Sapaan Gembala

Berilah Dirimu Didamaikan Dengan Allah ( 2 Kor. 5 : 20B )

Penulis : Pdt Arosokhi Laoli | Sat, 27 February 2021 - 14:10 | Dilihat : 92
Tags : 2 Korintus 520 Arosokhi Laoli Damai Didamaikan Dengan Allah

Untuk memperjelas kalimat ini, kita perlu membaca kalimat sebelumnya, mulai ayat 18 - 20 tertulis,…. Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya … Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Yesus Kristus dengan tidak memperhintungkan pelanggaran mereka. Paulus berkata berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kalimat ini dalam bahasa aslinya “ Katallagete ….” Terjemahan harafiah, “ Biarkanlah dirimu didamaikan. “ atau jadikanlah dirimu didamaikan.” Kita sebagai umat manusia yang tidak pernah luput dari dosa, entah itu dosa pikiran, tindakan atau perkataan.

Dosa pikiran yang tahu hanya diri sendiri dan Tuhan tidak ada sesama manusia yang tahu pikiran sesamanya karena manusia terbatas, namun dosa tindakan dan perkataan selain Tuhan yang tahu sesama manusia pun juga tahu.

Ketika perkataan atau tindakan kita yang tidak terpuji terlontarkan kepada sesama kadang-kadang sulit untuk minta maaf atau sebaliknya, bahkan lebih parahnya enggan bertegur sapa dengan orang tersebut karena kitanya masih mempertahankan ego, bahkan kadang juga sering kita menyesal jengkel pada diri sendiri. Benci dan memusuhi betapa malangnya kita jika sifat itu dipelihara. Kita mau berbaikan kembali. Jadi, kata berdamai itu suatu perbuatan aktif. Cermati bagaimana anggapan Rasul Paulus pasti berbeda, bukan? Apakah menurut Paulus berdamai itu merupakan perbuatan pasif? Ini tidak boleh begitu cepat disimpulkan. Karena masih ada cerita selanjutnya.!

Paulus bukan meminta umatnya untuk berdamai, melainkan meminta mereka untuk mau didamaikan, di sini Paulus memilih bentuk verbal yang mampu mengukapkan anggapannya seperti yang telah dituliskan di atas bahwa kata didamaikan adalah “Katallagete” kata ini artinya bukan aktif dan bukan pula pasif. Lebih dalam lagi jika ditelusuri bahwa arti dari “Katallagete” adalah bentuk verbal pasif yang menimbulkan respons aktif dari orang yang mau didamaikan, kalau kita baca beberapa surat Rasul Paulus salah satunya surat pribadi yang ditujukan kepada Filemon dimana hubungannya dengan Onesimus yang sudah “retak” maka hadirlah Rasul Paulus sebagai perantara untuk mendamaikan mereka, kalau disederhanakan di dalam suratnya ini kita bisa melihat bahwa dibangunnya sebuah teologi rekonsiliasi. Kita sudah tahu bahwa manusia berada dalam hubungan yang sudah rusak, manusia memerlukan pemulihan hubungan itu. Manusia tidak bisa memulihkan hubungannya dengan dengan Allah itulah sebabnya Allah mengutus Yesus Kristus agar kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, dilakukan-Nya karena Ia mengasihi manusia dengan demikian terbukanya hubungan baru secara vertikal dengan Allah dan horizontal dengan sesama manusia.

Namun jika kita didamaikan dengan Allah itu bukan hasil doa, bukan pula hasil amal kita melainkan pemberian cuma-cuma yang ditawarkan Allah kepada manusia. Jadi dalam hal ini ada tawaran yang artinya bisa ditolak atau diterima. Tanpa basa basi Paulus meminta kita menerima tawaran itu. Katanya, “ Berilah dirimu didamaikan. Siapa yang mendamaikan? Yesus Kristus. Siapa yang didamaikan? Manusia. Didamaikan dengan siapa? Dengan Allah. Mengapa? Karena hubungan yang sudah rusak.

Jika kita didamaikan dengan Allah maka wajib hukumnya. Ibrani 12 :14 berusahalah hidup damai dengan semua orang,…artinya kita harus damai dengan siapapun, yaitu keluarga, tetangga, agama lain, bangsa lain, dst. Tentu juga dengan diri sendiri. Hal ini tidak terjadi begitu saja kalau kita pasif, tetapi perlu proaktif ingat bahwa “ Katallagete ” bentuk verbal pasif yang menimbulkan respons aktif. Aktif dalam hal ini “ mau” didamaikan dan menerima tawaran jangan tolak sebab jiwa akan binasa.

Bagaimana dengan diri kita jangan tunda sekaranglah waktunya, Allah sedang membuka peluang lebar-lebar siapapun yang datang kepada-Nya untuk didamaikan pasti diterima-Nya. Tuhan Yesus Kristus memberkati. Sola Gratia.

Lihat juga

Komentar


Group

Top