Mengenal Alkitab

Membuktikan Bukan Pilihan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 6 February 2015 - 15:57 | Dilihat : 1602

Ibrani 4:6-11

Gara-gara ketidaktaatan orang mendapat hukuman.  Karena kedegilan dan keras kepala orang tidak mendapat apa yang diidamkan atau dijanjikan kepadanya.  Inilah yang dialami oleh orang Yahudi di masa Perjanjian Lama.  Karena ketidaktaatan, Allah terpaksa menghukum mereka.  Karena kedegilan, sebagian besar dari bangsa pilihan itu tidak masuk ke tempat yang Tuhan sudah janjikan.  Membuat mereka tidak masuk sampai ke tanah perhentian yang Allah tunjukkan.  

Mengunggah kembali cerita lama ini bukan tanpa alasan tentunya.  Teladan tentang ketidaktaatan bangsa Yahudi yang terjadi ribuan tahun lampau itu diangkat kembali oleh penulis Ibrani, agar para pembaca suratnya, terutama pembaca perdana yang notabene orang Yahudi itu tidak mengikuti jejak bapak moyangnya.  Penulis Ibrani menunjukkan kepada para pembacanya bagaimana konsekuensi atas ketidaktaatan.   Bagaimana bapak moyang mereka harus membayar mahal atas kedegilan yang dilakukan.  

Perhentian yang dimaksudkan bukan cuma tanah perhentian sementara, tempat di mana Yosua telah mengantarkan Israel sampai ke tempat itu (tanah perjanjian. Jika yang Allah maksud perhentian adalah tanah yang dijanjikan kepada Yosua, pasti Allah tidak akan berkata-kata di kemudian hari tentang suatu hari lain (4:8). Tapi ada suatu tempat perhentian lain yang Allah tunjukkan.  Masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah (4:9).  Yaitu perhentian yang sifatnya kekal dan abadi.   Hari di mana orang tidak lagi disibukkan dengan rutinitas kerja dan tuntutan hidup.  Seperti hari di mana Allah berhenti dari pekerjaan-Nya (4:10), setelah selama enam hari berkarya mencipta semesta.

Agar tidak tertinggal sampai ke tempat perhentian, seperti bapak moyang mereka, penulis Ibrani mengingatkan kembali kepada pembacanya tentang suatu hari lain, yaitu “hari ini”(4:7).  Hari di mana Allah menghampiri mereka melalui surat yang dia sampaikan, atau hari di mana Tuhan berbicara kepada mereka melalui hamba-hambanya.  Pesannya singkat, yakni agar tidak mengeraskan hati apabila Allah sudah bersuara mengingatkan tentang kedegilan mereka.   "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" pernyataan ini diulang sampai dua kali pada pasal berdekatan (3:7-8 dan 4:7) menunjukkan pentingnya pesan ini bagi penerima suratnya.  Menunjukkan besarnya harapan penulis surat kepada para pembacanya, agar mereka tidak hanyut oleh keras kepalanya mereka.  

Penulis ibrani berharap, para pembacanya dapat berusaha dengan sekuat tenaga untuk masuk ke dalam perhentian itu.  Dan jangan menyerah pada keadaan yang mungkin menjadi tantangan.  Supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga (4:11). Bukan maksud penulis Ibrani untuk mengajarkan bahwa keselamatan di akhir perhentian dapat di upayakan dengan segala jasa dan kebaikan.  Tapi ingin menunjukkan betapa Allah mengasihi orang-orang yang dianugerahinya, dan berupaya menjaga, memproteksi mereka untuk tetap ada di jalanNya.  Salah satu caranya adalah dengan bersuara kepada umatNya itu, baik langsung, melalui hambaNya, berupa suara atau tertulis.  Jika sudah diberitahu, sudah diingatkan Tuhan, tapi tetap saja degil dan keras kepala enggan menerima, maka orang yang demikian sudah menunjukkan bahwa dia memang layak dimurkai.  Jangankan berdiskusi soal pilihan atau bukan.  Sikap mereka yang menolak kabar kebenaran adalah orang yang layak dimurkai Tuhan.  Orang bukan pilihan membuktikan sendiri dirinya kepada dunia bahwa dia memang bukan pilihan. Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top