Sapaan Gembala

Tahun Baru, Strategi Baru

Penulis : Pdt Gelen Marpaung | Fri, 12 January 2024 - 10:02 | Dilihat : 895
Tags : Ayatalkitab Gerejareformasiindonesia Pdtgelenmarpaung Sapaangembala Tahunbarustrategibaru

Waktu terus bergulir hingga tiba saatnya memasuki tahun 2024 yang telah beberapa hari ditapaki. Waktu akan terus berjalan tanpa pernah berhenti. Urutan waktu dalam konsep Alkitab disebut kronos yang berarti waktu yang teratur dengan hitungan baku seperti hari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya. Walau seperti ada pengulangan hari, tanggal, maupun bulan, ia sesungguhnya terus bergerak maju. Kairos merupakan konsep Alkitab lainnya terkait dengan waktu. Sering dimaknai sebagai kesempatan, momentum yang tidak akan terulang kembali.

Dengan memahami konsep waktu sebagai kairos, orang Kristen mengerti bahwa waktu harus dipergunakan dengan optimal. Di Perjanjian Baru, rasul Paulus menggunakan istilah “tebuslah” (pergunakanlah) waktu, karena hari-hari ini adalah jahat (Efesus 5:16). Dengan menyadari bahwa waktu yang ada sangat terbatas dan disesaki oleh kejahatan, maka seharusnya orang Kristen dimotivasi untuk bekerja secara efektif menggunakan waktu yang tersedia.

Memasuki tahun yang baru ini, umat Kristen musti tetap memandang bahwa Tuhan memahkotai tahun dengan kebaikan-Nya (Mazmur 65:12). Tidak berarti bahwa hidup akan mudah dan selalu menyenangkan serta menguntungkan. Namun segala yang akan terjadi di tahun ini ditujukan oleh Tuhan demi kebaikan umat-Nya.

Kebanyakan orang biasanya mempunyai resolusi atau target setiap kali memasuki tahun baru. Kebanyakan resolusi yang dibuat melulu tentang pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Misalnya ingin tambah penghasilan, tambah sehat, tambah tinggi jabatan, tambah langsing, tambah subscriber, tambah follower, dll. Sebagai umat Kristen, sebenarnya kita terikat oleh aspek komunal, bukan hanya personal. Kita perlu memikirkan dan menambahkan di daftar resolusi tahun ini, apa yang bisa kita kerjakan sebagai kontribusi kepada komunitas, baik itu di gereja, di tempat kerja atau usaha, maupun di lingkungan tempat tinggal kita. Karena kesejahteraan komunal juga berkaitan dengan kesejahteraan personal (bdk. Yeremia 29:7).

Dalam upaya menggapai tujuan, perlu strategi yang jitu. Tidak cukup hanya satu strategi. Pikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Dari situ bisa diantisipasi agar hambatan tidak menggagalkan rencana. Bisa pula dipikirkan upaya penanggulangan maupun mitigasi jika ada hal-hal yang di luar kendali kita membuat rencana gagal. Misalnya saja terjadi bencana pandemi dll.

Apakah orang yang membuat rencana dengan komprehensif merupakan bentuk pengandalan diri sendiri dan tidak bergantung kepada petunjuk Tuhan atau tuntunan Roh Kudus? Tentu saja tidak. Sejak manusia pertama diciptakan, Tuhan sudah memerintahkan Adam untuk memberi nama kepada setiap makhluk hidup (Kejadian 2:19-20) Tentu saja Adam akan membuat rencana agar tugasnya berhasil. Musa, atas nasihat dari Yitro yang adalah mertuanya, berstrategi dengan mendelegasikan sebagian tugas kepada tim pelayanan dengan memilih pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang (Keluaran 18:24-25). Paulus, yang dipanggil memberitakan Injil kepada bangsa non-Yahudi, melakukan berbagai perjalanan misi untuk merintis jemaat, lalu mendelegasikan tugas penggembalaan kepada orang-orang yang dapat dipercaya. Semua yang baru saja diuraikan adalah strategi. Strategi adalah buah pikiran. Pikiran dan pertimbangan adalah anugerah Tuhan. Maka orang yang membuat rencana seharusnya memiliki relasi intim dengan Tuhan sehingga rencana dan strategi yang dipilihnya juga lebih cenderung benar dan baik.

Di tahun 2024 ini, ayo periksa target dan strategi kita. Apakah sudah ada tujuan komunal di dalamnya? Apakah tujuan dan rencana yang kita buat memuliakan nama Tuhan? Kiranya mulai dari perencanaan dan pelaksanaan, semuanya dipimpin oleh Tuhan dan menjadi kepujian dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Soli Deo Gloria!

Lihat juga

Komentar


Group

Top