Bait Setan Jadi Bait Tuhan

Penulis : Slawi | Tue, 4 October 2016 - 13:31 | Dilihat : 260
jerusalem-herodian-temple-in-i.jpg

Efesus 2:21-22

Syukur patutlah diungkap[kan umat di Efesus.  Betapa tidak, mereka yang dahulu tidak memiliki pengharapan tentang kekekalan, kini telah mendapatkan.  Efesus, bukan kumpulan orang-orang yang “dekat”, sama sekali berbeda dengan bangsa pilihan, namun kini telah mendapat anugerah dilekatkan dengan Allah.  Ya, Efesus bukan lagi orang luar, tapi dipanggil masuk menjadi “orang dalam”.  Bukan lagi orang asing dan pendatang,  melainkan kawan sewarga  dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga  Allah (2:19).  Dan untuk itu Kristus sebagai kepala gereja tidak pernah memberikan sekat-sekat pembeda antara orang yang telah dahulu mendapat rahmat dan yang kemudian mendapat rahmat.  Mereka diperlakukan setara. Baik pendatang maupun orang dalam diperlakukan sama dan mendapat anugerah yang sama.  

Ibarat sebuah bangunan, bangunan tidak lagi dilihat dari berapa jenis kepelbagaian material yang digunakan, tapi seperti apa jadinya bangunan itu.  Itulah yang dimaksud dengan “bangunan” “orang-orang kudus”   dan anggota keluarga Allah.  Baik yang lama pun baru, mereka dieratkan dalam sebuah bangunan; dalam sebuah jalinan sebagai anggota keluarga Allah.  Yang dibangun  di atas dasar yang sangat kokoh , yakni para rasul dan para nabi,  dengan Kristus Yesus. 

Kini tidak lagi kepelbagaian yang menonjol, yang mengemuka atawa dilihat orang, tapi sebuah kesatuan yang erat di dalam Tuhan.  Sebuah kesatuan dalam Kristus  yang terjalin dan disebut dengan Bait Allah (2:21).  Ya, kini Efesus telah mendapat tempat luarbiasa di sisi Allah. Efesus mendapat tempat yang mulia di hati tuan.  Orang yang sebelumnya pendosa dan tak berpengharapan itu kini bukan saja diperdamaikan oleh Allah, tapi juga dijadikan dimuliakan sebagai simbolik keberadaan Allah.

Menjadi bait Allah bukan sekadar sebuah kedudukan yang mulia, tapi juga sangat terkait tanggungjawab moral yang besar.  Menjadi bait Allah bukan saja dituntut terus menerus kudus, menjadi kudus, karena Allah kudus adanya.  Sebab Sang Kudus itu tak mungkin bersemayam dalam ketidakkudusan.  Sebagai Bait Allah, Efesus sangat dituntut untuk menjaga kekudusan hidupnya hari demi hari.  Tentunya bukan saja bicara soal dosa ketidakkudusan secara biologis, tapi juga dosa zinah berpaling dari Allah kepada ilah lain. 

Tak Cuma berhenti disitu,  sebagai Bauit Allah, Efesus juga dituntut untuk mengekspresikajn Allah dalam hidupnya.  Menjadi Bait Allah sekaligus menuntut Efesus untuk mempertontonkan; mengekspresikan diri bahwa Allah benar-benar bersemayam dalam hidupnya.  Bagaimana orang bisa melihat Allah benar-benar ada di baitNya (manusia/gerejanya) kalau yang terekspresi ke muka justru yang bertentangan dengan keinginan Tuhan.  Laih-alih menjadi Bait Tuhan, orang justru melihat Setan bersemayam di baitnya.  Sangat berbahaya. 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top