David Livingstone Memberikan Jantungnya Untuk Afrika

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 4 November 2016 - 14:31 | Dilihat : 254
gambar-tokoh.jpg

David Livingstone dilahirkan pada 19 Maret 1813 di kota Blantyre, Lanarkshire, Skotlandia. Ia merupakan anak dari Neil Livingstone (1788-1856), seorang guru sekolah minggu, dan istrinya Agnes Hunter (1782-1865), seorang ibu rumah tangga yang sangat jujur. Sebagai seorang Kristen yang taat, ayah dan ibunya telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap David Livingstone. Sebelum David berumur 10 tahun, ia pernah menerima hadiah karena mampu membacakan seluruh kitab Mazmur pasal 119 “dengan hanya lima kesalahan”. Pada usia yang sama, David sudah bekerja di bagian pemintalan kain, dan gaji mingguan pertamanya dia belikan sebuah buku pelajaran. David Livingstone memang tidak sepandai anak laki-laki lainnya pada umumnya, tetapi dia lebih tekun dan sungguh-sungguh belajar daripada yang lainnya.

Perjumpaan David Livingstone dengan Robert Moffat (seorang misionari yang melayani di Afrika) membuatnya terpanggil melayani di Afrika. Kata-kata Robert Moffat yang selalu diingatnya adalah: “pada saat matahari pagi bersinar, saya melihat asap mengepul dari beratus-ratus desa - dimana belum pernah ada misionari yang datang memberitakan Injil ke sana,” – di kemudian hari, David Livingstone menikah dengan, putri sulung Robert Moffat dan mereka bersama-sama melayani di Afrika. Sebelum berangkat ke Afrika, David Livingstone mempersiapkan dirinya dengan sangat baik, selama 7 tahun dia belajar, bukan hanya menjadi pendeta biasa tapi juga menjadi seorang dokter.

 

Sesampainya di Afrika, David Livingstone ternyata tidak hanya memberitakan Injil melainkan ia juga mengobati orang sakit, memperjuangkan kebebasan bagi para budak, serta melakukan penjelajahan ke berbagai pelosok Afrika – dia mempelajari tentang berbagai jenis tanaman dan hewan, dia juga menggambar peta Afrika dari daerah / wilayah yang pernah dikunjunginya – dan semua hasil penelitiannya tsb ditulisnya dalam sebuah jurnal dan dikirimkannya kepada Lembaga Geografi Kerajaan Inggris.  David Livingstone dikenal tidak saja sebagai seorang misionari besar pada zaman itu, yang banyak membuka lahan baru di Afrika dimana belum pernah ada seorang pun yang memberitakan Injil di sana, namun ia juga diakui sebagai orang yang belajar paling banyak tentang Afrika – sebelum David Livingstone belum ada orang yang demikian teliti mempelajari dan membuat catatan tentang Afrika.

 

Karena jasa-jasa David Livingstone lah Afrika menjadi dikenal oleh dunia dan mulai banyak Lembaga Pelayanan Misi yang mengirimkan utusannya ke Afrika. Orang-orang Afrika sangat mencintainya, hingga saat ia meninggal di gubuknya di desa Ilala, mereka mengambil jantungnya dan menguburkannya di tanah Afrika, sementara jenazah (tubuhnya) digotong dengan berjalan kaki selama 9 bulan sebelum mereka sampai ke pelabuhan dan memulangkannya ke Inggris. Jenazah tsb disemayamkan di Westminster Abbey, London.

Doanya yang paling terkenal, “Tuhan, utuslah aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskan ikatan apa saja dari padaku, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu." - Dbs./GI. Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar

Top