MENJAGA KEKUDUSAN HIDUP

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 9 May 2017 - 16:27 | Dilihat : 151
gambar-sapaan-gembala-5.jpg

Perintah untuk menjaga kekudusan hidup adalah perintah Allah kepada umat yang dikasihi atau diperkenanNya. Mengapa? Sebab Allah yang mengasihi dan memperkenankan manusia berdosa untuk menjadi umatNya adalah Allah yang kudus (Im. 19:2; 1 Pet. 1:16). Allah yang kuduslah yang menguduskan umat-Nya, sehingga manusia yang berdosa dapat menjadi kudus. Manusia berdosa dapat menjadi kudus hanya bila statusnya telah dikuduskan oleh Allah. Kekudusan tidak mungkin terlaksana dan menjadi bagian dari hidup manusia jikalau bukan karena karya atau perbuatan Allah.

Sebagai umat yang merepresentasikan akan kehadiran Allah bagi bangsa lain, maka Ia ingin umatNya hidup dalam kekudusan. Kekudusan hidup merupakan pembedaan antara mereka yang adalah umat Allah dengan mereka yang bukan umat-Nya. Untuk membedakan mana pengikut Tuhan dan yang bukan pengikut Tuhan. Karena Allah telah menguduskan, maka umat harus menjaga kekudusan dalam seluruh aspek hidup. Dalam bahasa Rasul Paulus, orang percaya dituntut untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Jadi dengan hidup kudus maka umat Allah berbeda dengan orang yang bukan umat Allah.

Hidup menjaga kekudusan tidak pernah mudah. Jaman dahulu saja masalah kekudusan sudah menjadi hal sulit dilakukan oleh manusia, terlebih hari-hari ini dimana ada begitu banyak media yang menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan dengan begitu mudahnya. Jika dahulu orang harus mengeluarkan biaya besar untuk memperolehnya, hari ini semua tersedia dengan sangat murah atau bahkan gratis. Menjaga kekudusan semakin lama semakin dianggap kuno oleh manusia.

Orang tidak lagi kagum akan orang-orang yang hidup mempertahankan kekudusan, tetapi malah menertawakan dan menganggap mereka bodoh atau kurang gaul. Dunia terus menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan kita dalam berbagai bentuk yang biasanya membawa kenikmatan bagi daging kita tetapi sangatlah mematikan bagi perjalanan hidup kita. Sementara orang mau enaknya saja, mereka ingin tetap bisa diberkati dan mendapatkan limpahan dari Tuhan sepanjang hidupnya namun menolak untuk menjaga kekudusan. Apakah itu mengenai sesuatu yang berhubungan dengan nafsu, atau tidak menjaga mulut untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, umpatan, cacian, gosip atau makian, semua itu siap mencemarkan hidup kita dan karenanya kita pun bisa luput dari perbuatan-perbuatan ajaib yang berasal dari Tuhan. Terang dan gelap tidak akan pernah bisa bersatu. Mengharap berkat Tuhan tanpa menjaga kekudusan tidaklah mungkin.

Ketika bangsa Israel dipimpin oleh Yosua kita bisa melihat sebuah pesan penting yang ia sampaikan kepada bangsa yang dipimpinnya. “Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” (Yos. 3:5). Ingin melihat kuasa Tuhan yang ajaib? Kunci utamanya adalah dengan menjaga hidup dalam kekudusan. Dalam bahasa penulis Ibrani, “…kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14).

Segala ketidak kudusan yang lakukan oleh umat-Nya akan menjauhkan atau memisahkan mereka dari Tuhan. Sesuatu yang tidak kudus tidak akan pernah bisa bersatu dengan Tuhan yang kudus. Berpegang pada FirmanNya dan menghidupi FirmanNya secara nyata, itu akan membawa kita kepada sebuah kehidupan yang kudus yang berkenan bagiNya (Ul. 28:9).

Paulus mengatakan “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24). Kita tidak akan bisa kudus apabila kita terus tunduk pada kedagingan kita yang akan selalu mengejar hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang salah. Lebih lanjut Paulus mengatakan: “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa.“ (Kolose 2:11). Kita perlu menanggalkan tubuh yang berdosa ini, menyalibkan segala kedagingan yang menghambat kita untuk kudus untuk bisa berelasi dengan Tuhan. Tetap memelihara dosa-dosa dan terus melakukan pelanggaran akan membawa kecemaran kepada diri kita. Sebuah anugerah menjadi ciptaan baru yang dianugerahkan Tuhan dengan menerima Kristus akan menjadi sia-sia jika kita tetap.

Menjaga kekudusan multak harus menjadi bagian dari hidup orang percaya. Itu adalah panggilan hidup mereka. Hanya orang yang hidup dalam anugerah Allah yang limpah dan diberi kemampuan untuk menyadari akan anugerah itulah yang mampu menjaga kekudusan hidup dalam dunia yang telah tercemar oleh dosa. Teruslah menjaga kekudusan hidup dimanapun Tuhan hadirkan kita. Amin- Pdt. Netsen

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top