James Hudson Taylor, MENGORBANKAN MASA MUDANYA DEMI KESELAMATAN TIONGKOK

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Tue, 4 October 2016 - 13:26 | Dilihat : 305
old-james-hudson-taylor-e14428.jpg

Dilahirkan di Inggris pada tanggal 21 Mei 1832. Ia diutus oleh Chinese Evangelization Society, suatu lembaga pekabaran injil yang memusatkan perhatiaanya kepada pekabaran Injil di Tiongkok. Lalu ia tiba di Tiongkok pada tahun 1835 pada umur yang masih muda, yaitu 21 tahun. Ia mengadakan perjalanan mengelilingi seluruh Tiongkok bersama-sama dengan seorang pekabar injil lainnya, yaitu William Burns, yang telah berada terlebih dahulu di Tiongkok. Banyak kesulitan dan tantangan yang dihadapinya di Tiongkok, namun semuanya dihadapinya dengan tabah serta penyerahan diri kepada Yesus Kristus.

          Setelah menikah Taylor memilih untuk keluar dari Chinese Evangelization Society. Ia kemudian bekerja sendiri dan menggantungkan kebutuhan finansialnya kepada berkat Tuhan saja. Ia belajar bahasa Tionghoa dan bahkan berpakaian Tionghoa. Ia mampu memberitakan Injil dan berkothbah dalam bahasa Tionghoa. Namun pendekatan Taylor ini mendapat kritik yang pedas dari pekabar Injil Barat lainnya di Tiongkok.

          Hudson Taylor bekerja dengan giat sekali dalam memberitakan Injil Keselamtan kepada orang Tiongkok. Ia sangat terharu jika rakyat Tiongkok yang besar itu akan binasa karena hukuman Allah. Ia sungguh jatuh cinta dengan rakyat Tiongkok. Ia merasa berutang kepada rakyat Tiongkok, karena dari 18 Propinsi masih ada 11 Propinsi yang belum disentuh oleh Injil. Ia menjadi banyak bekerja dan kurang memperhatikan kesehatannya, kesehatannya terganggu, sehingga tidak mungkin baginya untuk bekerja terus di Tiongkok. Pada tahun 1860, pada waktu sudah berusia 46 tahun, ia meninggalkan Tiongkok dan kembali ke Inggris. Ia membawa seorang Tionghoa ke London untuk membantunya dalam menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Tionghoa. Taylor pun tidak mengharapkan lagi bahwa ia masih dapat menginjak bumi Tiongkok, negeri dimana ia telah menghabiskan masa mudanya. Sekalipun Taylor sudah berada di tanah airnya perhatiannya untuk pekerjaan pekabaran Injil di Tiongkok tetap besar. Dalam ruang kerjanya terdapat peta bumi Tiongkok yang besar, yang setiap saat dapat dipandang olehnya untuk menetapkan suatu strategi pekabaran Injil yang tepat di Tiongkok. 

          Hudson Taylor menetapkan beberapa prinsip pekabaran Injil bagi lembaga Overseas  Missionary Fellowship, yang dalam banyak hal berbeda dengan lembaga-lembaga pekabaran Injil lainnya. Pekerjaan pekabaran Injil oleh OMF ini sangat berhasil. OMF banyak didukung oleh pekabar Injil. Banyak diantara mereka menjadi ahli dalam bahasa dan kebudayaan Tionghoa, yang disebut Sinolog. Semua propinsi di Tiongkok dikunjungi dan diberitakan Injil.

Taylor tidak mementingkan batas- batas gereja. Pendidikan Theologia juga kurang dipentingkan. Asal mereka memiliki Iman yang hidup, itu dianggap cukup memadai. Seluruh pembiayaan pekabaran Injil digantungkan kepada Tuhan Allah melalui Doa. Corak ini menyatakan kepada kita bahwa Taylor adalah seorang pietis. Taylor meninggal dunia pada tahun 1905, dimana ia masih sempat melihat hasil usahanya di Tiongkok. G.I. Nikodemus Rindin/dbs

Lihat juga

Komentar

Top