Sapaan Gembala

Nyala Api Reformasi Dalam Gereja

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Fri, 1 November 2019 - 11:06 | Dilihat : 33
Tags : Gereja Nikodemus Rindin Nyala Api Reformasi

Nyala Api semangat reformasi membakar jiwa Sang Refromator gereja bernama Luther pada tahun 1517. Di pintu Gereja Kastil Wittenberg, Jerman silam Luther mengutuk perbuatan korupsi pemimpin Gereja Katolik Roma. Kepausan pada waktu itu menjalankan kejahatan terselubung dengan modus melakukan praktik penjulan surat pengampunan dosa atau yang sering disebut "indulgensi" untuk merenovasi bangunan Basilika Santo Petrus di Roma. Praktik ini tentu merasahkan hati Luther sebab hal pengampunan dosa tidak mungkin diperjual belikan, melalui usaha manusia tetapi murni karena anugerah di dalam Tuhan Yesus Kristus, Sang Penebus dosa.

Namun dengan gelap mata, praktek penjualan surat pengmpunan dosa diperintahkan oleh Uskup Agung Mainz dan Paus Leo X dan dijalankan oleh Johann Tetzel untuk berkampanye melakukan penggalangan dana besar di Jerman. Meski sebelumnya Pangeran Frederick III telah melarang penjualan indulgensi di Wittenberg, namun tetap saja banyak anggota gereja tidak mengindahkannya. Mungkin bagi mereka apa yang sampaikan oleh Paus, sudah cocok dengan selera mereka sehingga mereka yang telah membelinya menunjukkan kepada Luther surat itu dan mengklaim bahwa mereka tidak lagi harus bertobat dari dosa-dosa mereka. Bahkan bagi kerabat mereka yang sudah lama meninggal dunia memiliki jaminan masuk ke surga karena sudah membeli surat pengampunan itu.

Pada 31 Oktober 1517 kemarahan Luther memuncak sehingga dia dengan suatu keberanian penuh memukul pintu Gereja Katolik Kastil di Wittenberg, Jerman dengan Palu kebenaran dan memakukan 95 dalil di pintu itu. Yang intinya bahwa keselamatan adalah anugerah semata bukan usaha manusia. Bagi Luther pengampunan bukan transaksi namun anugerah Ilahi. Tak disangka kemudian semangat itu membakar tubuh gereja sehingga bermunculan para reformator yang gelisah lalu melawan berbagai pengajaran yang salah dan praktik yang menyimpang dalam gereja.

Hasilnya, perbuatan Luther dikecam, dikutuk dan ia sendiri diekskomunikasikan (pengucilan) oleh Gereja Katolik Roma pada waktu itu. Bahkan karena Luther menolak untuk menyangkal tulisannya maka Kaisar Romawi Suci Charles V dari Jerman, menyatakan bahwa Luther sebagai seorang pelanggar hukum dan bidat dan kepada siapa saja diberikan izin membunuhnya tanpa konsekuensi.

Luther tidak menyerah dalam perjuangannya. Ia tetap melanjutkan perjuangannya dengan menyalin dan menterjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Jerman dan disebar luaskan sehingga Alkitab boleh dimengerti dan dibaca oleh banyak kalangan. Tujuannya adalah agar umat memahami firman Tuhan dengan benar bukan menurut apa kata Paus tetapi menurut apa kata Alkitab.

Kini sudah 500 tahun semangat reformasi itu hidup dalam gereja. Apa yang bisa kita pelajari dari semangat Luther? Ia mewarisi semangat hidup ber-Tuhan dengan benar. Kita harus berani mengkritisi tiap ajaran yang menyimpang yang tumbuh dalam gereja bahkan menolaknya dengan suatu semangat, dengan berpegang pada kebenaran firman Tuhan. Yang sesuai kita pegang dan yang tidak sesuai kita tolak dan buang. Tidak mengapa karenanya kemudian kita dikucilkan asal kebenaran Tuhan dinyatakan, hidup, tumbuh dan berbuah dalam tubuh gereja. Lebih baik disingkarkan manusia karena kebenaran namun berada dalam pelukan Tuhan dalam kemuliaan.

Dan kita harus terus ingat semangat dari moto reformasi geraja adalah “Ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei atau "gereja yang telah tereformasi harus terus mereformasi diri sesuai dengan ajaran firman Tuhan." Jangan pernah abai untuk mereformasi diri dan jangan pernah mau terikat dengan rutinitas serta aktivitas yang semu. Terus maju dan bergairah memberitakan kebenaran Tuhan untuk mewarnai zaman.

Oleh: Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar


Group

Top