Sapaan Gembala

Kehidupan Yang Sementara

Penulis : Pdt Netsen | Sat, 19 June 2021 - 10:00 | Dilihat : 233
Tags : Daud Hidup Kesementaraan Mazmur Musa Netsen Sementara Tidak Kekal

Dalam kehidupan yang kita jalani ada beragam momen yang disediakan Tuhan bagi kita agar kita dapat mengerti keterbatasan, kekurangan dan bahkan kesementaraan kita di dalam dunia ini. Sebagai contoh ketika seorang lahir, ia begitu lemah. Seiring waktu berganti, usianya bertambah sehingga ia menjadi seorang anak muda, ia merasa kuat, gagah dan perkasa. Bagi sebagian orang ini belum berakhir masih ada waktu yang akan Tuhan anugerahkan baginya. Waktu terus bergulir dan usia mereka bertambah tetapi apa yang terjadi, kelemahan akan dialaminya. Dalam doanya, Musa mengatakan bahwa ketika usia manusia setelah mencapai 70 hingga 80 tahun, maka selanjutnya adalah kesulitan (Mzm. 90:10c). Apa yang Musa sampaikan tentang kondisi manusia adalah kesementaraan dan kerapuhan manusia. Tidak ada yang dibanggakan kecuali kesusahan dan penderitaan, termasuk kematian yang dijumpai akan semakin dekat.

Dalam perenungannya akan kehidupan, Musa menyampaikan akan kehidupan manusia yang begitu singkat, hal ini digambarkan oleh Musa dengan berbagai kata atau istilah, salah satu contoh, berlalunya buru-buru dan manusia akan melayang lenyap dari kehidupannya di bumi (lih. Mzm. 90:10d). Apa yang sang pemazmur ingin pesankan bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah sementara. Siapapun dia, tak memandang apapun statusnya. Ada hal yang sangat menarik dari apa yang menjadi perenungan Musa dalam Mazmur 90. Ia memberikan perenungan tentang fakta dan realita kebenaran, baik tentang manusia maupun tentang Allah. Apa fakta dan realita kebenaran yang Musa sampaikan melalui perenungannya tersebut?

Pemimpin umat Israel yang dikenal dengan memiliki hati yang lembut ini membawa perenungan akan kesementaraan manusia sekaligus membawa pada perenungan akan kekekalan Allah. Dalam usianya yang lanjut, ia menghayati akan kesementaraan hidup manusia. Hidup manusia hanya sesaat di dalam dunia. Manusia akan melayang lenyap, dan bahwa hanya Allah yang “dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.” Pemahaman dan pengenalan Musa akan dirinya yang terbatas dan Allah yang kekal membawa dia untuk berlindung dan berteduh pada Allah. Allah adalah tempat perteduhan dan perlindungan bagi dirinya. Bukan dalam waktu sesaat tetapi turun temurun. Bagaimana dengan kita? Apa yang menjadi tempat perteduhan dan perlindungan bagi kita? Apakah bagi kita Allah sebagai tempat perteduhan dan perlindunggan?

Manusia yang sementara dan bahkan akan hilang lenyap dihubungkan oleh Musa dengan murka Allah. Pengenalan akan murka Allah bagi Musa mengajar manusia untuk menghitung hari-harinya hingga manusia beroleh hati yang bijaksana. Manusia perlu hidup bijaksana di hadapan Allah yang kekal, yang murka pada dosa. Oleh sebab itu mengenal Allah yang dapat murka tentunya tidak dapat dipisahkan dari pengenalan akan diri kita yang berdosa. Mengapa Allah murka? Apakah Allah murka tanpa alasan? Tidak. Allah tidak murka semena-mena tanpa alasan. Kesewenang-wenangan bukanlah sifat Allah. Karena itu, dalam perenungannya Musa tidak berhenti di sini, sekalipun dia sadar bahwa manusia layak menerima murka-Nya. Pada akhir perenungannya dalam Mazmur 90, ia memohon (menarik) TUHAN untuk kembali menyayangi hamba-hamba-Nya dan mengenyangkan mereka dengan kasih setia-Nya. Musa tidak meminta agar hidup manusia tidak ada lagi hari-hari penindasan dan tahun-tahun kecelakaan. Ini bukan pengharapan yang realistis, bukan realisme teologis. Yang Musa minta adalah agar TUHAN membuat hari-hari dukacita dan hari-hari sukacita itu seimbang.

Apa yang Alkitab sampaikan ini berbeda dengan permintaan kebanyakan orang Kristen, mungkin juga kita yang hanya mengharapkan kenyamanan dan kesenangan dalam doa mengikut Tuhan. Yesus Kristus mengingatkan kepada para murid-Nya bagaimana mereka mengikut Dia. Harus rela menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia. Kita tentu memiliki pengharapan, karena kita hidup di dalam Kristus yang sudah menyelamatkan kita, tetapi realita dunia yang ada penderitaan, dan itu adalah kesementaraan perlu kita hadapi dan kita jalani dalam kekuatan memohon pertolongan Roh Kudus. Pada ahirnya dalam menyadari kesementaraannya, Musa berharap agar perbuatan tangannya, yang pada dirinya sendiri tidak mungkin kekal, diteguhkan oleh Allah karena kemurahan-Nya. Musa tidak memfokuskan diri pada perbuatan tangannya sendiri, sebaliknya ia meminta agar Allah memperlihatkan perbuatan-Nya dan semarak-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Amin.

Lihat juga

Komentar


Group

Top