Sapaan Gembala

Intelektual Kristiani Dalam Pembangunan Nasional

Penulis : GI Julius Mangantibe | Sat, 31 August 2019 - 09:46 | Dilihat : 63
Tags : Intelektual Julius Mangantibe Kritiani Nasional Pembangunan

Permasalahan bangsa Indonesia sudah demikian kompleks. Oleh karena itu, perlu adanya fokus pada permasalahan kunci untuk segera dicarikan solusi. Beberapa permasalahan kunci yang memiliki nilai strategis untuk dijadikan prioritas mengejar ketertinggalan, yaitu antara lain adalah (1) ketertinggalan dalam IPTEK dan kualitas sumberdaya manusia (SDM), (2) demoralisasi bangsa, (3) korban imperalisme model baru, (4) lack of leadership, (5) kegagalan mengelola sumberdaya alam (SDA), dan (6) kegagalan dalam menciptakan pemerintah yang bersih, efektif dan berwibawa.

Harus diakui bahwa Indonesia telah terpuruk, masalahnya terlalu banyak, kompleks dan seperti benang kusut. Meskipun demikian, kita tidak boleh menyerah terhadap keadaan ini. Apalagi umat kristiani dikehendaki Tuhan untuk menjadi garam dan terang. Oleh karena itu, sudah selayaknya kalau umat kristiani harus berkontribusi positif dalam pembangunan nasional dan transformasi bangsa, walaupun masing-masing individu mungkin kecil kontribusinya, namun kalau diakumulasikan dan disinergikan, maka hasilnya akan luar biasa.

Pada prinsinya, umat kristiani perlu memberikan keteladanan, kepeloporan dan menjadi agen perubahan dalam pembangunan nasional dan transformasi bangsa. Paling tidak terdapat empat agenda strategis yang perlu diupayakan umat kristiani secara individual maupun kolektif, yaitu: Pertama, Penguatan kepribadian bangsa menjadi kebutuhan untuk dijadikan agenda strategis. Jati diri bangsa perlu direvitalisasi, kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila. Gerakan pertobatan nasional yang pernah dicanangkan beberapa tokoh nasional perlu dikonkritkan, jangan hanya visi yang abstrak tanpa arah dan tindakan konkrit yang jelas. Kaum intelektual kristiani perlu mengkaji operasionalisasi dari gerakan pertobatan nasional dan menggalang kembali berbagai komponen bangsa untuk terealisasinya gerakan pertobatan nasional; Kedua, Fakta empiris membuktikan bahwa keunggulan SDM, baik dalam penguasaan IPTEK, etos kerja, dan integritas moral menjadi faktor kunci sukses. Bahkan dalam beberapa kasus, keunggulan SDM lebih penting dibandingkan keunggulan SDA. Keunggulan SDA tanpa disertai keunggulan SDM, maka bangsa tersebut tetap kurang berkembang, bahkan ditipu oleh bangsa lain yang lebih unggul; Ketiga, Pengembangan IPTEK harus didorong untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan kemandirian bangsa. Pengembangan IPTEK dapat melibatkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, masyarakat dan swasta; Keempat, Birokrasi pemerintahan dan kebijakan publik juga merupakan agenda strategik. Kebijakan publik yang keliru menyebabkan kesengsaraan rakyat dan keterpurukan bangsa. Kebijakan publik yang tidak efektif menyebabkan pembangunan nasional tidak optimal. Kebijakan publik yang tidak pro rakyat menyebabkan kegagalan dalam pengentasan kemiskinan.

Ada banyak orang yang mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri, itu adalah keingintahuan. Ada orang lainnya yang mencari pengetahuan dengan tujuan agar mereka bisa dikenal, itu adalah keangkuhan. Orang lainnya lagi mencari pengetahuan dengan tujuan menjualnya, itu tidak terhormat. Tetapi ada lagi yang mencari pengetahuan agar bisa meneguhkan orang lain, itulah kasih. Karena itu, untuk mampu memberikan keteladanan, kepeloporan dan menjadi agen perubahan dalam pembangunan nasional dan transformasi bangsa, maka umat kristiani harus memiliki keunggulan kompetensi sehingga memiliki daya kompetitif yang tinggi. Tanpa disertai dengan keunggulan kompetensi, maka umat kristiani kurang memberikan peranan dan kurang diberikan kesempatan untuk terlibat dalam peranan strategis pembangunan nasional dan transformasi bangsa. Oleh karena itu, umat kristiani harus terus mengembangkan kualitas diri. Kualitas diri yang dimaksud paling tidak meliputi lima faktor, yaitu: iman, integritas moral, skill dan knowledge, leadership, dan network building.

Dengan demikian, bertanggung jawab untuk hidup di dalam kebenaran, mempelajari kebenaran, dan memberitakan kebenaran, kepada Allah-lah kita bertanggung jawab. Melampaui tanggung jawab kita kepada keluarga kita, komunitas iman kita, tetangga kita, negara kita, dan dunia di sekitar kita. Tanggung jawab umum untuk memuliakan Allah mendahului semua tanggung jawab spesifik lain yang kita miliki sebagai intelektual atau calon intelektual, karena memuliakan Allah merupakan tugas penuh waktu yang melibatkan totalitas keberadaan para intelektual kristiani. Amin

Lihat juga

Komentar


Group

Top