PENTINGNYA DOA PENGAKUAN DOSA

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 16 June 2017 - 12:44 | Dilihat : 23
gambar-sapaan-10.jpg

Setiap kali kita beribadah, maka dalam liturgi Gereja Reformasi Indonesia ada saat dimana Jemaat diajak dan sekaligus diberi kesempatan untuk mengaku dosa secara pribadi di hadapan Tuhan.  Bagi yang tidak memahami makna dibalik pentingnya pengakuan dosa tersebut bisa saja menyalahartikan dan bisa juga menjadikan hal tersebut sebagai suatu ritual rutinitas keagamaan. Padahal kalau mau kita gali mendalam berdasarkan prinsip Alkitab maka kita dimampukan untuk meresapi dan memaknai serta merefleksikan itu dengan pemahaman yang benar sehingga doa pengakuan dosa yang kita panjatkan tidak dilakukan dengan sikap hati yang kering.

Pada bagian ini maka saya ingin mengajak kita untuk melihat Mazmur 51:1-21, yang setidaknya bisa mencerahkan dan memampukan kita untuk melakukan pengakuan dosa secara benar.  Dan saya selalu kagum dengan para pendahulu kita yang tetap menghampiri Allah di dalam ketidaklayakan mereka sebagai orang yang telah melakukan dosa dihadapannya.  Daud memperlihatkan suatu doa yang  menunjukkan perasaannya sebagai orang yang telah berdosa, yaitu:

Ia sadar bahwa, ia telah berdosa.  Di dalam kesadarannya sebagai seorang yang berdosa maka ia datang kepada Allah dan memohon belas kasihan-Nya agar menghapuskan pelanggarannya, membersihkan, mentahirkan karena kepada-Nya, ia telah berdosa dan melakukan sesuatu yang jahat dimata Tuhan.  Dia datang kepada Tuhan bukan untuk membela diri dan bukan juga meminta agar Tuhan segera melupakan kesalahannya, namun ia datang agar Allah yang adil, bertindak dalam keadilan-Nya sehingga Ia memutuskan seturut dengan keputusan-Nya itu.  Ia juga tidak meminta agar Tuhan tidak menghukum-Nya, namun ia dengan rela membiarkan Tuhan melaksanakan suatu penghukuman terhadap dirinya sebagai suatu konsekuensi dari apa yang dia telah lakukan di hadapan-Nya.  Belas kasihan Tuhan dan kemurahan hati-Nya yang diminta karena sesungguhnya keberdosaan yang menjalar di dalam dirinya adalah suatu akibat dari ketidaktaatan yang dilakukan manusia dan hal itu berjalan terus menerus di sepanjang sejarah umat manusia yang lahir dari keturunan Adam dan wanita.  Perkenanan Tuhan sangat di harapkan dan agar Ia berkenan memberitahukan hikmat kepada mereka yang berdosa untuk melakukan kebenaran sehingga di dalam batin mereka ada suatu kerinduan yang penuh berjalan dalam kebenaran-Nya (ay.3-8).

Ia meminta agar Tuhan memperbaharui dirinya dengan roh yang teguh! Tanpa suatu pembaharuan maka tidak akan ada perubahan yang signifikan terjadi.  Pembarahui melingkupi berbagai aspek, yaitu budi, roh dan jiwa.  Namun suatu kesadaran yang dalam bahwa ternyata ada suatu pembaharuan yang terlalu penting bagi Daud, yakni roh sebab hal itu berkenaan dengan spiritual yang berkaitan langsung dengan hubungan-Nya kepada Allah.  Saat hubungan tersebut terputus maka itu sama saja dengan kita telah terbuang dari hadapan-Nya. Itu sebab Daud tahu persis bila Ia mengambil roh-Nya itu maka ia akan mati secara rohani. Suatu kerinduan yang dalam dari seorang berdosa bukan hanya agar ia bersih karena telah dibasuh oleh darah-Nya dan sekedar mendapatkan pengampunan dari kesalahan namun bagaimana sikap yang baru agar tulang-tulang yang remuk dan hati yang sedih bersukacita dan mengalami kegirangan.  Namun agar Allah memperbaharui diri-Nya, tidak dibuang, sebaliknya meminta diterima oleh-Nya dengan rela dan sukacita dan itu hanya akan terjadi bila roh-Nya yang kudus tetap dianugerahkan.  Melaluinya ia ingin mengajarkan tentang jalan Tuhan kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran agar berbalik kepada Tuhan.  Dan inilah pembaharuan yang terjadi bahwa ia tidak sekedar menyesal, diperbaharui namun mengarahkan orang lain agar berbalik kepada Tuhan (ay.9-15). 

