KESESAKANKU, KEMULIAANMU (EFESUS 3:9-13)

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Thu, 10 November 2016 - 17:07 | Dilihat : 337
gambar-mengenal-alkitab-1.png

Di dalam dunia yang memuja kenikmatan dan jalan hidup yang mudah, tentu saja jalan hidup yang sulit, sesak dan salib menjadi berita yang tidak laku dipasaran.  Yang laris manis adalah pengajaran tentang hidup sukses dan kesaksian-kesaksian spektakuler tentang pertolongan Tuhan.  Berbeda dengan yang lainnya, Paulus menyingkapkan tentang suatu kehidupan yang penuh dengan pergumulan tetapi disana justru ia menemukan maksud Tuhan bagi dirinya dan sesama.  Berada dalam kesesakan bukanlah keadaan yang salah namun justru melaluinya ia bisa melihat suatu kemuliaan yang Tuhan tampakkan karenanya berita injil justru didengar dan diterima oleh orang-orang yang belum percaya teruma bangsa bukan Yahudi. Berita injil yang tersembunyi berabad-abad itu diberitahukan secara jelas dan terang dalam hikmat Allah kepada semua kalangan. Karena berita itu maka ada keberanian untuk memberitakan injil dan ada keberanian juga untuk masuk kepada Allah sebagai orang yang telah ditebus.

Mungkin banyak orang yang tawar hati melihat perjuangan Paulus dalam pemberitaan Injil karena berita injil itu Paulus justru masuk penjara.  Namun Paulus justru meneguhkan hati jemaat dan rekan pelayanan supaya mereka jangan tawar hati.  Pemenjaraan Paulus bukanlah suatu malapetaka yang membuat mereka kecut dan berkecil hati karena tidak ada satu pun kemuliaan yang tidak didahului kesesakan.  Banyak orang yang mengikut Tuhan menghindari kesesakan dan mencari-cari kemuliaan.  Hanya mereka yang mau hidup dalam kesesakanlah yang berhak mendapatkan kemuliaan.  Namun anehnya apa yang terjadi pada pelayanan Paulus, ia mau menanggung sesak di dalam dirinya dan menyerahkan kemuliaan itu untuk orang yang dilayaninya. Paulus mau mengorbankan diri demi kehidupan orang lain.  Ia rela menangguh susah demi kebaikan orang lain. Saya rasa ini tantangan yang sangat serius bagi orang percaya. Pentingnya bagi kita untuk belajar melihat sesuatu yang Paulus lihat. Memiliki paradigma yang benar dalam melayani. Harusnya kita mengorbankan diri demi orang yang kita layani dan bukan sebaliknya.

Alister E. McGrath dalam bukunya Luther’s Theology the Cross, mengungkapkan satu kalimat yang sangat baik, ia berkata, “Di mana gereja menerima keadaannya yang tanpa pengharapan dan tanpa pertolongan, maka gereja akan menemukan kunci dari kelanjutan eksistensinya sebagai gereja milik Allah dalam dunia ini.  Dalam keadaan terlemahnya, gereja akan menemukan kekuatan terbesarnya. Bagian ini merupakan suatu refleksi yang sangat mengagumkan dan tepat bahwa iman seorang Kristen harusnya muncul dan bertumbuh dalam kesukaran dan penderitaan. Oleh sebab itu jika sebagai hamba Allah, oleh karena menyampaikan firman Allah kepada dunia, akhirnya kita justru menderita, maka berbahagialah sebab melalui hal itulah Allah justru sedang memakai kita di tangan-Nya untuk mendatangkan kemuliaan bagi sesama yang kita layani. Dan pada akhirnya kepuasan kita adalah ketika melihat mereka bersukacita, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus. GI. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top