Mengenal Alkitab

Imam Yang Sempurna

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 12 February 2015 - 13:10 | Dilihat : 2138

(Ibrani 5:1-10)

Seorang Imam Besar seharusnya bukanlah “orang biasa”, tapi orang yang “super”.   “Super”, karena memiliki hak istimewa dari Allah untuk menjadi perantara antara Allah dan Manusia.  Perantara antara Pencipta dan ciptaanNya, untuk mempersembahakan korban karena dosa (1).   “Super”, karena seorang imam besar memiliki empati yang besar terhadap umatnya.  Harus menyadari, bahwa dirinya adalah orang yang sama lemah (berpotensi dosa), sama seperti orang jahil dan sesat yang dilayani dalam ritual  pengorbanan melalui dirinya (2).  Sadar, bukan saja orang yang wajib mempersembahkan korban, dirinya sendiri pun harus berlaku sama (3).  Itu pun hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun Imam tertinggi atau imam kepala itu bisa memasuki tempat maha kudus di Bait Allah untuk mempersembahkan korban pendamaian untuk dosa seluruh umat, termasuk dirinya.

Imam besar bukanlah jabatan yang bisa dikejar seperti layaknya jenjang kepangkatan.  Orang dapat menjadi imam besar, hanya karena dipanggil oleh Allah sendiri, seperti yang terjadi  dengan Harun (4).  Dan setiap masa hanya ada satu imam besar atau imam tertinggi.  Jika ada lebih dari itu, maka itu adalah bentuk pelcehan atau konspirasi politik manusia, dan bukan karena Allah yang memilih dia, seperti terjadi pada Imam Besar Hanas dan Kayafas (Kis 4:6). Dalam satu masa ada dua kepemimpinan imam besar.  Untuk itu, seharusnya tidak ada ruang bagi imam besar untuk mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri (4). 

Tuntutan serupa juga dikenakan kepada Kristus tatkala “didaulat” menjadi “Imam Besar Agung”.  Dia terbukti memenuhi dua syarat utama imam besar.  Pertama, sebagai Imam Besar Agung bukan atas pemuliaan sendiri (5); tapi atas perkenan Ilahi.  "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan  pada hari ini"(5); "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek”(6).  Kedua, sebagai manusia yang sempurna, Yesus juga memiliki empati yang tinggi terhadap umatNya.  Sekalipun Dia adalah Anak Allah, Ia telah belajar menjadi taat dalam memenuhi tugasNya, kendati penuh derita(8).   Kristus adalah Imam yang berempati.  Mengerti, menyelami dan mengalami sendiri pergumulan umatNya.  Jika umatNya dicobai, demikian juag diriNya. Tapi yang menjadi pembeda adalah, Dia tidak jatuh ke dalam dosa.  Golgota adalah puncak pergumulan sekaligus ketaatanNya.  Inilah keunggulan Iman Besar Yesus yang melebihi imam Harun dan Lewi, sebab Ia tidak pernah menyimpang dari kehendak Allah (ayat 4:15, 5:8).  Jadi tidak perlu melakukan pengorbanan bagi dosa dirinya.  Tapi justru menjadi korban pengapus dosa manusia seluruhnya. 

Yesus adalah teladan sempurna bagi ketaatan.  Sebagai manusia seutuhnya bisa saja dia berpaling dari tugas yang Allah beri kepadaNya.  Tapi hal itu tidak dilakukannya.  Justru Dia rela menjadi korban sempurna bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali para pembaca perdana surat Ibrani, pun kita saat ini.  Sebagai Imam Besar Agung, Yesus adalah Imam yang jauh melebihi para imam besar yang dihormati Ibrani.  Seharusnya tidak ada alasan lagi orang berpaling dari Kristus dan kembali pada iman sebelumnya.  Sebagai Imam Besar Agung, Dia adalah Imam yang sempurna.  Ia menjadi Juruselamat dan Imam Besar yang sempurna karena penderitaan dan kematian-Nya dijalani tanpa dosa.  Kristus memenuhi syarat dalam segala hal  untuk menyediakan keselamatan kekal bagi manusia.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top