Sapaan Gembala

Haruskah Sampai Keperut Ikan?

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Sat, 5 June 2021 - 11:00 | Dilihat : 142
Tags : Julius Mokolomban Panggilan Tuhan Yunus 1 Yunus Di Perut Ikan

Doa dan ucapan syukur kepada Tuhan adalah sikap yang benar bagi setiap orang percaya. Masihkah kita melakukannya ketika situasi justru jauh dari kenyamanan?

Firman Tuhan mengatakan : "Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku (Yunus 2:1-2). Terkadang dalam kenyamanan, Kita tidak peduli dengan kehendak Tuhan, namun ketika kesulitan menghampiri hidup Kita, justru kita baru mau mendekat kepadaNya.

Dalam kitab Yunus pasal 1, kita menemukan, justru Yunus lari dari panggilan Tuhan. Tidak ada doa dan ucapan syukur dalam meresponi perintah Tuhan. Di kapal ia begitu nyaman, sekalipun orang lain dalam kesulitan, semua ketakutan bahkan berdoa kepada Tuhan, namun Yunus tidur dengan nyenyak. Namun semua menjadi berubah, tak kalah, Yunus dibuang ke laut, dan atas penentuan Tuhan dia ditelan oleh seekor Ikan besar. Alkitab mencatat di dalam perut ikanlah Yunus baru datang menghampiri Allah. Menjadi pertanyaan penting bagi Kita, mengapa diperut ikan, baru Yunus ingat berdoa? Kitab Yunus pasal 2, kita menemukan pengakuan Yunus dihadapan Tuhan, "Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku, di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya Tuhan, Allahku. Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan,

dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus"(Yunus 2:3-7) Dalam ketidakberdayaan, kepungan penderitaan, Yunus tidak berdaya, semuanya sirna tanpa pengharapan. Hal inilah yang akhirnya membuat Yunus berdoa memohon pertolongan Tuhan, dan Tuhan mendengarkannya.

Dari perenungan ini kita dapat belajar bersama:

Berdoa jangan dilakukan hanya karena kita lagi bermasalah dan tidak mampu lagi menyelesaikannya. Jangan itu dilakukan karena ada maunya Kita dihadapan Tuhan. Lakukanlah itu dalam segala keadaan kita, maka disitulah tampak kedewasaan kita dalam beriman kepada Tuhan. Jangan tunggu, kita berhasil, kaya, apalagi tua, baru mau berdoa, bersyukur, beribadah dan melayani Tuhan. Sekaranglah waktunya, Dalam segala Keadaan, dan jangan ditunda!

Yunus tahu, Tuhan mendengar seruan doanya. Yunus tahu Tuhan menjawab doanya, maka ia bukan hanya bersyukur kepada Tuhan, tetapi mempersembahkan korban kepada Tuhan dan bernazar. Dengan demikian, setiap kita diproses oleh Tuhan dengan cara yang berbeda, namun tujuanNya pasti sama, yaitu hidup untuk Dia dengan mempersembahkan seluruh hidup kita untuk kemuliaanNya

Ingat, hidup ini misteri. Sulit untuk dipahami secara utuh. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepan, namun satu hal, Tuhanlah yang menentukan arah langkah orang-orang yang mengasihiNya. Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9) Tuhan Memberkati.

Lihat juga

Komentar


Group

Top