Sapaan Gembala

Menabur Banyak Tetapi Membawa Pulang Hasil Sedikit (Hagai 1 :1-9)

Penulis : Pdt Arosokhi Laoli | Sat, 2 April 2022 - 10:00 | Dilihat : 67
Tags : Benih Hagai 1 Menabur Pdt Arosokhi Laoli Sapaan Gembala

Seorang petani yang menabur benih satu harapan bahwa dia akan menuai hasil banyak, harapan ini tidak bisa dipungkiri bahwa hati seorang petani disaat dia menabur doanya supaya membuahkan hasil pada apapun yang ditaburnya, tidak ada satupun yang tidak mengharapkan hasil dari setiap pekerjaannya, topik ini menarik untuk ditelaah “ Menabur banyak tetapi membawa pulang hasil sedikit”

Kitab Nabi Hagai adalah salah satu kitab nabi-nabi kecil yang dicatat dalam Perjanjian Lama, tahun 538 SM, raja Koresh mengizinkan orang-orang Yahudi yang telah ditawan di Babel selama 70 tahun pulang ke Yerusalem (Ezra. 1:2-4). Pada saat itu kurang lebih 40 ribu orang kembali bersama gubernur Zerubabel dan Imam Besar Yosua, mereka mulai membangun bait suci yang telah dihancurkan tahun 587 SM. Fondasi bait suci pun mulai diletakkan, namun ada sekelompok orang menentang pembangunan tersebut dan merecoki pembangunannya, karena mereka tidak ingin penduduk Yehuda menjadi bangsa yang kuat kembali. (Ezr. 3:1-4:23).

Sekitar lima belas tahun kemudian pembangunan bait suci tidak ada kemajuan. Namun demikian tahun 522 SM, Darius raja Persia berikut, mendorong orang-orang Yahudi supaya memulai lagi pembangunan (Ez.4:24). Namun umat mengeluh bahwa mereka tidak bisa meneruskan pembangunan, sebab panen tidak cukup, makanan sedikit, dan uang kurang (Hagai 1:1-6). Tahun 520 SM, Nabi Hagai memperingati umat bahwa waktu telah habis. Umat Allah telah cukup lama menunda pembangunan kembali Bait Suci. Hagai bersama Nabi Zakharia (Ezr 5:1-2) menantang dan mendorong umat menyelesaikan pembangunan kembali Bait Suci. Pembangunan pun dimulai lagi. Dan pada akhirnya pembangunanpun selesai dan diresmikan tahun 515 (Ezr 6:13-15).

Orang - orang Yahudi mereka mencurahkan tenaga pada masa menabur, tidak ada usaha yang tidak mereka lakukan untuk memastikan kemakmuran namun ketika mereka kembali pada waktu panen, mereka kecewa. Mereka sebenarnya menyadari bahwa mereka tidak dapat memperkaya diri dengan mengorbankanTuhan, sehingga ketika mereka mengorbankan pekerjaan Tuhan maka mereka dilanda dengan krisis baik makanan, minuman, dan pakaian upah begitu sedikit sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, kehidupan umat pada saat itu, orang-orang kaya berdampingan dengan orang miskin. Dan bisa dipastikan bahwa zaman itu, sama dengan zaman mana pun dalam sejarah manusia. Matius 6:33. Mencatat ApabilaAllah dilupakan segala macam pekerjaan tidak akan membuahkan hasil. Peradapan materialistis pada masa kini harus merenungkan kebenaran ini. Apa yang dialami orang-orang Yahudi menjadi pelajaran disepanjang sejarah dalam kehidupan manusia bahwa Tuhan wajib untuk mengutamakan Dia, atau dengan kata lain Allah dijadikan prioritas yang utama baru yang lain-lainnya. Sehingga dengan demikian renungan ini dapat memberkati setiap orang yang membacanya.

SOLI DEO GLORIA

Lihat juga

Komentar


Group

Top