada di atas bumi ini. 

Membangun kebanggaan lahiriah tanpa kita sadari sering akan membuat suatu kelompok-kelompok, tembok-tembok dan golongan-golongan yang bisa bersikap “kejam” terhadap orang lain.  Namun kebangaan rohaniah dibangun di dalam Kristus yang adalah batu penjuru dari seluruh bangunan yang ada.  Para Rasul dan Para Nabi dengan lantang menyerukan tentang pekerjaan fondasi  yang kokoh dan tak tergoncangkan itu.  Batu penjuru yang bukan hanya mempersatukan manusia dengan Allah tetapi mempersatukan manusia dengan sesamanya.  Dasar bagi Jemaat ini diletakan oleh rasul-rasul dan nabi-nabi.  Yesus Kristus adalah dasarnya (1 Kor. 3:11). Dia adalah sentral, yang utama dan yang terpenting.  Tanpa Dia seluruh fondasi kekristenan akan ambruk, cepat atau lambat.  Dan hasilnya adalah Dia tidak mendirikan bangunan yang dapat ambruk dan binasa namun Ia mendirikan Jemaat-Nya sebagai bangunan yang kekal adanya (Mat. 16:18).  Persekutuan kita dengan sesama di dunia sangat penting dan diperlukan namun persekutuan itu akan segara berakhir seturut dengan berakhirnya kehidupan di dunia ini.  Tapi persekutuan yang abdi akan segera menanti dan dialami tak kala kita berjumpa dengan sang batu penjuru di sorga sana. Di sana kita bisa merasakan persekutuan yang kokoh dan sungguh-sungguh agung antara orang percaya dengan Bapa dan sesamanya. 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top