Sapaan Gembala

Cahaya Dan Rasa Orang Percaya

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Wed, 21 August 2019 - 16:31 | Dilihat : 57
Tags : Berdampak Cahaya Faith Nikodemus Rindin Orang Percaya

Katanya hadirnya agama agar “tidak kacau”, namun faktanya makin seseorang beragama maka semakin menjadi kacau balau. Lihat saja semua agama yang bertebaran di seluruh dunia, mereka pasti mengklaim diri baik, benar dan membela Tuhan itu. Tetapi sulit rasanya kita bisa melihat agama yang tidak hanya mengklaim dirinya benar tetapi mempraktekan sikap benar itu tanpa suara tetapi dalam karya nyata dalam hidup bersama yang harmoni dan saling mencintai. Agama yang benar pasti memiliki dasar yang benar. Di dalam iman Kristen kita mendasari iman dan kasih kepada Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan serta kasih kepada manusia sama seperti mencintai diri sendiri. Agama yang benar tidak hanya berkata-kata tentang kasih tetapi ia praktek kasih dalam kesadaran cinta kepada Tuhannya. Ada orang beragama terlalu egois dan mementingkan diri sendiri, mereka mengkafir-kafirkan orang lain dan memuliakan diri sendiri. Apakah dengan kita beragama kita boleh merasa diri lebih baik dan lebih suci? Saya rasa kalau orang itu beriman dan beragama benar maka mereka harusnya datang tertunduk dihadapan Tuhan Allah yang besar dan maha itu. Tidak ada tolak ukur yang pasti bagaimana kita bisa mencintai Tuhan yang besar itu karena segala ukuran yang coba kita lakukan untuk-Nya pastilah itu sesuatu yang kecil dan hina. Sebab ukuran dari kasih Allah adalah tidak terukurnya kasih Allah itu. Meski kita menyerahkan tubuh kita untuk dibakar tetapi kalau kita tidak mempunyai kasih maka kita tidak memiliki suatu hal apa pun yang bisa memperkenan Tuhan. Hanya kasihlah yang mengantar kita untuk diperkenan-Nya.

Ada orang yang rela mati tetapi tidak memiliki kasih, itu disebut teroris. Mereka memiliki agama, memiliki ajaran, memiliki pengetahuan tetapi satu hal yang tidak mereka miliki yaitu kasih dari Bapa surgawi. Padahal kasih yang benar adalah muncul dari perbuatan kasih yang nyata. Sama seperti iman yang sejati, bukan sekedar rajin beribadah, rajin menjalan hukum agama, bukan sekedar rajin melayani dan mau mati bagi Tuhan tetapi iman sejati hidup dalam tindakkan yang terbuahi. Orang beragama kalau tidak memiliki dasar dan tujuan tertinggi dalam hidupnya maka dia akan menjadi orang yang sangat kejam, itu sama seperti seorang Farisi ia merasakan diri beda dari semua orang lainnya; tidak merampok, tidak lalim, tidak berbuat zinah, dan bukan seorang pemungut cukai. Hidupnya sangat baik; ia rajin berpuasa, rajin memberikan perpuluhan, dan mungkin sederet prestasi agama bisa dijabarkan. Namun siapakah yang mendapatkan pujian? Apakah yang rajin beribadah, tidak! Justru dipuji-Nya seorang pendosa namun ia sadar akan dosanya dan datang tertunduk dihadapan Tuhan (Lukas 18:9-14). Ia dibenarkan dihadapan Allah justru karena kesadaran ketidaklayakannya. Begitu banyak orang beragama merasa pantas dihadapan Allah, mereka lantang bersuara dan berani menepuk dada tetapi tanpa mereka sadari ternyata Allah tidak tertarik padanya malah dibuang dari hadapan-Nya. Kita yang beragama selalu merasa diri pantas diterima oleh Tuhan karena sudah memberikan perpuluhan, sudah menggunakan waktu habis-habisan, karena sudah keluarkan uang banyak untuk pekerjaan Tuhan, telah menjadi seorang pelayan di dalam gereja dan menjadi apa pun yang kita pikir itu benar dan mulia, dengan berbuar demikian lalu kita merasa berlayak, kita lupa bahwa diri kita tidak akan pernah menjadi pantas kalau Dia tidak berkenan menerima, memakai dan mempercayakan sesuatu ke dalam tangan kita.

Mengapa agama banyak tetapi tanpa rasa? Karena agama berpusat pada hal yang salah dan cenderung berpuasat pada diri dalam keegoisan. Bukan God sentris tetapi self senteris. Agama telah kehilangan panggilannya menjadi garam dan terang dunia, akhirnya agama hadir bukan untuk mewarnai tetapi justru untuk diwarnai. Bukan menggarami tetapi digarami sehingga akhirnya dibuang dan diinjak oleh orang. Cahaya dan rasa yang ada pada agama tidak ada beda dengan cahaya dan rasa yang ada di dalam dunia, hadir redup bahkan tersimpan di bawah gantang, hadir tanpa meneguhkan cenderung menjadi batu sandungan akhirnya tak heran hadirnya tanpa gema. Agama yang salah tidak hanya menghancurkan tetapi membinasakan seseorang. Hadirnya agama yang benar untuk memimpin dan memancarkan kebenaran dari diri seorang untuk memberitakan kuasa, kasih dan kebenaran Allah kepada manusia yang berdosa. Ia memanggil manusia untuk kembali kepada jalan Allah sehingga boleh melayani dan hidup dengan benar di hadapan-Nya.

Kalau Tuhan hadir dalam suatu agama maka di sanalah akan hadir rasa yang berbeda. Kristus pembawa rasa yang tidak mungkin dibantah. Ia bersinar di dalam dunia karena Dialah terang dunia. Dia mengenyangkan dunia karena Dia adalah roti hidup. Dia datang masuk ke dalam dunia justru ketika manusia masih lemah, berdosa dan berseteru melawan Dia. Inilah maksud kehadiran seorang yang beragama benar. Ia tidak hidup bergantung dengan situasi kehidupan dan perubahan dan perbuatan orang lain. Tetapi Dia bergerak dalam cara yang benar dan mewarani dunia dengan pengorbanan yang besar.

Lihat juga

Komentar


Group

Top