Sapaan Gembala

Libatkan Tuhan Dalam Perencanaan

Penulis : Pdt Gelen | Sat, 6 February 2021 - 10:00 | Dilihat : 110
Tags : Gelen Marpaung Melibatkan Tuhan Rencana Swot Yakobus 413

Kemajuan ilmu pengetahuan, terkhusus dalam ilmu manajemen, telah menolong manusia mencapai keberhasilan dalam banyak hal yang dikerjakan. Ilmu ini diperlukan dan digunakan nyaris di semua organisasi, baik itu milik pemerintah, perusahaan, partai politik, tidak terkecuali organisasi keagamaan semisal gereja.

Pakar manajemen memberi nasihat ringkas, “Rencanakan kerjamu, lalu kerjakan rencanamu.” Dengan demikian apa yang dikerjakan akan berhasil dan tepat guna sesuai rencana. Ilmu manajemen yang lebih advanced, menyarankan untuk terlebih dahulu melakukan analisa SWOT (Strength=kekuatan, Weakness=kelemahan, Opportunity=kesempatan, Threat=ancaman) sebelum mendesain suatu rencana kerja. Sebuah artikel yang penulis pernah baca mengajarkan bahwa proses manajemen mencakup setidaknya empat hal: 1. Planning and Decision Making (Perencanaan dan Pengambilan Keputusan 2. Organizing (Pengorganisasian) 3. Leading (Pengarahan) dan 4. Controlling (Pengontrolan), termasuk di dalamnya Evaluating (Evaluasi). Dengan memerhatikan keempat langkah dalam proses manajemen tersebut, dapat dikatakan bahwa tingkat ketercapaian suatu goal dapat diukur dari, salah satunya, kekuatan perencanaan. Tidak dapat dimungkiri bahwa ilmu manajemen telah banyak membantu manusia untuk membuat perencanaan yang matang sehingga keberhasilan lebih mungkin untuk digapai.

Dalam Yakobus 4:13 diceritakan mengenai seseorang yang punya kemampuan untuk merencanakan apa yang ingin ia kerjakan (walaupun masih dalam gambaran besar), yaitu untuk merantau ke suatu kota untuk berbisnis di sana sehingga menjadi pengusaha sukses. Tidak salah untuk membuat rencana, bahkan itu bagus. Manusia diberikan otak oleh Tuhan untuk digunakan secara optimal. Jangan asal-asalan dalam melakukan segala hal. Perlu rencana. Namun ada satu hal yang kurang. Tuhan dilupakan.

Yakobus mengingatkan agar jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan. “Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”” (Yakobus 4:15). Sekomprehensif apapun suatu rencana, tetap ada faktor yang dapat membuatnya gagal dikerjakan, terutama jika rencana tersebut tidak sesuai dengan rencana Tuhan. Yakobus menambahkan, “… kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” (Yakobus 4:14)

Pandemi global Covid-19 telah memorakporandakan banyak rencana. Rancangan APBN direvisi total. Banyak alokasi anggaran yang akhirnya harus tersedot oleh upaya penanggulangan dan pencegahan persebaran virus ini. Termasuk di dalamnya pengadaan vaksin, alat pelindung diri, bantuan sosial, dll. Rencana pelesiran gagal. Rencana pembelajaran di sekolah disusun ulang. Kegiatan yang menimbulkan keramaian ditunda, dibatalkan, bahkan dibubarkan. Kehidupan jadi tidak normal, tapi disebut dengan new normal. Ini semua di luar rencana.

Jadi, jika perencanaan terbaik saja bisa gagal, apakah masih perlu membuat rencana? Harus. Tuhan menciptakan alam semesta dan manusia dengan begitu teratur dan tertata, menunjukkan betapa sempurna perencanaan yang dibuatNya, termasuk rencana penyelamatan umat manusia melalui Sang Putra. Jika Tuhan saja membuat rencana, apalagi kita. Maka, tetaplah membuat perencanaan dengan memohon petunjuk Tuhan, seraya memberikan ruang bagi intervensi ilahi untuk mengubah rencana kita, sekiranya itu tidak sesuai dengan kehendakNya. Adakalanya Tuhan menggagalkan rencana kita agar kita masuk dalam rencanaNya. Maka jangan kecewa, apalagi putus asa, jika rencana tidak terlaksana. Periksa penyebabnya, apakah karena kelalaian manusia (human error) atau karena penyebab yang di luar kendali kita (namun tetap di dalam kendali Tuhan), lalu temukan maksud Tuhan di dalamnya.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21)

Lihat juga

Komentar


Group

Top