Johanes Kepler, Melihat Kebesaran Tuhan Dari Ciptaan-Nya

Penulis : Slawi | Tue, 6 December 2016 - 11:17 | Dilihat : 219
gambar-tokoh-6.jpg

BAGI sebagian orang, masa kecil hidup menderita itu adalah hal biasa, toh tak akan mungkin Tuhan membiarkan umat-Nya terus menerus seng-sara.   Tapi bagaimana jikalau sejak kecil orang sudah menderita, dan berlanjut hingga masa tuanya? Adakah selalu benar pepatah yang mengatakan “berakit-berakit ke hulu berenang-renang ke tepian – bersakit-sakit dahulu, baru senang kemudian” atau senang kemudian, atau malah sengsara kemudian? Dalam keadaan seperti inilah Johanes Kepler, seorang astronom kawakan yang terkenal dengan dalil-dalil dan hukum-hukumnya tentang gerakan planet – telah dibesarkan.  Bagi pria yang di masa kecilnya ber-tubuh mungil dan sering sakit-sa-kitan ini,  kata senang adalah suatu kata yang “asing”, satu kata yang hampir tak pernah menjadi nyata sepanjang hidupnya. 

 

Ayahnya, Heinrich, yang berpro-fesi sebagai  tentara bayaran, membuat Kepler seringkali diting-gal oleh kedua orang tuanya, bah-kan hingga bertahun-tahun. Namun Kepler masih dapat bersyukur, sebab kakeknya setia menjaga dan mendampinginya.  Bahkan menyekolahkan dan terus-menerus menguatkan imannya. 

 

Dengan dukungan mantan guru-gurunya, Kepler berhasil memper-oleh beasiswa dari bangsawan Wurttemberg untuk melanjutkan sekolah hingga hingga perguruan tinggi. Satu anugerah besar bagi Kepler dapat belajar di Universitas Tubingen tahun 1587 – meski tanpa restu ayahnya, sampai gelar Bachelor of Arts pun diperolehnya di tahun 1588.  Di Universitas yang sama pula kemudian ia melanjutkan studinya di bidang teologi demi memperlengkapi dirinya untuk kerinduannya menjadi seorang pelayan Tuhan.  Begitu menyele-saikan pendidikannya, pria kelahiran Weil der Stadst, Jerman, 27 Desember 1571 ini pun terpanggil untuk melayani Tuhan sebagai pendeta di gereja Luther. 

 

Kepler juga seorang yang sangat pandai. Dengan keahliannya di bidang matematika, banyak warga ditolong dalam menyurvei tanah, menyelesaikan sengketa mengenai ketepatan timbangan berat dan ukuran panjang yang dipakai dalam perdagangan dan membuat pe-nanggalan.  Tak hanya memuat ke-terangan mengenai hari libur umum dan libur sekolah,  penang-galan yang dibuat Kepler juga di-lengkapi dengan keterangan keadaan bulan (bulan purnama, bulan sabit dsb) – juga  keterangan mengenai waktu menanam dan menuai. Sembari melakukan tugas-nya membuat penanggalan, Kepler juga bertekad memeriksa kecer-matan ramalan astrologi, apakah ramalan tersebut dapat dipercaya? Tahun 1601 Kepler menerbitkan buku yang menolak pandangan takhayul yang mengatakan bahwa bintang-bintang menentukan hidup manusia. 

 

Dalam karyanya yang lain, Kepler juga berhasil menunjukkan bahwa planet tidak bergerak pada jarak yang sama dalam jangka waktu yang sama (dengan kecepatan yang sama).  Bahkan dia juga bisa menunjukkan bahwa garis yang menghubungkan matahari dengan planet-planet, melewati bidang yang sama luasnya pada elips dalam jangka waktu yang sama.  Ini berarti bahwa planet bergerak lebih cepat ketika berada dekat matahari, dan lebih lambat ketika jauh dari matahari.  Kepler mempublikasikannya dalam buku berjudul Astronomia Nova tahun 1960. 

 

Beberapa tahun kemudian, Kepler menetapkan asas ketiga gerakan planet.  Secara matematis asas itu menetapkan waktu yang diperlukan planet untuk mengorbit mengelilingi matahari dengan jarak rata-rata planet dari matahari.  Asas ini dipublikasikan dalam buku “Harmonis Mundi” tahun 1619.  Dalam buku ini Kepler menulis, “Maha Besar-lah Allah Tuhan kita, besarlah kekuasaan-Nya dan kearifan-Nya tidak berkesudahan”.

 

Anggapan orang bahwa ilmuwan identik dengan menjauh dan tidak percaya dengan Tuhan, tidak selamanya benar.  Meskipun di tengah penderitaan hidup, Kepler seorang astronom yang telah menemukan sepenggal rahasia dunia ini justru semakin meneguhkan imannya dan mengakui kebesaran Tuhan atas segala karya-Nya, di balik apa yang sudah ia temukan.  Setelah menderita sakit berat beberapa lama, Kepler meninggal dunia di Regensburg, Jerman, tanggal 15 Novermber 1630, dalam usia 58 tahun.  Namun karya dan dalil-dalil yang dicetuskannya tetap abadi dan masih dijadikan rujukan bagi ilmu astronomi hingga saat ini. Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top