Ekspresi Hidup Orang Percaya

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Tue, 6 June 2017 - 11:38 | Dilihat : 42
gambar-mengenal-alkitab-20.jpg

Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Efesus 4:28-29

Ekspresi hidup orang yang mengenal Allah sangat kontras dengan mereka yang masih terikat dengan dosa.  Tak sekedar aktivitas yang baru dijalani namun arah dan buah yang baru terjadi di dalam diri.  Kata kunci bagi mereka yang percaya pada Tuhan adalah menghasilkan buah sesuai dengan pertobatannya.  Bertobat artinya mengarahkan diri kepada kehidupan yang baru sesuai dengan ketetapan dan kehendak Kristus.  Sebab aku yang bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalamku.  Gairah menapaki langkah seperti keinginan Kristus mempukan seseorang untuk mengambil keputusan yang bijak dan benar.  Itu sebab dalam suratnya ini, khusus pada ayat di atas Paulus menekankan tentang sikap hidup yang baru seiring dengan pertobatan seseorang.  Yang mencuri jangan mencuri lagi, tetapi harus bekerja keras, melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri tetapi menarik bahwa dia bekerja keras bukan hanya agar bisa makan dan minum atau tidak mencuri lagi tetapi agar dapat memberikan sesuatu kepada orang yang kekurangan.  Dalam hal ini ada suatu kualitas hidup yang dibangun oleh Paulus dalam pengajarannya bahwa dia bukan hanya sekedar aktif melakukan sesuatu yang baik tetapi aktif menghidupi sesuatu yang benar dalam keseharian.  Dengan demikian seseorang bukan hanya tidak merugikan orang lain namun melakukan sesuatu yang menguntungkan orang lain.  Dan inilah mestinya menjadi ekspresi hidup orang percaya.

Nada yang hampir sama digemakannya dalam ayat berikutnya bahwa seseorang percaya dilarang mengeluarkan perkataan yang tidak senonoh dari mulutnya, namun seseorang harus menggunakan perkataan yang baik yang membangun, di mana pun, tujuannya bukan supaya orang senang atau tidak menjadi marah namun agar mereka beroleh kasih karunia. Dalam versi bahasa Indonesia sehari-hari diterjemahkan, ”Kalau kalian berbicara, janganlah memakai kata-kata yang kotor. Pakai sajalah kata-kata yang membina dan memberi pertolongan kepada orang lain. Kata-kata seperti itu akan mendatangkan kebaikan kepada orang-orang yang mendengarnya.”  Gunakanlah kata-kata yang mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan.  Perkataan yang mendatangkan berkat bagi yang mendengarkan sehingga seseorang bisa merasakan anugerah Tuhan dalam dirinya.  Artinya perkataan orang percaya harus membangun, menguatkan dan menegur kesalahan dengan penuh cinta kasih.  Karena itu baiklah seseorang yang berbicara jangan asal berbicara namun memikirkannya dengan sungguh-sungguh.  Berbicara dengan penuh kontrol dan bijaksana.  Jangan sampai perkataan yang kita keluarkan justru menjadi penyebab rusaknya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita.  Kerusakan hubungan biasanya sering terjadi akibat perkataan-perkataan yang menyakitkan yang kita lontarkan kepada sesama kita.  Akibatnya pertengkaran, pertikaian dan perpecahan hebat yang terjadi.  Orang percaya harus hadir menciptakan suasana damai, kesejukan dan kelembutan dengan perkataan yang memuliakan TuhanPdt. Stephen Tong waktu berkata, “Ketika engkau berdiri di mimbar maka yang harus engkau pikirkan adalah bagaimana supaya jemaat dapat bertemu dengan Tuhan dan bagaimana Tuhan dapat berbicara kepada jemaat.” Itu artinya harusnya saat perkataan itu keluar dari mulut seorang percaya maka perkataan itu harus menjadi penyebab mengalirnya relasi cinta kasih antara manusia dan sesamanya kemudian melalui relasi itu manusia bisa mengagungkan sang pencipta. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top