Mengenal Alkitab

Teladan Iman Imam Besar Agung

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 6 February 2015 - 16:14 | Dilihat : 2304

Ibrani 4:14-16

Tidak satu bagian pun dari hidup manusia yang lepas dari pengamatan Tuhan.  Tak satupun dari jengkal langkah yang berada di luar pengawasannya.  Bahkan pertimbangan di alam pikir manusia pun Allah mampu memahami, baik pun jahat (4:12).  Karenanya siapakah manusia yang dapat melepaskan diri dari penghakiman Allah.  Melepaskan diri dari tuntutan Firman Allah? Satu pun tidak.  Tidak ada satu makhluk pun dapat tersembunyi dari hadapanNya.  Mustahil ada manusia bisa melepaskan diri dari tuntutan Allah. Segala sesuatu terbentang jelas bagiNya. Karena itu setiap manusia perlu mempertanggungjawabkan setiap hal yang menjadi pilihan dan langkah hidupnya di hadapan Allah.  

Kitab suci mencatat kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kejadian 6:5).  Manusia begitu familiar dengan dosa, bahkan telah tertawan olehnya.  Dengan demikian, muara dari semua itu tak lain adalah kematian kekal semata.   Dengan cara apakah manusia bisa mendamaikan dirinya dengan Allah dan memenuhi segala tuntutanNya?  Tak ada satu pun cara yang dapat dilakukan manusia untuk memenuhinya.  Bersyukur Allah mengambil inisiatif untuk mendamaikan diriNya dengan ciptaanNya.  Dengan cara mengutus AnakNya yang tunggal untuk menjadi juru damai bagi Allah dan manusia.  Dialah Imam Besar Agung, yaitu Yesus, Anak Allah (4:14).  

Di sinilah penulis Ibrani mengingatkan kembali tentang pribadi Agung yang berperan sentral dalam keselamatan para penerima suratnya.  Orang-orang sama yang juga ingin meninggalkan imannya kepada sang pendamai itu.  Kepada mereka ini penulis Ibrani berkata, agar tetap berpegang teguh pada pengakuan imannya (4:14).  Bukan hanya karena Yesus satu-satunya Imam Besar yang sanggup mendamaikan, tapi juga Dia sendiri telah menujukkan teladan penting.  Imam besar Yesus sama sekali berbeda dengan Imam Besar yang hidup di masa itu.  Para rohaniawan “maha agung” yang hanya bisa menuntut umatnya agar melakukan ini dan itu, tapi diri sendiri tak bisa menunjukkan telah hidup benar dan melampaui.  Imam Besar Agung Yesus Kristus adalah imam besar yang turut merasakan kelemahan-kelemahan umatnya.  Imam besar yang mengerti benar kondisi umatnya, bahkan dalam beberapa hal pun mengalami apa yang umat alami.  Salah satu kesamaan itu adalah umat dicobai, Dia pun dicobai.  Tapi ada pembeda di sana.  Jika umat (manusia) dicobai terjatuh dalam pencobaan itu, Dia, Kristus telah pula dicobai, tapi tidak berbuat dosa.

Di bagian ini penulis Ibrani juga menunjukkan paradoks dari Yesus Kristus.  Dia yang transenden, nun jauh di sana, yang seharusnya tak terjangkau manusia; yang telah melintasi semua langit (4:14) dan telah ada sejak semula. Dia yang penulis Ibrani sebut sebelumnya, menjadi permulaan segala sesuatu, yang meletakkan dasar bumi dan membuat langit (Ibrani 1:10); adalah juga dia yang dekat.  Allah yang rela mengosongkan diriNya (kenosis) mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:7).  Menjadi manusia yang seutuhnya, yang juga harus rela untuk mengalami derita dan pencobaan.   Kalau Allah yang menjadi manusia, yang menyembunyikan keAllahanNya, bisa melalui setiap cobaan yang ada, maka seharusnya menjadi teladan atau inspirasi bagi umatnya dalam berjuang melampau cobaan yang ada.  Kira-kira inilah yang penulis maksudkan bagi para pembaca perdana suratnya.

Karena itu, penulis Ibrani mengajak agar para penerima suratnya dapat memiliki hati yang ingin maju.  Memiliki keberaniaan untuk menghampiri takhta kasih karunia dan berjuang  untuk itu.  Bukannya malah menyerah karena derita dan pencobaan.  Alasannya jelas, agar: “supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”( 4:16).  
Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top