MENGALAMI KEPUASAN DALAM TUHAN

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Sat, 21 January 2017 - 10:15 | Dilihat : 133
gambar-sapaan-2.jpg

Mazmur 42:1-12, memberitahukan bahwa kerinduan kepada Tuhan seharusnyalah menjadi bagian dari setiap orang yang percaya. Entah apa pun kondisi hidupnya, baik di saat bergelimang harta atau dalam hidup yang berjaya maupun dalam kondisi yang tidak menyenangkan, dalam himpitan hidup. Sebab rindu kepada Allah tidak ditentukan dengan suatu keadaan yang sedang terjadi namun harusnya menjadi rindu yang mengalir secara alami sama seperti rusa yang memerlukan air. Tak ada orang yang bisa membendung tentang datangnya rindu dijiwa seseorang. Dan Allah menjadi tempat rindu yang selalu ‘dikejar’ oleh orang percaya.  Kebergantungan kita kepada-Nya, bagaikan kerinduan seekor rusa yang sangat haus dan memerlukan air. Sesungguhnya melalui ungkapan itu pemazmur membawa kita pada pemahaman bahwa tanpa Allah kita tidak berdaya, kita tidak memiliki kekuatan untuk menjalani hari-hari sebagai orang percaya.  Hal itu tentu tidak hanya berbicara tentang kekuatan jasmani karena kita bukan hanya butuh makan dan minum saja, tetapi lebih dari itu maka ini berbicara tentang kekuatan rohani, di mana seseorang menyadari betul bahwa tanpa Allah mereka nothing adanya. Kebergantungan dan kerinduan bahkan pengejaran akan Allah mau tidak mau menjadi tujuan yang menggairahkan. Di dalam kehausan yang begitu dalam, maka satu hal yang amat sangat dirindukan, yaitu perjumpaan dengan Allah (ay.3). Hal ini sebetulnya memberitahukan kepada kita tentang suatu kebenaran bahwa Allah sendirilah yang harusnya menjadi sentral keinginan dan kerinduan kita sebagai orang percaya. Perjumpaan - bertatap muka dan melihat Allah harusnya menjadi gairah dan sukacita kita. Kerinduan untuk melihat-Nya bukan sekedar ungkapan bahasa yang indah semata, namun disana ada ungkapan yang lebih dalam, yaitu bahwa Allahlah yang membuat jiwa kita terpanggil, yang membuat jiwa kita rindu, yang membuat kita menangis, gelisah, gundah gulana, tertekan, dalam menapaki hidup keberimanan. Ketika Allah yang menjadi sentral dalam pergumulan iman kita, maka Allahlah sebetulnya menjadi sentral pengharapan kita.

 

Ketika seseorang menjadikan Allah sebagai sentral dari pengharapannya maka sejatinya disanalah letak dari kepuasan sejati dari kehidupan orang percaya. Di dalam kepuasaan itu seseorang bukan hanya disadarkan tentang betapa luar biasanya Allah yang ia percaya namun ia pun belajar untuk bersyukur atas pertolongan-Nya ajaib dalam hidupnya.  Sejatinya Tuhan tidak pernah memberikan janji bahwa setiap orang yang mengikut-Nya pasti tidak ada persoalan, kegentaran dan keputusasaan, namun Ia berjanji bahwa orang yang berjalan bersama-Nya akan mengalami penyertaan-Nya walau dalam bahaya. Sebab sebetulnya Tuhan mengarahkan kasih setia-Nya kepada setiap mereka yang percaya agar mereka boleh menaikan syukur kepada-Nya. Sebetulnya, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa bahwa Allah melupakan dan meninggalkan kita dalam badai yang besar sekalipun karena sejatinya Ia tak pernah melupakan dan meninggalkan kita.  Karena pada akhirnya, pada ujung perjalanan kehidupan kita menemukan diri kita aman dalam tangan Tuhan. Menemukan Allah diawal perjalanan kehidupan adalah sesuatu yang sangat menyukakan namum yang tak kalah menyenangkan lagi ketika kita tetap menemukan-Nya di sepanjang perjalanan hidup kita bahkan sampai akhir hidup kita. Sebab itu, tetap percayakan hidup dalam pimpinan-Nya dan layani Dia dengan sukacita. GI. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top