Kekayaan Di Dalam Sorga

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Tue, 6 June 2017 - 11:50 | Dilihat : 39
Tags : Kekayaan Sorga
gambar-sapaan-gembala-7.jpg

Membaca surat Efesus, dengan segera menghantar kita pada detak jantung Paulus yang dulunya bernama Saulus yang menemukan inti dari iman Kristen yang berdasarkan pada pemahaman iman yang utuh setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan di perjalanan menuju Damsyik.  Pengenalannya terhadap Tuhan bukan sekedar pada wilayah pikiran namun masuk dalam pengalaman spiritualitas yang memang teralami di dalam diri.  Itu sebab kalau Paulus menyatakan diri sebagai rasul karena kehendak Allah, itu adalah sesuatu yang benar adanya.  Paulus dalam hidupnya bukan hanya menemukan doktrin yang benar dan cara melayani Tuhan dengan benar namun pada titik yang terpenting maka ia “menemukan” Tuhan yang benar itu. 

Di dalam pemahaman yang terdahulu, ia memahami Tuhan yang salah sehingga ia melayani dengan cara memburu bahkan membinasakan orang-orang yang percaya kepada Yesus.  Namun ternyata yang benar adalah Tuhan yang dipercaya oleh orang Kristen itu.  Karena itulah, Paulus seakan mengubah haluannya menjadi bertolak belakang dengan pemahaman dan semangatnya yang dahulu.  Pada bagian ini maka kita memahami bahwa iman Kristen bukanlah pertobatan yang setengah-setengah tetapi perubahan yang menabrak atau melawan arus sedemikian rupa dengan segala resiko yang harus ditanggung.  Yang tadinya melawan mati-matian orang Kristen tetapi kini menghidupi mati-matian iman Kristen.  Yang tadinya begitu bersemangat untuk diri kini bersemangat untuk pekerjaan ilahi.  Yang tadinya begitu bersemangat mendulang kekayaan dunia, kini bersemangat mendulang kekayaan sorga.   Sehingga dengan hati yang terangkat ia berkata terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.  Suatu pujian yang diangkat begitu tinggi untuk keangungan Tuhan.  Hal ini menjadi gema dalam jiwa, pikiran dan perasaan bahwa tidak ada yang boleh diagungkan selain daripada Dia yang bersemayam di dalam sorga.  Segala lidah, segala mata dan segala perbuatan harus tertuju padanya. Dalam hal ini kita mengenal secara langsung jiwa Paulus yang baru, penuh dengan gairah dan semangat untuk Dia. Mengapa demikian?  Karena di dalam Dia, ia telah menerima segala berkat rohani di dalam sorga.  Berkat dunia ini penting tetapi berkat sorga lebih mulia sebab Allahlah kunci dan sumber berkat sejati. Tanpa Dia segala yang menarik, indah dan mulia di dalam dunia menjadi nothing.

Paulus telah meletakkan kekayaan di dalam sorga itu ditangannya.   Ia tak ingin memilikinya seorang diri, namun ia ingin menyingkapkan tentang kekayaan itu kepada orang-orang pilihan.  Namun yang harus kita pahami baik-baik adalah bahwa kekayaan di dalam sorga itu tidak sama dengan berkat-berkat yang para pengkhotbah yang sering tebar di dalam mimbar gereja. Mereka memaknai berkata rohani seperti materi yang berlimpah ruah (miskin menjadi kaya), sakit menjadi sembuh, dulu zero kini menjadi hero.  Sebab berkat rohani yang Paulus terima adalah ia bisa mengenal Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus, ia bisa dipilih Allah sebelum dunia dijadikan, ia memperoleh penebusan, ia diberikan hikmat dan pengertian karena rahasia Allah dihanyatakan, ia melihat bahwa Yesus sebagai kepala dari segala sesuatu, ia merasakan dan melihat bahwa keselamatan itu pasti dan diteguhkan oleh Roh Kudus.  Karena itu tahulah kita bahwa berita yang disampaikan oleh rasul Paulus adalah berita yang tidak lepas dari anugerah keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia yang berdosa.  Itu sebab setiap manusia yang berdosa diperdengarkan tentang seruan pertobatan agar manusia boleh menikmati berita injil secara utuh dan penuh.  Namun sayang berita dari mimbar sering kali berita yang penuh dengan canda tawa, kisah-kisah motivasi, janji-janji surga yang tak tahu arahnya kemana.  Tetapi berita Injil menjadi berita yang kaya dan membawa orang untuk melihat kekayaan berkat di dalam sorga itu.  Tak ada yang lebih indah daripada surga.  Bukan karena di sana penuh dengan emas atau permata.  Tetapi karena di sana ada sang pencipta yang membuka tangan-Nya.  Dan engkau menikmati persekutuan yang indah dengan Dia selama-lamanya. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top