William Booth Pemberita Injil Pada Kaum Marginal)

Penulis : Pdt Netsen | Sat, 14 January 2017 - 17:25 | Dilihat : 224
gambar-tokoh-10.jpg

William Booth lahir di Nottingham, Inggris, pada tanggal 10 April 1829. Saat berusia tiga belas tahun, ekonomi keluarganya betul-betul hancur berantakan, sehingga Booth yang semula mendapatkan pendidikan yang sangat berkualitas akhirnya harus meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di rumah gadai. Di sana ia melihat jurang yang begitu dalam antara yang kaya dan yang miskin. Hal ini membuat dia bertekad untuk memperbaiki nasib rakyat kecil yang tertindas. Baru setahun Booth bekerja, ayahnya meninggal dunia dan hal ini membuat jiwanya sangat terpukul. Tetapi justru hal ini pula yang membuat ia mulai memikirkan kehidupan setelah kematian. Setelah dibimbing oleh salah seorang sepupunya yang cinta Tuhan, kerohanian Booth pun mulai bertumbuh. Sejak mengalami pembaharuan hidup pada usianya yang ke-15, Booth mengasingkan diri dari kehidupan dunia dan bertekad, "Bila saya mau berbakti pada Tuhan, saya harus berbakti dengan segenap hati."

Ketika berusia  tujuh belas tahun, Booth bersama seorang temannya yang bernama Samson mulai mengabarkan Injil pada orang-orang miskin dan berpakaian compang-camping di Nottingham. Mereka membawa orang-orang tersebut ke gereja dan duduk di kursi terdepan. Akan tetapi, ternyata Booth belum terlalu serius dengan pelayanannya. Menanggapi hal ini, salah seorang temannya menegur Booth, "Kepasifanmu adalah tanda mementingkan diri sendiri yang membuatmu takut dan menahanmu bersaksi bagi Kristus." Teguran tersebut menjadi pelajaran bagi Booth. Selanjutnya dia berusaha mengalahkan kegugupannya dan mulai bisa memimpin pujian dan berkhotbah dengan berdiri di atas sebuah kursi.

Pada usia dua puluh tahun, Booth pergi ke London. Karena tidak mendapat pekerjaan lain, terpaksa dia tetap bekerja di pegadaian sambil berkhotbah. Melihat talenta pelayannya, seorang pengusaha bernama E.J. Rabbits menyarankan agar Booth melayani Tuhan sepenuh waktu dan dia akan menanggung biaya hidupnya selama tiga bulan. Secara tidak sengaja, melalui pengusaha tersebut jugalah Booth berkenalan dengan seorang gadis bernama Catherine Mumford. Kemudian mereka menikah pada 16 Juni 1855 di London. Upacara pernikahan mereka sangat sederhana dan bertolak belakang dengan kebiasaan pada waktu itu. Pernikahan dirayakan tanpa bunga, tanpa musik, tanpa tamu, melainkan hanya mempelai pria dan wanita serta seorang pendeta yang memberkati dan dua orang saksi.

Setelah menikah, Booth bersama isterinya melayani bersama. Meski mereka berasal dari dua karakter yang berbeda, Booth yang keras dan Catherine yang lembut dan baik, namun pelayanan mereka berjalan dengan baik. Mereka saling melengkapi dalam melayani. Bahkan kehidupan mereka pun dijalani dengan baik. Banyak orang menganggap pelayanan suami istri baru ini sebagai pelayanan yang mengagumkan karena keduanya mampu memberikan kasih bagi mereka yang miskin dan terlantar. Melihat pola pelayanan Booth dan khotbah-khotbahnya yang selalu mencela gereja yang tidak peduli dengan kemiskinan jemaatnya. Maka pihak gereja pun mulai membatas pelayanan Booth dan istrinya.

