Kembali Ke Dasar Kasih (Efesus 5:1-2)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Sat, 8 July 2017 - 15:17 | Dilihat : 115
Tags : Efesus 512 Kasih

Kebenaran. Bukan sekadar mengerti dan mengenalnya. Kebenaran bicara bagaimana menghidupinya.  Pertanyaannya, bagaimana caranya?  Kebenaran. Sesuatu yang ada di ranah pengetahuan; di ranah ide; di ranah konsep, lalu harus didaratkan ke dalam tindakan Praktis.  Tidak mudah? Benar. Sangat sulit mempraktikkannya. 

Namun demikian, di akhir pasal sebelumnya (Fil 4), Paulus memberikan langkah konkrit bagaimana menghidupi kebenaran.  Bukan sekadar kalau kebenaran bilang “A”, ya lakukan saja “A”.  Tapi soal sebuah konsep yang mempengaruhi.  Bukan sekadar mematuhi; tapi soal menjadi bagian hidup, itu menghidupi. 

Salah satu cara menghidupi adalah dengan mengenal diri; mengevaluasi dan akhirnya melampaui.  Ini yang disiratkan Paulus tentang menghidupi kebenaran.  Bukan saja tidak melakukan yang kekeliruan yang sudah terevaluasi diri; tapi bertindak kebalikan; tapi tidak berhenti di situ, lalu bertindak melompati kebalikan.  Dari tindakan dosa; menuju tidak dosa; lalu mengubah itu jadi tindakan yang bermanfaat.  “buanglah dusta” bukan sekadar berhenti melakukan, tapi juga “berkata benar” (Fil 4:25); “mencuri”, jadi “Jangan mencuri”, lalu “bekerja keras”, kemudian bisa “membagikan” sesuatu kepada orang (Fil 4:28); .  Dari yang sebelumnya merugikan diubah menjadi bermanfaat. Hal sama juga terjadi dengan kontras lainnya: “perkataan kotor” jadi “perkataan yang baik”, dengan tujuan untuk membangun (Fil 4:28);.

Ini semua merupakan anjuran yang sangat bijak dari seorang Paulus.  Bukan sekadar bertobat, ditandai kebalikan 180 derajat.  Tapi diubah dari tidak bermanfaat menjadi bermanfaat.  Tapi melakukan itu semua tidak seperti membalikkan telapak tangan.  Perlu dorongan dan komitmen dan kesadaran mendalam.  Karena tanpa kesadaran, an-sich sia-sia belaka anjuran nan bijaksana tadi. Dan kesadaran itu lagi-lagi harus dibangun dari prinsip yang benar.  Di pasal inilah kesadaran itu ingin Paulus bangun dan tekankan kembali.  Yakni, Kesadaran tentang apa itu “KASIH” .  Dan bagaimana Kasih itu mempengaruhi hidup orang.

Ada dua tuntutan dan tantangan, sekaligus contoh dan teladan yang Paulus tunjukkan.

  1. jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih (Fil 5:1)
  2. hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu

Dari dua bagian itu Paulus seperti sedang mengingatkan, bahwa:

  1. Tuntutannya bukanlah tuntutan yang mengada-ada
  2. Mengapa dituntut demikian, karena orang sudah terlebih dahulu berikan modal oleh Tuhan

Kasih yang dituntut; Kasih yang dorong untuk diekspresikan; adalah sesuatu yang sudah dirasakan.  Sama seperti seorang anak yang mendapat limpahan kasih di keluarga, lalu dituntut untuk melakukan hal serupa.  Bukan soal tindakan timbal baliknya, tapi soal bagaimana mengaplikasikan apa yang pernah dirasakan.  Tuntutan demikian adalah hal yang sangat wajar.  Tapi menjadi tidak wajar jika kebalikannya.  Anak tidak pernah merasakan bagaimana dikasihi; mendapat kasih yang cukup, lalu dituntut untuk mengasihi.  Alih-alih bisa mengekspresikan, mengenal saja pun tidak.

Begitu juga ketika Paulus mengajak jemaat agar dan hiduplah di dalam kasih.  Maka sesungguhnya jemaat bukan saja bisa memahami bagaimana kasih – teladan sempurna telah ditunjukkan kristus di kayu salib – tapi juga sudah merasakan bagaimana kasih menyentuh hidupnya, seperti apa kasih berdampak terhadap dirinya. 

Dengan kesadaran kembali tentang apa itu “KASIH”, diharapkan orang dapat memahami tindakannya untuk menjadi penurut-penurutnya Allah;  mendasari tindakannya untuk hidup di dalam kasih.  Sebab hidup dalam kasih yang dituntut adalah sangat terkait dengan bagian sebelumnya, yakni soal relasi dengan sesama: 4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Dan relasi diri dengan diri di hadapan Allah di ayat selanjutnya.  Yang sangat terkait dengan bagaimana kita mengasihi diri; menjaga diri; dan hidup dalam kekudusan di hadapan Allah.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top