Sapaan Gembala

Labelisasi Ekspresi Cinta

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 12 February 2015 - 13:05 | Dilihat : 1735

Di kehidupan selalu akan ada aral melintang.  Tantangan, hambatan dan cobaan/ujian adalah warna yang biasa di sana.  Yang berbeda adalah respons atas tantangan tersebut.  Ada yang merasa itu sebagai sesuatu yang mustahil dilalui lalu perlahan undur diri, ada yang sama-sama merasakan itu berat, tapi tetap bertahan dan coba mengarungi. 

Di kenyataan, tak jarang orang yang merasai beratnya tantangan yang menghadang di kehidupan dan pelayanan dianggap sebagai kurang beriman.  Bahkan labelisasi dianggap tak mencinta pada sang ilahi pun seringkali terdengar nyaring di telinga.  Miris, hanya karena orang berespon berbeda pada tantangan kehidupan, dianggap tak cinta ilahi.  Padahal ada begitu banyak tokoh kitab suci yang merasai beratnya melayani dan menjalani hidup ini.  Tak jarang kata keluhan bahkan “hujatan” atas diri pun mencuat ke muka.  Apakah mereka juga masuk dalam kategori tak cinta ilahi?  Jika jawabannya adalah benar, maka sesungguhnya itu adalah kesimpulan yang gegabah.  Sebab justru dalam ketidakmampuan; dalam “ketidakbaikan”;  dalam ketidaksanggupan pada tantangan yang berat itulah banyak tokoh kitab suci kian bersandar pada sang ilahi. 

Membincangkan beratnya tantangan pelayanan, Timotius pun merasainya.  Paulus menulis bagaimana Timotius kerap meneteskan airmata karena beratnya tantangan yang dihadapinya.  Tapi tetesan airmata  dan beratnya tantangan yang dirasa sama sekali tak menunjukkan bahwa dia tidak cinta dengan Allah yang mempercayakan pelayanan kepadanya.  Untuk menjalaninya Timotius bahkan harus berjuang mati-matian.  Keyakinan yang tetap pada karunia Tuhan adalah ekspresi cintanya.  Sebuah keutamaan yang menjadi sandarannya untuk menjadi kuat.  Hal yang sama juga diingatkan Paulus selaku mentor pelayanan Timotius kepada dirinya (2 Tim 2:1). 

Melihat juniornya merasa sangat berat melayani, Paulus tidak lantas merekomendasikan agar Timotius berhenti melayani.  Ekspresi cinta Paulus kepada juniornya tidak ditunjukkan Paulus dengan mempermaklumkan rasa itu, tapi justru mendorong rasa itu untuk dijadikan pemicu bagi motor pelayanan.  Ini pun adalah bentuk ekspresi cinta Paulus kepada Allahnya, sang empunya pelayanan.  Paulus terus mendorong Timotius agar semakin giat melayani dan lebih “berprestasi” dalam melayani. Ditandai dengan tantangan Paulus agar Timotius semakin memperdalam dan memperluas jangkauan pekabaran Firman Tuhan dengan melakukan pemuridan kepada orang-orang pilihan.  Yakni orang yang dapat dipercaya dan cakap mengajar (2 Tim 2:2).  Bukan hal mudah mencari orang-orang pilihan semacam ini ditengah kecenderungan umat yang justru berlaku sebaliknya.  Yang senang dengan ajaran lain dan dongeng-dongeng (1 Tim 1:4);  orang-orang yang senang mengajarkan taurat, tapi tidak mengerti apa yg diajarkan (1 Tim 1:7).  Karena itu diperlukan kemelekatan sepenuhnya dari Timotius kepada Allah sang empunya pelayanan dan hakim atas pilihan. 

Benar, tidak mudah mengekspresikan cinta kepada Allah dalam situasi dan kondisi yang juga tak mudah.  Namun demikian, itu bukanlah dalih untuk dimaklumi.  Sebaliknya justru  menjadi pemicu bagi ekspresi cinta yang lebih dalam lagi dan bisa dirasai.   Untuk itu Paulus kembali mengingatkan Timotius tentang pentingnya memiliki mental layaknya seorang prajurit.  Militansi prajurit yang baik dalam berjuang ditunjukkan dengan tidak memusingkan diri & penghidupannya patut diteladani.  Jangankan berpikir nanti akan makan apa, tinggal di mana atau apa yang akan dikenakan – ketika perintah itu datang, maka prajurit yang baik akan segera melaksanakan.  Bahkan kalau perlu nyawa pun akan dikorbankan (2 Tim 2:4), ini ekspresi cinta pertama yang Paulus ingin Timotius miliki.  Tak cukup hanya dengan militansi; dalam melayani, mental seorang juara pun patut dimiliki.  Sebab seorang juara tidak hanya bisa mempersiapakan diri dengan latihan fisik agar menjadi juara; tapi juga harus mengikuti aturan yang di buat (2 Tim 2:5).  Jika tidak, alih-alih mendapat kemenangan, yang diterima justru didiskualifikasi oleh penyelenggara.  Di sinilah proses yang benar juga dituntut untuk menjadi juara.  Cinta seorang yang bermental juara diekspresikan juga dalam ketundukan pada aturan.  Hal yang sama juga Paulus harapkan Paulus dipunyai oleh Timotius. 

Respons cinta tidak harus selalu sama.  Tak perlu ada jumawa di sana.  Ekspresi cinta kepada Tuhan adalah proses panjang sebuah perjalanan.  Tak jarang, demi cinta orang harus lebih dulu merasakan beratnya tantangan yang ada.  Kesulitan dan tantang yang dirasa tak selamanya membuat lekang cinta, tapi justru semakin dapat mengeratkannya.  Biarlah diri dan ilahi yang menjadi saksi cinta yang terekspresi.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top