Berkat Di Hal Biasa

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Sat, 14 January 2017 - 17:05 | Dilihat : 193
Tags : Berkat Hal Biasa
gambar-sapaan-3.jpg

Hina dan Mulia, itu pradoks manusia dicipta.  Satu sisi manusia dicipta dari debu tanan nan hina belaka.  Sisi berbeda manusia dicipta ansich sebagai makhluk yang amat mulia.  Dicipta dengan disertai anugerah yang tak kalah akbar dari mulia dia tercipta.  Bagaimana tidak, kita manusia dicipta tidak hanya dengan cara dan treatment berbeda, menekankan unik kita dicipta,  Tapi juga dicipta dengan dilengkapi dengan iringan berkat yang luar biasa.  Ini belum bicara soal keselamatan, tapi berkat yang konon disebut sebagai common, lantaran tidak hanya kristen yang menikmatinya.  Tapi diberkat yang umum itu pun harusnya dapat mendatangkan respon berbeda antara kita yang katanya mengenal kebenaran dengan orang  yang belum tersentuh kabar keselamatan.

Sinar mentari pagi; angin siang sepoi meniup; hujan yang menyegarkan alam kekeringan; atau segarnya udara yang dihirup;  itu semua orang rasa.  Itu semua pun kita rasa.  Kalau orang di luar sana berespon biasa saja ketika bersentuhan dengannha, lalu apakah Kristen bertindak sebaliknya? Meresponi dengan limpahan syukur luar biasa. Semoga saja demikian. Tapi nyatanya, itu semua hanya menjadi utopia semata.  Ya, hanya retorika di angan saja.  Karena lagi-lagi  sudah dianggap biasa.  Bukan berkat spesial yang orang rasa dan damba. 

Itu kita yang acap abai dengan berkat-berkat, yang an sich lluar biasa.  Tapi karena itu  biasa dirasa atau dirasa biasa, maka menjadi tak berarti apa-apa.  Itu gambaran  kita manusia yang seringkali menganggap berkat, anugerah yang teramat besar dari Allah sebagai hal yang lumrah, yang  umum, yang biasa saja.  Padahal, berkat-berkat yang dikata biasa, sejatinya sangatlah luar biasa.  Dan baru akan terasa ketika orang ada di posisi paling dasar di hidup kita.  Ketika ada di ambang bawah hidupnya, baru akan merasa  betapa sesuatu yang biasa itu sesungguhnya benar adalah berkat besar luarbiasa. 

Sepekan kebelakang masih melekat di telinga kita kabar tentang aksi perampokan dan pembunuhan di Pulo Mas Jakata Timur beberapa waktu lalu.  Aksi keji yang membuat yang menyaksikan di layar kaca mengelus dada. Kita amat sangat prihatin mendengarnya. 

Beberapa waktu lalu, paska dilakukan rekonstruksi ulang kejadian perampokan itu, terkuak bagaimana misteri kamar mandi yang menewaskan satu keluarga dan sopir mereka. Menurut pengakuan asisten keluarga korban perampokan tentang lobang kunci di kamar mandi misteri, itu bukan ulah para perampok agar mereka tidak bisa melepaskan diri dari kamar mandi.  Tapi itu merupakan salah satu cara dari majikannya, yang akhirnya juga turut menjadi korban untuk mendapat udara dari luar kamar mandi.  Majikannya sengaja menjebol grendel pintu, agar udara segar dapat masuk ke dalam kamar mandir.  Tapi ironisnya, setelah lubang grendel pintu itu terbuka, semua orang yang ada di kamar mandi, yang memang kurang mendapat asupan oksigen itu pun  berebut menghirup udara dari lubang yang kecil itu.  Meski sudah mencoba, namun toh akhirnya sebagian besar yang ada di kamar mandi meninggal lemas karena kurang asupan oksigen dalam darah. 

Saya tidak ingin cerita ini dipahami secara negatif. Tapi saya hanya ingin meminjamnya sebagai sebuah fenomena sosial yang bisa ditarik makna darinya.  Tentang betapa berartinya udara (oksigen) yang mungkin kita anggap sebagai sesuatu yang biasa; lumrah dan umum.  Tapi ketika ada di titik terendah sulit mendapatkan udara, kita diperlihatkan betapa sangat berartinya itu. Udara, tentu sesuatu yang biasa kita hirup dan rasa.  Tapi lagi-lagi, ketika dalam keadaan tercepit; ketika dalam keadaan atau ada di titik tersulit mendapatkannya, orang akan merasa betapa amat sangat luarbiasa berharganya udara.

Sama halnya dengan kisah anak yang hilang, sama sekali abai mengerti dan meahami betapa luarbiasa dan mulianya dia sebagai anak orang berpunya.  Tapi itu semua tak terasa, karena menganggap hal itu adalah sesuatu yang patut dinikmatinya.  Dan itu hak nya pula.  Tapi ketika semua lenyap, dan dia ada dititik terendah kemanusiaannya, dimana untuk menyantap sesuap makan pun harus berebut dengan binatang, barulah terasa betapa mulia dia dahulu kala.  Betapa berharganya dan luarbiasa berkat yang dirasa ketika masih ada di pangkuan bapa.  Tak lagi-lagi, hal itu akan menjadi romantisme tanpa makna ketika tidak ada asa tuk kembali kepada bapa.

Dua kisah senada itu kiranya bisa menjadi cermin refleksi untuk melihat diri. Kita, yang  adalah makhluk mulia dengan diiringi berkat luarbiasa, sering kali abai menikmatinya, hingga lupa mengucap syukur atasnya.  Untuk itu perlu dipupuk kesadaran sedemikian rupa. Jangan sampai ketika kita sadar makhluk mulia, yang diberkati luarbiasa, justru ketika ada di titik terendah hidup kita.  Kiranya Allah memberi kekuatan untuk melakoninya.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top