Sapaan Gembala

Persembahanku

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Fri, 6 February 2015 - 15:52 | Dilihat : 2345

Ada sebuah lagu anak sekolah minggu yang terasa kurang pas syairnya, yaitu; Persembahan kami sedikit sekali. Seharusnya syair ini berbunyi persembahan kami pada hari ini. Kini beredar dua versi. Semasa saya menjadi pembina guru sekolah minggu, dan mengajar dikelas calon guru, lagu ini jadi konsen saya untuk didiskusikan. Ini penting karena menyangkut paham kita akan kebenaran iman Kristen. Latar belakang pemakaian kata sedikit sekali bermaksud menggambarkan persembahan anak kecil. Namun menjadi persoalan, apakah persembahan orang dewasa, apalagi kaya menjadi banyak sekali? Artinya, persembahan disini terjebak pada nilai kuantitatif. Persembahan janda miskin dalam kisah Alkitab jelas sedikit secara kuantitatif, namun Yesus menyebutnya besar dalam kualitatif. Jadi, bukan materi yang menjadi ukuran sebuah persembahan melainkan sikap hati dalam memberi. Dalam 2 Korintus 8 dan 9:6-7, rasul Paulus mengajarkan pemahaman yang benar dalam memberi persembahan.

Pertama, Paulus mengajar orang percaya bahwa memberi tidak akan membuat kita miskin. Dan bahwa Tuhan tidak lalai memelihara umatnya, seperti kisah janda miskin. Menabur banyak menuai banyak, itulah upah orang percaya. Namun hal ini tak melulu soal angka. Jika angka itu berarti kita berhitung untung rugi dalam memberikan persembahan, dan itu tidak layak. Ini soal pemeliharaan Tuhan pada orang yang murah hati. Jadi bukan soal kembali berlipat kali ganda. Ganda dalam Alkitab lebih mengarah kepada kepuasan berkat lahir dan bathin. Ingat janda miskin yang memberikan persembahan yang total, dia tetap saja miskin setelah memberikan persembahannya.
Kedua adalah kerelaan hati. Memberi dengan kerelaan hati hanya dapat dilakoni oleh orang yang tahu bersyukur atas berkat-berkat Tuhan dalam kehidupannya. Dia memberi dengan rela hati, karena sadar semua miliknya adalah pemberian Tuhan. Tak ada yang patut dipertahankan, sebaliknya sudah semestinya dibagikan. Inilah tindakan orang beriman yang percaya pada kemurahan dan pemeliharaan Tuhan.

Ketiga, sejalan dengan itu persembahan adalah ungkapan syukur. Bersyukur, bukan bersungut, apalagi berhitung. Bersyukur atas kebaikan Tuhan, menjauhkan kita dari bersungut, merasa persembahan sebagai yang membebani. Tapi juga tak menjadi sombong hanya karena telah memberi. Berhitung, itu jelas sangat memalukan dan merendahkan Tuhan dalam kemahaannya. Seberapa besar persembahan seseorang sangat berkaitan erat dengan seberapa bersyukurnya dia kepada Tuhan. Dan berdasarkan apa yang ada padanya, bukan beban. Itu yang membuatnya tidak berhitung jumlah persembahannya, sehingga dia tetap rendah hati sekalipun banyak memberi. Apalagi berhitung berapa yang akan kembali. Itu aib baginya.

Keempat, tentu saja kepekaan. Peka pada situasi sekitar kita. Jemaat mula-mula menghimpun dana untuk membantu jemaat di Yerusalem yang dilanda kelaparan. Begitu juga kita dituntut peka pada situasi disekitar diri kita. Peka pada kebutuhan gereja dalam menjalankan roda pelayanannya. Namun juga perlu peka pada penggunaan keuangan sehingga tidak terjadi penyalahgunaan dana. Jadi kita perlu bijak menempatkan diri dalam persembahan, mulai dari paham hingga sikap, agar semuanya benar, dan persembahan kita berkenan kepada Yesus Kristus Kepala Gereja. Selamat peka dan rela memberi persembahan dengan benar.

Lihat juga

Komentar


Group

Top