Sapaan Gembala

Pemeliharaan Tuhan

Penulis : Pdt Netsen | Fri, 13 February 2015 - 16:33 | Dilihat : 7386

Allah adalah pencipta sekaligus pemelihara. Statement ini adalah dasar yang penting dalam kita memahami providensi Allah. Pemeliharaan Allah bukan saja atas manusia yang dicipta menurut gambar dan rupaNya, tetapi atas semesta yang telah dijadikanNya. Dalam salah satu bagian khotbah di bukit Yesus berkata; Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Atau, Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Allah mendandaninya dengan keindahan yang begitu rupa (Mat. 6:26-29). kalau demikian apa yang harus diragukan akan pemeliharaan Tuhan? Namun tidak sedikit orang Kristen yang mengaku percaya kepada Allah, tidak hanya ragu akan pemeliharaan Allah, tetapi salah mengerti akan arti pemeliharaan Allah.

Sehingga sering muncul pertanyaan, Apakah hidup dipelihara oleh Tuhan? Atau, apakah Tuhan memperhatikan dan memelihara kehidupan ini? Kalau iya, mengapa terjadi musibah ini dan itu, mengapa terjadi kesulitan ini dan itu? Banyak orang menanyakan hal ini lebih karena kita ingin mendapatkan ‘rumusan yang jelas’ dan kepastian akan pemeliharaan Tuhan. Tidak mudah memahami pemeliharaan Tuhan. Ketidakmudahan ini juga tampak dalam sebagian kehidupan para tokoh iman. Israel sebagai umat pilihan Allah berkali-kali gagal dalam mengerti akan pemeliharaan Tuhan. Keluar dari tanah Mesir berjalan di padang gurun menuju tanah perjanjian, mengalami mujizat demi mujizat tidak pernah cukup membuat sebagian dari mereka untuk tetap setia kepada Tuhan. Memasuki tanah perjanjian, hidup dan tinggal di sana, di tanah pusaka yang Tuhan berikan tetap harus membuat mereka bergumul dengan pemeliharaan Tuhan. Betapa tidak? Karena di tanah yang dijanjikan Tuhan itu pun mereka kerab mengalami bencana kelaparan. Tidak hanya kelaparan, bahkan mereka dijajah oleh bangsa yang tidak mengenal Allah. Di tawan dan dibuang ke pembuangan (Asyur dan Babel). Apakah Tuhan tidak memelihara mereka? Tuhan memelihara mereka. Melalui hukuman Allah memelihara mereka. Allah memelihara umatnya dengan cara Dia. Bukan dengan cara mereka. Lagi-lagi, tidak mudah dalam memahami pemeliharaan Allah dalam hidup ini. Meski demikian kita tetap harus masuk dalam cara pemeliharaan Allah betapa pun itu tidak mudah. Karena itu diperlukan ketaatan yang totalitas dalam menjalani setiap pemeliharaan Allah. Itulah yang dialami dan dijalani oleh para nabi Tuhan dan para rasulNya yang sejati.

Kegagalan dalam memahami pemeliharaan Tuhan, bukan saja dialami oleh Israel sebagai sejarah tetapi juga dalam kehidupan gereja dan pribadi orang Kristen yang hidup di kekinian pun tak sedikit memahami salah akan pemeliharaan Tuhan. Manusia kerap mengukur pemeliharaan Allah dengan ukuran yang kuantitatif. Misalnya, pemulihan ekonomi, dari tidak ada apa-apa menjadi jutawan bahkan menjadi milioner. Atau disembuhkan dari sakit-penyakit. Jika pemeliharaan Tuhan hanya sebatas itu, apa dan dimana hebatnya pemeliharaan Tuhan. Tidak ada hebatnya. Karena ternyata orang fasik pun dapat mengalaminya, dan setan pun bisa melakukan perkara-perkara itu. Pemeliharaan Tuhan atas hidup orang percaya tidak sekedar itu. Ketika dikesulitan hidup yang dialami oleh orang percaya, Tuhan tetap hadir dan memelihara mereka.

Pemeliharaan Tuhan adalah unik pada tiap orang dan pada tiap zaman. Berkali-kali Alkitab memberikan contoh pemeliharaannya kepada orang yang diperkenankannya, baik kepada mereka yang dipercayaakan kekayaan seperti Ayub maupun Zakeus si pemungut cukai. Tetapi juga Tuhan menunjukkan pemeliharaannya pada mereka yang hidup dalam kemiskinan, seperti, seorang janda miskin (di PL dan PB) juga kepada Lazarus. Sungguh unik pemeliharaan Tuhan. Apa yang di katakan Daud dalam mazmurnya, “Tuhan adalah gembala ku...” (Mzr 23:1a) menjadi salah satu kunci bagi kita untuk menyerahkan hidup dalam pemeliharaan Allah. Dalam imannya Daud sadar betapa Tuhan adalah gembala yang tahu kemana Dia harus menuntun. Tuhan yang adalah gembala Agung kita, dalam kepastianNya Dia menuntun kita pada satu hidup yang pasti, yaitu kekal. Tidak ada yang salah, ketika Tuhan mempercayakan kepada kita harta, lalu kita memiliki asuransi, memiliki tabungan, dan jaminan hari tua, selama itu tidak mengiring hidup kita pada keangkuhan, keegoisan dan bahkan kehilangan pegangan pada Tuhan. Tetapi sebaliknya pengharapan dan keterpautan kita pada Tuhan sungguh adalah hal utama dalam persekutuan dengan Dia dan hidup berarti bagi sesama. Satu hal yang penting, orang yang sadar akan pemeliharaan Tuhan di hidupnya akan mampu mengucap syukur atas apa yang Tuhan perkenankan. Baik ketika sakit maupun sehat, ketika kecupkan maupun kekurangan, dan dia akan tetap menjaga hidup benar dan melakukan kehendak Allah. amin

Lihat juga

Komentar


Group

Top