Martin Bucer: Pentingnya Dialog Dalam Rekonsilisasi Relasi Antar Gereja

Penulis : Pdt Netsen | Fri, 19 May 2017 - 11:49 | Dilihat : 116
gambar-tokoh-14.jpg

Martin Bucer lahir pada tahun 1491. Ketika ia berumur 16 tahun, Bucer telah menyelesaikan studi Latin dan masuk ke dalam  salah satu institusi religius gereja Katolik, sebagai seorang calon biarawan, yaitu Dominican Order. Dalam beberapa tahun, ia diangkat menjadi asisten, diaken, dan akhirnya menjadi seorang pastor. Pada masa-masa inilah Bucer terpengaruh oleh tradisi skolastik Abad Pertengahan yang sangat menekankan rasio dan argumentasi dalam theologi. Tradisi skolastik adalah tradisi yang berusaha menggabungkan pemikiran Kristen dan pemikiran filsuf Gerika Aristoteles (384-322 BC). Tokoh yang paling penting mengukuhkan tradisi ini adalah Thomas Aquinas, yang dapat dikatakan karya-karyanya menjadi dasar dari Theologi Roma Katolik pada zaman itu.

Selain itu, Bucer juga terpengaruh oleh pemikiran Humanisme Kristen dari Desiderius Erasmus (1466–1536). Humanisme Kristen yang dimaksud sangatlah berbeda dari Humanisme Sekuler yang marak pada zaman ini. Humanisme Kristen adalah kepercayaan bahwa martabat, kebebasan manusia itu berasal dari Tuhan; manusia adalah peta dan teladan Allah, maka perlulah kita menghargai setiap manusia sebagaimana selayaknya. Dengan prinsip ini, maka Humanisme Kristen lebih cenderung menekankan pendidikan Alkitab untuk semua orang agar gereja dapat menjadi lebih baik. Humanisme Kristen juga kemudian sempat memengaruhi John Calvin. Konsep mendidik semua orang tentang firman Tuhan akhirnya mengakibatkan banyaknya upaya untuk menerjemahkan Alkitab dari Latin ke dalam bahasa-bahasa lain yang dimengerti oleh orang awam.

Pada tahun 1518 di Heidelberg, ketika ia berusia 27 tahun, Bucer bertemu dengan Martin Luther dan mendengarkan ceramahnya tentang 95 tesis. Dia sangat terpengaruh oleh ceramah ini dan menyetujui ide-ide Luther. Ia pun mulai mengubah banyak pemikirannya dan akhirnya dalam disputasi theologi di hadapan fakultas sekolahnya ia memaparkan perpisahannya dengan pemikiran skolastik Abad Pertengahan. Karena perubahan ini, beberapa tahun kemudian ia diekskomunikasi oleh gereja karena terlalu banyak reaksi dari publik di kota di mana ia melayani. Setelah diekskomunikasi, dia pergi ke Strasbourg dan menetap di sana, kota di mana kelak ia bertemu dan melayani bersama John Calvin. Bucer dapat disebut sebagai salah satu bapa dari Calvinisme karena pengaruhnya yang besar kepada Calvin. Ia juga sangat memengaruhi karya Calvin “Institutes of Christian Religion”. Selain itu, Bucer juga turut andil dalam usaha merekonsiliasi perbedaan pandangan Luther dan Zwingli tentang sakramen Perjamuan Kudus.

Dalam kehidupan pelayanannya, ia sangat mementingkan aspek penggembalaan dan juga mengembangkan pembelajaran Alkitab dalam kelompok-kelompok kecil. Meskipun dia berkhotbah mengkritik praktik-praktik gereja Roma Katolik, sebenarnya Bucer tidak suka keterpisahan gereja. Kebanyakan dari pekerjaan di hidupnya pada akhirnya sering menyangkut rekonsiliasi, baik antara Protestan dan Roma Katolik, atau bahkan antara cabang-cabang pemikiran di dalam gerakan Protestan sendiri. Dia sangat merindukan kesatuan gereja dalam firman yang benar. Tetapi ini mengakibatkan ia sering disalah mengerti karena dipandang terlalu berkompromi.

Bucer yang senantiasa membuka dialog dan rekonsiliasi telah mendorong majunya Gerakan Reformasi yang berkembang dan meluas. Kemampuannya merendahkan dirinya dalam mendengarkan pihak-pihak terkait dengan jujur, terbuka, serta konstruktif telah membuka dialog-dialog yang memungkinkan rekonsiliasi yang juga dapat dimengerti sebagai perkembangan dari Gerakan Reformasi pada masa itu. Semangat membawa setiap pihak untuk lebih mengenal Tuhan serta lebih lagi setia kepada firman Tuhan merupakan ciri Reformasi dalam diri Bucer.

Di tahun-tahun terakhir kehidupannya, Bucer harus pergi ke Inggris karena pengaruh konflik dari perang dan juga berbagai serangan terhadap ide-idenya. Di sana ia bergerak dengan Reformasi Inggris, dan tetap bekerja meskipun ia sering sakit keras. Kelemahan badan Bucer akhirnya mengakibatkan kematiannya, ia dikuburkan di Cambridge pada tahun 1551. (pdt. netsen/dbs)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top