HATI NURANI YANG MURNI

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 16 December 2016 - 14:21 | Dilihat : 224
gambar-sg-4.jpg

Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia. Kisah Rasul 24:16

 “Hati nurani adalah inti yang paling rahasia dan tempat suci manusia. Di sana ia berada sendirian dengan Allah, suara Siapa bergema di dalam lubuk hatinya.”   Penjelasan ini diambil dari dokumen resmi Gereja Katolik. Namun penjelasan itu, tentu tidak final karena sebetulnya hati nurani yang benar adalah hati nurani yang  bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan manusia.  Dua hal tersebut terikat satu sama lain dan membawa manusia kepada dua pemahaman yang sangat penting dalam memahami hati nurani itu sendiri.  Kemutlakan hati nurani pertama-tama menunjuk kepada Allah karena penilaian suara hati nurani diadakan di hadapan tahta Allah.  Allah adalah pusat penentuan hati nurani yang sempurna.  Kemutlakan hati nurani bukan berdasarkan perasaan yang ada di dalam nurani diri manusia itu meskipun hal tersebut bisa dipakai oleh Allah untuk mengemakan maksud-Nya di dalam lubuk hati.  Nurani yang sudah tercemar oleh dosa perlu diterangi oleh kebenaran firman Tuhan.  Itu sebab sejak kecil anak-anak dari Bangsa Israel di ajarkan berulang-ulang firman Tuhan agar mereka memahami apa yang menjadi ketetapan kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.  Nurani yang sudah dibentuk sejak kecil dan mengalami perubahan karena pertobatan (lahir baru), menjadi nurani yang murni.

Kata “nurani” berasal dari Bahasa Arab nur yang berarti terang, cahaya. Maka istilah itu sekaligus memberikan pemahaman yang mendasar tentang cahaya yang menerangi sanubari seseorang untuk memberikan keinsyafan akan kondisi moralnya sendiri. Cahaya ini merupakan kemampuan khas manusia dan juga salah satu ciri terpokok dalam esksistensi moral seseorang.  Dari manakah asal cahaya ini? Tentu dari sang sumber Cahaya sejati, yaitu Allah sendiri. Namun bagaimana caranya agar Cahaya itu bekerja secara maksimal? Maka yang terpenting yang perlu manusia lakukan adalah ia harus mengalami perjumpaan terlebih dahulu dengan pribadi terang dunia itu.  Yesus menyebut diri-Nya, “Akulah terang dunia ; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” Yohanes 8:12.  Bersama Dia, kita akan dibuat-Nya berjalan dalam terang yang sesungguhnya.  Terang itu dimiliki dan tetap adanya.  Karena itu hati nurani manusia yang sudah berjumpa dengan Kristus dan nurani yang masih dalam dosa berbeda kualitasnya. Yang satu membawa manusia berlaku dalam sikap moral semata, namun yang satu lagi lebih dari sikap moral maka adanya sikap spiritual yang teraktual.

Hati nurani mempunyai dua peran yang sangat kuat.  Peran pertama adalah sebagai penuduh.  Ia memberikan tuduhan, penghakiman, mengingatkan, menimbulkan rasa bersalah dan rasa sesal. Ketika di dalam nurani datang tuduhan, penghakiman dll., maka sebenarnya hati nurani kita sedang berfungsi dengan baik dan benar.  Dan sangat berbahaya bila nurani kita sudah tidak memiliki kekuatan sensornya, artinya nurani kita diambang kematian. Seseorang yang dengan sengaja dan terus-menerus melanggar hati nuraninya akan mengalami kemerosotan pada tuntutan hati nurani itu dan akhirnya suara hati tidak bersuara lagi. Peran kedua adalah sebagai pendorong.  Yaitu ia mendorong seseorang agar mengerjakan suatu tindakan yang benar untuk menjadi seperti yang Tuhan mau.  Ketika seseorang telah berjumpa dengan Tuhan, maka di dalam hati nuraninya timbul suatu dorongan yang terus -menerus senantiasa untuk mengerjakan sesuatu yang mulia dan berharga baik bagi kemuliaan Tuhan maupun bagi kebahagiaan orang sesama. Secara praktis tentu hal ini dapat diwujud nyatakan dalam keseharian kita. Bagaimana kita berusaha dengan sungguh-sungguh dalam bekerja, melayani, dan hidup memelihara keluarga yang Tuhan percayakan. GI. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top