Ia sadar bahwa Alllah yang ia sembah bukanlah Allah yang memerlukan suatu suap melalui korban sembelihan, korban bakaran atau kebaikan serta ucapan bibir yang manis-manis dan muluk namun Tuhan adalah Allah yang serius bagaikan api yang menghanguskan.  Ia berjalanan dalam keadilan-Nya yang tak tergugat.  Itu sebab darah yang telah ditumpahkan melalui kematian Uria orang Het itu, dituntut Tuhan kepada Daud, dan Daud dalam doanya meminta agar ia dilepaskan dari hutang darah itu.  Dengan sikap yang gentar Daud memohon agar Allah sumber keselamatan itu menunjukkan belas kasihan-Nya.  Mulutnya sulit untuk berucap, memuji Tuhan saja rasanya sulit sebab Allah itu terlalu agung.  Bila Tuhan membuka mulutnya maka ia memuji-muji nama Tuhan karena itu pertanda perkenanan-Nya namun kalau Dia tidak membuka mulut maka sepatah kata pujian pun tidak terucap karena itu berarti Allah tidak berkenan kepada pujian itu.  Buat apa puji-pujian yang keras, syair yang indah-indah karena itu kita tidak boleh sombong dan merasa hebat, karena kalau Tuhan tidak membuka mulut itu sama artinya kita bernyanyi tetapi Dia tidak mendengarkan pujian itu.  Bila itu yang terjadi maka itu suatu hal yang sangat mengerikan. Tuhan juga tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban bakaran dari orang yang tidak diperkenan-Nya.  Siapakah kita sehingga kita merasa layak membawa persembahan itu kepada Tuhan.  Apakah karena engkau kaya?  Apakah karena engkau merasa layak? Apakah engkau orang hebat sehingga Tuhan harus memuliakan engkau? Tidak!  Semua persembahanmu itu hanyalah sampah di mata Tuhan. Apakah Tuhan harus menerima engkau karena engkau orang kaya, orang yang paling banyak memberi dalam gereja, karena engkau paling lama melayani? Tidak!  Saya pikir engkau adalah orang yang paling kasihan, memaksa Tuhan, tetapi ditolak oleh Tuhan.  Sementara mereka yang datang dengan kesederhanaan seperti janda miskin yang memberi persembahannya namun dengan hati yang bersih.  Dengan penuh kerendahan, dengan jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk, merekalah yang diperkenan-Nya. Mereka yang demikian bukanlah mereka yang tidak pernah berdosa, tetapi sikap hati datang pada Tuhan dengan penuh kerendahan dan memohon belas kasihan.  Alkitab berkata meski mereka datang dengan kehinaan tetapi  Allah tidak memandang mereka dengan hina.  Allah merindukan setiap orang yang datang, melayani dan mengaku dosa kepada-Nya dengan sikap hati yang rela sebab kerelaan itulah yang memampukan setiap orang melakukan suatu kebaikan dan mendirikan hidupnya dengan benar dihadapan Tuhan, bagaikan mendirikan tembok-tembok Yerusalem.  Korban yang benar diperkenan oleh Tuhan, itu dinyatakan dengan korban bakaran yang terbakar seluruhnya artinya tidak ada sisa, tidak terbagi dan dengan segenap hati dan itulah yang layak dikorbankan di atas mezbah Tuhan.  Jadi bukan hanya berbicara tentang hidup kita saja tetapi totalitas kehidupan kita dipersembahkan kepada Tuhan dan itulah yang menyenangkan hati-Nya (ay. 16-21). Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top