Carl Linneaus (Ilmuan Yang Hidup Takut Akan Tuhan)

Author : Pdt Netsen | Sat, 18 March 2017 - 16:07 | View : 67
gambar-tokoh-11.jpg

Carl Linnaeus lahir pada tanggal 23 Mei 1707 di kota Rashult, Swedia Selatan. Putra sulung dari lima bersaudara ini adalah anak pendeta Nils Linnaeus yang melayani di gereja Lutheran di Rashult dan kemudian pindah ke kota Stenbrohult karena Nils harus menggantikan ayah mertuanya sebagai pendeta. Carl dibesarkan dalam keluarga kristiani yang saleh dan mengharapkan agar kelak ia juga menjadi pendeta. Akan tetapi, Carl lebih berminat untuk mempelajari tanaman dan binatang. Kebun botaninya di Stenbrohult menjadi tempat "yang membakar jiwa dengan rasa cinta yang demikian mendalam kepada tanaman."

Pada tahun 1716, Carl bersekolah di Vaxjo dan mempelajari fisiologi dan botani. Selanjutnya, pada tahun 1727, Carl melanjutkan pendidikan di Universitas Lund, Swedia Selatan untuk mempelajari ilmu kedokteran dan ilmu alam. Namun karena kualitas pengajaran di universitas tersebut kurang baik maka pada tahun berikutnya ia pindah ke Universitas Uppsala. Pengetahuannya tentang seksualitas tanaman terus bertambah, dan pada tahun 1730 dia diangkat menjadi pengajar botani di universitas tersebut. Pada tahun 1732, pria yang juga dipercaya untuk memberi kuliah geologi di Universitas Uppsala itu melakukan ekspedisi selama 5 bulan ke Lapland untuk menyelidiki tanaman dan hewan di daerah tersebut. Dalam tulisannya tentang pengalamannya di Lapland, Carl memuji Allah sebagai "Pencipta Yang Mahakuasa dan Pemelihara segala sesuatu".

Pada tahun 1735, Carl menempuh ujian kedokterannya di Harderwijk, Belanda. Selanjutnya, dia pergi ke Jerman, Inggris, dan Perancis untuk menyelidiki tanaman dan hewan. Dia kembali ke Swedia pada tahun 1738 dan mulai berpraktik sebagai dokter. Salah satu keberhasilannya yang terbesar di bidang kedokteran adalah suatu cara untuk menanggulangi penyakit kelamin. Carl juga menjadi pelopor dalam bidang kebersihan. "Perlunya peningkatan kebersihan, baik di rumah tangga maupun di tempat-tempat umum dan pengaruhnya bagi kesehatan masyarakat, bahaya penularan tuberkulosis, dan infeksi yang dibawa oleh pakaian, merupakan pokok bahasan yang gencar dikampanyekannya."

Carl tak hanya memberikan kontribusi dalam dunia kesehatan. Dibidang botani dan zoology, Carl pun memberikan sumbangsih besar berupa sistem penggolongan, penamaan tanaman, dan hewan. Carl memulai penggolongannya dengan "sistem percabangan", yaitu dengan membagi dunia tanaman dan hewan menjadi kelompok besar yang disebut kelas. Setiap kelas bercabang menjadi subdivisi yang disebut ordo. Ordo bercabang lagi menjadi genus dan genus bercabang menjadi spesies. Carl lah seorang ahli "yang pertama kali memakai lambang untuk jantan dan untuk betina". Meskipun sebelumnya tidak ada skema yang komprehensif dan menyeluruh untuk menggolongkan organisme hidup, Carl mampu menciptakan skema baru berdasarkan karya orang lain dalam bidang tertentu. Misalnya untuk penggolongan burung, dia mencontoh model yang dipublikasikan oleh seorang Inggris bernama John Ray, seorang pendeta dan ahli biologi amatir, juga orang Kristen yang taat seperti Carl yang melihat kearifan Tuhan dalam merancang alam semesta.

Sebagai seorang ilmuan tersohor, Carl seorang yang mengakui dan percaya akan karya Allah yang agung dalam penciptaan. Ia sangat yakin bahwa hewan dan tanaman diciptakan menurut jenisnya masing-masing. Carl sangat berpegang pada apa yang dinyatakan oleh Alkitab.  Ia dengan tegas menolak gagasan evolusi yang menyatakan bahwa secara bertahap binatang bisa berubah dari satu jenis menjadi jenis lain, karena itu bagian dari suatu kontinum. "Carl sendiri dengan tegas menentang seluruh pemikiran evolusi dan bersikeras bahwa setiap jenis diciptakan secara terpisah pada mulanya, dan tidak pernah lagi muncul spesies baru sejak penciptaan." Penelitian mendalam yang dilakukan Carl terhadap hewan-hewan hidup tidak menampakkan adanya bentuk transisi; hewan yang sedang dalam proses perubahan dari satu jenis menjadi jenis lain. Begitu pula dengan penelitiannya terhadap tanaman hibrida, Linnaeus mampu menyusun kembali atau menonjolkan ciri-ciri tertentu dari tanaman yang ada. Semua eksperimen ini semakin menguatkan keyakinannya mengenai kestabilan semua spesies yang sudah ada.

Pada tahun 1739, pria yang dikenal sebagai ilmuwan, penulis, penyair, dan pemikir terbesar Swedia ini menikah dengan Sara Lisa Moraeus, putri seorang dokter kaya. Pasangan ini memunyai empat orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki, namun salah seorang anaknya meninggal waktu kecil. Pada tahun 1758, keluarga Carl pindah ke Hammarby, di luar kota Uppsala. Mereka tinggal suatu pinggiran kota yang alamnya indah. Namun, dalam hidupnya, Carl tetap memuji Allah, Sang Pencipta, bukan ciptaan-Nya. Dia menulis: "Mari... jangan mengabaikan karya Allah, melainkan melalui karya itu kita memuja Sang Pencipta!" Dan diakhir hidupnya, Carl menderita cacat karena stroke selama empat tahun lalu meninggal pada tanggal 10 Januari 1778 dan dimakamkan di Katedral Uppsala dengan upacara kenegaraan. Raja Swedia Gustav III menggambarkan Linnaeus sebagai "warga negara yang setia yang mendatangkan kehormatan bagi negerinya dan juga seorang yang terkenal di seluruh dunia".

Dari kisah perjalanan dan perjuangan kehidupan Carl Linneaus ini, kita dapat mempelajari bahwa segala sesuatu yang Tuhan ciptakan dan keahlian dalam bidang apa pun seharusnya membawa manusia untuk kagum dan memuliakan nama Tuhan. Tidak ada yang bisa menggeser Allah dari pusat penyembahan mereka yang hidup dalam takut akan Dia. Netsen/dbs

 

Baca Juga

jQuery Slider

Komentar

Top