Karena merasa diperlakukan demikian, maka Booth dan istrinya mengambil keputusan untuk pindah ke Gereja Persekutuan Baru Metodis. Di sana mereka melayani selama sembilan tahun, dan pada tahun 1861 ketika diadakan konferensi tahunan gereja, mereka menyatakan keluar dari gereja dan memulai pelayanan sendiri sehingga lebih bebas. Tuhan terus membukakan pelayanan yang baru bagi mereka. Dengan usaha dan dana sendiri, mereka memasuki daerah-daerah pelayanan yang rawan. Dengan keberanian dan penyerahan penuh, mereka memasuki tempat-tempat kumuh. Mereka tetap tidak mundur sekalipun dicemooh. Bagi mereka berdua, yang paling utama adalah menyatakan kasih Kristus pada orang-orang terlantar, sekalipun risikonya sangat besar.

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak orang yang mengikuti pelayanan mereka. Hal ini juga yang membuat mereka harus memunyai tempat ibadah yang tetap. Namun mereka tidak memiliki kemampuan dalam hal dana. Akhirnya mereka hanya menyediakan sebuah tenda sederhana di mana jemaat-jemaat bisa berkumpul untuk belajar firman Tuhan. Namun tenda hanya bertahan dua bulan karena diterpa angin kencang. Booth tidak habis akal. Sekalipun tenda hancur, namun ibadah harus tetap berjalan. Itulah sebabnya Booth dengan gigih berusaha untuk dapat mengadakan ibadah dengan menggunakan gedung sandiwara, toko, bahkan di samping kandang binatang. Meski penuh dengan kekurangan, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Booth dan isterinya dalam melayani Tuhan.

Setelah semakin berkembang, Booth mendirikan lembaga pelayanan untuk London Timur yang diberi nama The East London Christian Missionary. Lembaga ini sangat memerhatikan nasib para pekerja yang berpenghasilan rendah, sehingga selain menyebarkan Alkitab, traktat, dan buku, Booth juga mendirikan bank tabungan untuk dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Lembaga ini kemudian berkembang dengan pesat dan memungkinkan mereka untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti kebaktian wanita, sekolah minggu, sekolah Alkitab, dan sekolah sore untuk mengajar orang-orang miskin di London Timur agar dapat membaca dan menulis. Di samping itu, lembaga ini juga menerbitkan majalah, yaitu The East London Evangelist sebagai media informasi dan komunikasi. Melihat semakin berkembangnya pelayanan lembaga ini, Booth mengganti nama lembaganya menjadi The Christian Mission. Penggantian nama ini bertujuan agar pelayanan mereka bukan hanya difokuskan ke London Timur, melainkan ke seluruh dunia.

Wujud dari perkembangan pelayanan yang hanya dimulai dari sebuah tenda, melahirkan sebuah gerakan besar dalam kekristenan. Misi dari pelayanan Booth adalah menyampaikan Injil dalam kata dan perbuatan kepada semua orang, khususnya mereka yang miskin dan terabaikan. Hal ini dilatarbelakangi oleh jiwa "altruis" sejati dalam diri Booth, yaitu orang yang memerjuangkan hidup orang lain lebih daripada dirinya sendiri. Booth melihat bahwa Injil memiliki segi sosial, sehingga gerakannya ditujukan untuk mengangkat orang miskin dan tertindas.

Booth dan isterinya melayani hingga masa tua mereka. Tanggal 4 Oktober 1890, Catherine, istri Booth, meninggal dunia. Kesedihan tidak membuatnya berhenti berjuang dalam pelayanannya, dia terus melayani Tuhan dengan gigih hingga tanggal 12 Agustus 1912 Booth kembali ke pangkuan Bapa di surga dengan sukacita dalam usia 83 tahun.

Akhirnya apa yang bisa kita pelajari dari kisah kehidupan dan pelayanan Booth juga isterinya adalah bagaimana semangat melayani Tuhan, memberitakan Injil dengan gigih bagi orang yang terabaikan. Jadilah pemberita Injil yang menyukakan hati Allah. Pdt. Netsen/dbs.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top