Tokoh

William Tyndale, Reformator Inggris

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 6 February 2015 - 16:24 | Dilihat : 2756

Perjuangan Seorang Reformator Inggris William Tyndale

William Tyndale adalah seorang reformator dan sekaligus pemimpin rohani Inggris. Tyndale adalah seorang teolog dan sarjana sejati. Ia juga seorang yang sangat jenius. Ia sangat fasih dalam delapan bahasa, termasuk Ibrani dan Yunani Kuno, Tyndale berasal dari Gloucester dan mulai mengenyam pendidikan di Oxford pada tahun 1510, kemudian dia melanjutkan kuliahnya di Cambridge. Prioritas hidupnya mengajarkan kabar baik kebenaran iman Kristen kepada orang-orang Inggris, dengan cara ingin menerjemahkan Alkitab PB dalam bahasa Inggris. Namun sayang, kerinduan Tyndale tidak mendapat respon dari para uskup London waktu itu.

Tahun 1523, Tyndale pergi ke kota-kota bebas di Eropa -- Hamburg, Wittenberg, Cologne, dan akhirnya di kota para penganut Lutheran, Worms. Di sana, Tyndale mendapatkan kehormatan untuk menjadi orang pertama yang mencetak Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris (1525 -- 1526), sekaligus menjadi orang pertama yang memanfaatkan mesin cetak Gutenberg untuk mencetaknya.
Terjemahan Perjanjian Baru yang dikerjakan Tyndale dengan cepat diselundupkan ke Inggris. Di sana, terjemahan tersebut diterima dengan tanggapan yang kurang antusias dari pihak-pihak yang berkuasa. Raja Henry VIII, Cardinal Wolsey, dan Sir Thomas More misalnya, sangat marah. Sir Thomas More menyatakan, "[Karya itu] tidak pantas disebut sebagai Perjanjian Kristus, tetapi Perjanjian Tyndale sendiri." Pihak pemerintah pun membeli salinan-salinan terjemahan tersebut (yang ironisnya, justru membiayai karya Tyndale selanjutnya) dan menyiapkan rencana untuk membungkam Tyndale.

Sementara itu, Tyndale pindah ke Antwerp, sebuah kota yang secara relatif bebas dari agen-agen pemerintah Inggris maupun Kekaisaran Romawi Suci (dan Katolik). Selama 9 tahun ia berhasil menghindari pihak yang berwenang, merevisi terjemahan Perjanjian Barunya, dan mulai menerjemahkan Perjanjian Lama dengan bantuan teman-temannya. Pada akhirnya, hasil terjemahan Tyndale menjadi sebuah penentu sejarah Alkitab berbahasa Inggris dan bahasa Inggris itu sendiri.
Pemerintah dan yang tidak sasyarakat banyak lagi-lagi tidak setuju dengan pandangan dan tindakan Tyndale, mereka mencari cara untuk menyingkirkannya. Pada bulan Mei 1535, Raja Phillips memancing Tyndale untuk keluar dari tempat perlindungannya menuju tangan para serdadu. Tyndale segera dibawa ke Kastel Vilvoorde, penjara negara yang sangat besar di Low Countries dan dituduh telah melakukan bidah.

Pengadilan untuk kasus bidah di Belanda saat itu dipegang oleh komisionaris khusus dari Kekaisaran Romawi Suci. Untuk menyelesaikan kasus ini membutuhkan waktu berbulan-bulan. Pada waktu ini, Tyndale memiliki banyak waktu untuk merefleksikan pengajarannya, seperti bagian dari salah satu traktatnya adalah: "Janganlah kiranya hal ini menjadikan Anda putus asa atau patah semangat, wahai Pembaca, bahwa apa yang kita lakukan ini menjauhkan kita dari pedihnya hidup dan mempunyai hak milik, atau yang kita lakukan ini merusak kedamaian yang didirikan oleh sang raja, atau mengkhianatinya. Kita membaca Firman yang baik bagi kesehatan jiwa kita, sebab jika Allah ada di pihak kita, maka tidak penting siapa yang akan menjadi lawan kita, entah itu uskup, kardinal maupun paus."

Pada awal Agustus tahun 1536, Tyndale ditetapkan sebagai seorang bidah, dan ia dibawa ke tengah-tengah alun-alun kota dan diberi kesempatan untuk mengaku bersalah. Kesempatan itu ditolaknya, lalu dia diberi kesempatan untuk berdoa. Seorang sejarawan Inggris, John Foxe, mengatakan bahwa Tyndale berseru, "Tuhan, bukalah mata Raja Inggris!"

Pada tahun 1536, atas hasutan para agen Raja Henry VIII dan Gereja Anglikan, Tyndale dibawa menuju sebuah tiang, rantai besi dan tali dililitkan ke lehernya. Kemudian, ia dibakar di atas tumpukan kayu di hadapan banyak orang dan anggota pemerintah. Jm/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top