Akibat Dosa Lidah

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Sat, 5 August 2017 - 17:00 | Dilihat : 83
Tags : Dosa Lidah
gambar-mengenal.jpg

Setiap orang yang memiliki hidup baru patut menghindari KECEMARAN & KESERAKAHAN. Dua hal yang di ayat sebelumnya mendapat perhatian penting.   KECEMARAN: bukan saja bicara tentang tindakan cemar; tapi juga bicara tentang sebuah ketidakmurnian, atau MAKSUD YANG TIDAK MURNI Begitu juga dengan KESERAKAHAN (pleonexia), tidak saja mengarah pada sebuah ketamakan, tapi juga berhubungan dengan arti pemberian yang terasa dipaksakan, seperti dicatat dalam 2Kor 9.5.  Menunjukkan keserakahan orang yang begitu takut kehilangan uangnya.  Untuk itu penting menjaga diri dan menguasai diri agar terhindar dari keduanya.  Menguasai diri agar senantiasa kudus (tidak cemar) dan menjaga diri agar cukup dengan berkat yang Tuhan diri. Dan bukan sebaliknya malah mengikatkan diri pada berkat dengan selalu merasa kurang dengan berkat yang diberi. 

Sementara itu di bagian ini (Ef 5:4), hal yang juga perlu dihindari oleh mereka yang sudah hidup baru adalah menghindari:

  1. Perkataan Kotor (aischrotes)      è tingkah laku yang kotor
  2. Perkataan Kosong (morologia)   è perkataan yang bodoh
  3. Perkataan sembrono (Eutrapelia)

Dari bagian ini kita melihat ada dua sisi penting yang perlu dihindari oleh yang sudah memiliki hidup baru terkait dengan Tingkah Laku (tindakan) maupun ungkapan-ungkapan atau pernyataan-pernyataan yang dilontarkan.  Karena dua hal itu sama-sama mendatangkan dosa, dan berpotensi merusak hidup baru seseorang.  Apalagi terkait dengan perkataan. Dua dari tiga tersebut diatas sering dikategorikan sebagai dosa karena lidah.  Ironisnya dua dosa ini seringkali dilakukan tanpa orang langsung menyadarinya.  Dan akan menyadari apabila berdampak, baik terhadap diri maupun orang.  Mengapa demikian/ Karena perkataan seringkali tidak terkontrol.  Apalagi orang yang kepribadiaanya dikategorikan extrovert, maka berbicara adalah hal yang disukai, mungkin juga keahliaannya.  Semakin banyak bicara, maka kecenderungan atau potensi bersalah (pun berdosa) dalam berkata itu semakin besar.  Lalu mencegah berdosa bagaimana caranya?

Tentu saja tidak mudah mencegah hal itu, tapi bukan berarti tidak mungkin.  Ketertarikan bicara atau menyukai banyak bicara bukan sebuah kesalahan. Yang menjadi masalah adalah jika orang terjatuh karenanya.  Seperti Alkitab katakan, apa yang keluar melalui kata-kata, itu adalah cerminan dalam hati seseorang.  Karena itu menghindarkan diri dari dosa karena lidah bukan saja soal menjaga kata-kata apa yang akan diucapkan, tapi penting menjaga diri, menjaga hati, tempat bersarangnya seluruh sumber kata-kata yang diucapkan.  Dan jika orang sudah dibenarkan Tuhan dan hidupnya diubahkan menjadi hiodup baru; tugas penting yang harus dilakukan adalah menjaga “kebaruan” hidup itu agar tidak tercemar atau kembali lagi kepada model atau pola hidup lama.  Sebab hal itu akan mempengaruhinya.

Alasan lain mengapa penting menjaga diri untuk tidak membincangkan atau mengatakan hal-hal yang bodoh dan sembrono adalah dampaknya terhadap orang. Sebab yang diajak bicara bukanlah diri sendiri, tapi ada subyek bicara lain, yaitu orang.  Jadi jika orang membincangkan sesuatu yang bodoh dan sembrono, maka kemungkinan besar dampaknya juga pada orang yang diajak bicara.  Karena itu anjuran untuk menghindarkan diri dari dosa lidah dan berperilaku kotor sesungguhnya yang disasar adalah relasi seseorang dengan liyan (orang lain).  Jangan sampai gara-gara hal sepele; gara terpeleset karena kata-kata lantas orang menjadi renggang hubungannya.  Sebaliknya, dengan saling menjaga kata-kata yang diucapkan, maka orang-orang yang sudah memiliki hidup baru itu juga terjaga relasinya dengan sesama.  Itu sudah! Slawi

Lihat juga

Komentar

Top