Sapaan Gembala

Dapatkah Manusia Berlari Dari Tuhan?

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Sat, 20 February 2021 - 15:49 | Dilihat : 259
Tags : Berlari Dari Tuhan Julius Mokolomban Tidak Mau Taat Yunus

Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe , kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis , jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. (Yunus 1:1-3)

Yunus adalah seorang nabi yang takut akan Tuhan (1:9) Ia terpilih untuk menjalankan misi Allah bagi kota Niniwe. Namun, ia mengabaikan semuanya itu dan lebih memilih menuruti apa yang ia inginkan, bukan pada apa yang Tuhan perintahkan.

Tuhan menghendaki Yunus menyuarakan kebenaran kepada orang Niniwe, supaya orang-orang Niniwe bertobat dari kejahatannya. Karena kalau tidak, Tuhan akan menghukum mereka dengan murkaNya. Tetapi justru Yunus bertindak sebaliknya, dia tidak peduli, tidak mengindahkan perintah Tuhan. Alkitab mengatakan, Yunus bersiap melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan (1:3). Ia mempertontonkan sikap yang tidak pantas untuk dilakukan, ia lari dan meninggalkan Tuhan, ia memakai cara apapun untuk menjauh dari Tuhan, bahkan Yunus rela, berkorban dengan membayar berapapun biaya untuk pelariannya. Sungguh ironis, Yunus nabi yang takut akan Tuhan namun pada saat yang sama ia menghindar dari tugas yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Dengan berusaha melarikan diri dari hadapan Tuhan. Menjadi pertanyaan buat kita saat ini, bagaimana dengan kehidupan kita sebagai gereja? Mungkinkah manusia dapat lari dari hadapan Tuhan?

Tuhan memiliki tujuan yang jelas dalam setiap perintahNya, dan Tuhan memiliki hak penuh untuk menunjuk dan memerintahkan kepada siapa yang IA kehendaki. Seseorang yang dipilih Allah untuk sebuah tugas mulia, harusnya memandang bahwa itu adalah kesempatan yang indah. Itu adalah anugerah. Mengapa demikian? Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Tuhan mau melibatkan kita melakukan perkerjaan yang mulia. Sangat disayangkan kalau seseorang mengabaikan perintah Tuhan, karena hanya orang bodohlah yang mau menyia-nyiakan panggilan dan perintah dari Sang Penguasa Kehidupan, yaitu Allah sendiri.

Melalui perenungan ini kita dapat belajar bersama,

  1. Manusia tidak menyukai Firman Tuhan.

Kita cenderung memilih apa yang kita sukai. Kita mungkin tidak bersikap terang-terangan seperti Yunus, namun kita sering mengabaikan waktu kita untuk bersekutu dengan Tuhan. Kita memilih melakukan keinginan kita dan bukan keinginan Allah.

  1. Manusia lebih mementingkan kepentingan diri sendiri.

Kita berani berjuang menghabiskan waktu kita untuk sesuatu yang menyenangkan hidup kita. Namun terlalu sering tidak mempersiapkan diri untuk sungguh beribadah kepada TUHAN. Mari memerhatikan ibadah online ataupun offline tidak memengaruhi umat TUHAN untuk rindu beribadah dengan sukacita.

  1. Manusia rela mengorbankan apapun demi ambisi pribadi.

Kita kompromi dengan salah, yang membuat kita menjauh dari Tuhan. Kita habis-habisan berkorban untuk mendapatkan gaji yang tinggi, ataupun prestasi yang gemilang. Namun sedikit yang mau berkorban memberi waktunya untuk duduk beribadah dan merenungi Firman TUHAN. Hati-hatilah!

Yunus berpikir dia bisa lari dan bersembunyi dari hadapan Tuhan. Dia berpikir dengan menaiki sebuah kapal bisa menjauh dari Tuhan. Yunus lupa bahwa Tuhan Maha mengetahui isi hati manusia, “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku, Engkau mengetahui kala aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku” (Mazmur 139:1-2). Yunus juga lupa, bahwa Tuhan Mahakuasa yang sanggup melakukan apa pun yang IA kehendaki, seperti kata Pemazmur; “kemana aku dapat pergi menjauhi rohMu, kemana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku ke langit, Engkau disana, jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, disitu pun Engkau” (Mazmur 139:7-8).

Dengan demikian, selagi kita masih diberi waktu oleh Tuhan, marilah kita menyintai Firman Tuhan. Jangan pernah lari atau menjauh dari hadapanNya. Marilah kita belajar menyukakan hati Tuhan dengan menuruti PerintahNya. Tuhan memberkati!

Lihat juga

Komentar


Group

Top