Sawang Sinawang

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Sat, 10 December 2016 - 11:43 | Dilihat : 224
Tags : Sawang Sinawang
gambar-sg-1.jpg

Saling pandang, itu lo artine sawang sinawang.  Sawang sinawang biasa dipakai orang jawa berkomentar tentang hidup.  Ya, dinamika hidup manusia itu sesungguhnya sekadar sawang-sinawang saja.  Pergerakannya ada pada bagaimana orang nyawang/ memandang orang, yang sebenarnya juga sedang memandangnya juga. 

Diluar sana orang memandang liyan itu  lebih enak, lebih nyaman, dan lebih luarbiasa hidupnya, tanpa sedikitpun coba mengidentifikasi permasalahan apa yang dialami orang.  Padahal kalau diukur dari persentase, bisa jadi kesusahannya lebih besar dari pada “kenikmatan” yang kita pandang --  tapi hal itu tak ditunjukkan.  Tapi benarlah kata Peribahasa “rumput tetangga lebih hijau”. Heheheh.. memang orang yang memandang selalu melihat hidup orang yang dipandang akan lebih “hijau”. 

“Sawang-sinawang” bukanlah perbahasa satir.  Sawang-sinawang memiliki arti, dan makna yang reflektif, sebagai pengingat ikepada kita manusia agar tak terlalu mudah membuat kesimpulan dalam menilai; mengajarkan untuk selalu melihat keadaan diri dan bersyukur karenanya.  Bahasa kristennya, belajar Menghitung Berkat. 

“Sawang-sinawang” bukan permakluman keadaan diri, tapi sebuah upaya refleksi melihat ke dalam; sebuah awasan bagi diri untuk tak bernafsu pada apapun yang orang miliki dan punyai, termasuk kelebihan mereka.  Ini versi benarnya, tapi ada juga yang memaknai “sawang-sinawang” dari segi yang negatif semata.  Sawang atau memandang justru digunakan sebagai alat ukur diri.  Ketika yang disawang itu sukses, jaya, luar biasa, maka kita orang begitu bernafsu memilikinya,  dengan cara apapun dilakukannya.  Ambisi yang “dipelihara” secara positif memang bisa menghasilkan sebuah motor penggerak menuju cita, tapi ketika ambisi negatif begitu menguasai, maka yang terjadi tak lebih dari nafsu yang mengikat diri untuk memiliki semua, itu respons pertama.

Respons kedua orang yang biasa dilakukan dalam sawang adalah membatin, kepada Tuhan, bahasa gampangnya berdoa dalam hati agar mendapat apa yang disawang.  Tapi apa daya, doa tak selalu menjawab kebutuhan nafsu kita.  Kita memang mengingini sesuatu, dan untuk itu kita berdoa, tapi jangan-jangan apa yang dipanjatkan hanya untuk dihabis-habiskan  saja (Yak 4: 2-3).  Berdoa, meminta sesuatu, itu memang langkah positif, tapi justru antiklimaks kalau itu hanya untuk mengangkangi atawa menguasai semuanya yang disawang. 

Dan ironisnya, kalau sesuatu yang disawang itu tak juga didapat, baik dengan cara positif (doa), maupun dengan menghalalkan segala cara, maka orang akan menjadikan sesuatu yang sebelumnya dia betul-betul ingini dan bernafsu untuk mendapatkan itu sebagai sesuatu yang paling dia benci. Segala yang disawang itu buruk semua.  Tujuannya tentu saja tak lain adalah mengalihkan pandang matanya dari sesuatu yang paling diinginkan, dengan cara itu dia bisa menekan keinginannya.  Tapi bukan tanpa dampak.  Dampaknya bukan kepada diri, tapi justru kepada orang yang disawang, apapun yang kita sawang dari orang itu menjadi sesuatu yang paling dibenci.  Pada akhirnya, bukan benda yang jadi korbannya, tapi juga orang yang disawang.  Dan kalau diruntut terus menerus maka orangnya akan dijadikan musuh.

Hidup memang sawang-sinawang, silakan saja orang memandang, tapi jangan setelah memandang lantas menginginkan, bukankah kitab suci pun sudah mewanti-wanti, “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu." (Kej 20:17). 

Tak bisa hidup itu tanpa nyawang, tapi bukan Cuma nyawang keluar, tapi juga merefleksikan apa yang disawang ke dalam diri.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top