Mengenal Alkitab

Pemberitaan Yang Tak Guna

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 6 February 2015 - 15:44 | Dilihat : 1577

Ibrani 4:1-2

Kalau umat pilihan yang Allah pimpin langsung saja dimurkai  karena ketidaktaatan, apalagi umat di era selanjutnya (pembaca perdana Ibrani dan setelahnya).  Pesan ini begitu menonjol di bagian ini. Meskipun Allah sangat mengasihi Israel, terbukti dari inisiatif Allah mengeluarkan mereka dari perbudakan mesir, tapi kalau kemudian bangsa yang dicintainya itu tidak setia kepadaNya dan membangkitkan amarahNya, maka yang turun bukan lagi berkat Allah tapi murka Allah.  Karena murkaNya, Israel harus berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun lamanya.  Di perjalanan itu juga tidak sedikit nyawa melayang akibat ketidakbenaran yang dilakukan (3:16-17).
 
Israel adalah contoh yang baik atasketidakbaikan dan konsekuensinya.  Ini diwanti-wanti benar penulis Ibrani kepada para pembaca perdana surat ini  yang  kebetulan punya latar sama.  Para jemaat muda yang berniat untuk berpaling dari Yesus, dan kembali pada percaya semula.  Waspada adalah kata kunci pada bagian ini (4:1).  Kata yang berarti “berhati-hati dan berjaga-jaga” ini sepertinya dituliskan penulis Ibrani dengan mengingat konsekuensi hukuman yang begitu berat.  Apa lagi kalau bukan mati, terpisahnya jiwa dari raga, karena tidak mengikuti apa yang Tuhan maui;  mati rohani yang muaranya pada kematian kekal, kematian abadi.

Senyampang masih ada waktu dan kesempatan, penulis Ibrani mengingatkan agar penerima suratnya tidak jatuh dalam lubang (kematian) yang sama.  Tetap berwaspada agar tidak dianggap ketinggalan (4:1) karena tidak bisa mengikuti ritme langkah yang Allah inginkan.  Dianggap tertinggal karena secara sengaja tak mau ikut langkah di jalan yang Allah ingini; secara sengaja menolak Allah dan menjauhkan diri dari kasih karuniaNya (12:15).  Dr. Bob Utley, seorang profesor bidang hermeneutika, menafsirkan frasa “dianggap ketinggalan” ini adalah cerminan dari kata Ibrani “ Chata”, yang berarti  “meleset dari sasaran”).  Yang dikemudian hari oleh Septuaginta diterjemahkan sebagai hamartia yang artinya “kekurangan” atau “tak mencapai”, dekat dengan “datangnya sangat terlambat”  (lih. 12:15; Rom 3:23).
Benar, janji untuk masuk kepada perhentianNya masih berlaku. Tapi itu akan menjadi sia-sia dan tidak berarti jika jemaat tidak mengindahkannya.  Penulis Ibrani menunjukkan, kata perhentian di sini tidak hanya menunjukkan pada perhentian Allah pada hari ke tujuh dari penciptaan (4:4;band Kej 2:2); atau perhentian Yosua di  Tanah Perjanjian (4:8; band Bil 13-14); tapi juga merujuk pada suatu perhentian kekal di mana orang terlepas dari segala keduniawiannya.  Bagi pembaca mula-mula surat Ibrani, bagian ini tentu sangat berarti.  Sebab ini berarti bentuk keterlepasan dari penderitaan dan aniaya yang selama ini mewarnai kehidupan mereka.

Lagi-lagi Israel menjadi contohnya.  Sama seperti para penerima surat Ibrani, umat pilihan Tuhan (Israel) itu juga mendapat, mendengar kabar kesukaan.  Tapi nyatanya kabar itu diabaikan begitu saja, sehingga pemberitaan/ pengabaran firman itu tidak berguna bagi mereka (4:2).  Di sini bukan firmannya yang tidak berguna, tapi lebih kepada orangnya yang sia-sia mendengar firman, karena tidak nampak dalah hidup sehari-harinya.  Salah satu tanda pertumbuhan dan ketidak sia-siaan, menurut penulis Ibrani, adalah jika orang dapat hidup bersama-sama oleh iman  dengan mereka yang mendengarnya (4:2). Sehingga kehidupan spiritual mereka dapat terjaga.

Ingin masuk ke dalam perhentian Tuhan? Di sini penulis Ibrani memberi tips yang sangat singkat dan jelas, yakni dengan tidak membuat firman yang kita dengar menjadi sia-sia.  Caranya adalah dengan mengekspresikannya dalam hidup persekutuan kita dengan sesama yang dipancarkan dari dan oleh iman.  Sehingga iman kita bisa berdampak bagi kemajuan iman orang lain.  Bukan kebalikannya, malah menjadi batu sandungan bagi iman orang dengan segala bentuk ketidaksinkronan antara yang didengar dengan yang teraplikasi; antara kata dangan tindakan yang mengemuka. Antara hati yang tersembunyi dengan mulut yang berbicara.  Berkata soal damai tapi mengadu domba.  Waspada!
Slawi

 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top