DIANUGERAHKAN MENURUT KEHENDAK ALLAH

Penulis : Pdt Netsen | Fri, 10 February 2017 - 16:00 | Dilihat : 260
gambar-mengenal-alkitab-9.jpg

Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (Efesus 4:7)

 

Dalam banyak aspek manusia selalu membandingkan diri dengan orang lain. Sejujurnya, manusia tidak pernah merasa cukup dan puas dengan apa yang mereka miliki. Selalu ingin sesuatu yang lebih. Termasuk dalam hal memahami kasih Allah. Manusia berusaha untuk mengukur pemberian Allah pada dirinya dan membandingkan dengan apa yang Allah berikan pada orang lain. Alkitab memberikan beberapa contoh tentang sikap manusia yang tidak puas dengan kasih dan kedaulatan Allah, misalnya kisah tentang Kain dan Habel, kisah tentang Esau dan Yakub, kisah tentang anak sulung dan anak bungsu serta perumpaan tentang talenta. Mengapa demikian? Sikap serakah dan ego manusia berdosa yang selalu ingin diri lebih utama dari pada yang lain yang membuat manusia melihat dan menilai diri kurang dari orang lain.

Manusia berusaha mengukur kasih Allah pada diri dengan ukuran kuantiti. Ukuran ini sangat berbahaya, karena ukuran kasih karuia Allah pada manusia bukan terletak pada kaya atau miskin, bukan pada sehat atau sakit, melainkan pada kedaulatan kehendakNya. Allah berfirman kepada Musa, Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang yang Kukasihani (Kel. 33:19). Dalam kitab Roma, Rasul Paulus menegaskan, ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah (Rm. 9:15-16). Karena itu, siapakah manusia sehingga ia dapat mengukur kasih Allah bagi dirinya. Siapakah manusia sehingga sanggup mengukur kasih karunia Allah yang limpah.

Kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang yang telah dipanggil oleh Allah. dimana mereka telah dipanggil dalam satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan, maka Paulus mengingatkan mereka bahwa kasih karunia Allah bagi tiap-tiap anggota tubuhnya adalah berbeda-beda. Walau mereka sama-sama dipanggil oleh Allah untuk ercaya kepadaNya, walau mereka sama-sama beriman kepada Yesus Kristus, namun dalam hal dimana Allah memprlengkapi tiap-tiap jemaat sebagai tubuh Kristus adalah berbeda-beda.

Sebagai Kepala Jemaat, Allah sangat mengetahui apa yang menjadi keperluan bagi gereja sebagai Tubuh Kristus. Dalam memperlengkapi tiap-tiap orang percaya, Allah sangat mengetahui orang-orang kepunyaanNya. Dan dalam memberikan kasih karunia kepada orang-orang percaya, Dia memberikan berdasarkan kerelaan kehendakNya. Bukan berdasarkan ukuran kehendak manusia melainkan berdasarkan ukuran Allah, yaitu kasih karuniaNya. Karena itu yang terpenting dalam memahami hal kasih karunia Allah adalah bukan berapa banyak yang Allah percayakan, bukan seberapa besar yang Dia berikan. Tetapi sejauhmana sikap hati manusia bersyukur kepada Allah. Bagaimana tiap-tiap orang yang telah diberikan kasih karunia tersebut mempergunakannya dengan bertanggung jawab kepada Allah. Memakainya untuk memuliakan Allah dan melayaniNya. Sehinggia ketika kita diberi kasih karunia oleh Allah untuk sesuatu, kita tidak perlu menjadi sombong. Tapi sebaliknya hal tersebut seharsnya mejadikan kita sebagai orang yang merendahkan diri di hdapan Allah dan berkata kepadaNya aku ini hanyalah hamba yang hanya melakukan apa yang menjadi kehendak-Mu. Jadilah padaku seturut kehendak-Mu. Pdt. Netsen

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top