Tokoh

Isaac Watts, Penulis Lagu

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Fri, 13 February 2015 - 18:47 | Dilihat : 2091

Pernakah kamu mendengar tentang seorang anak laki-laki yang menyukai sajak-sajak? Namanya Isaac Watts, dan dia dijuluki “Bapa Kidung Rohani” karena dia menulis begitu banyak lagu yang indah seperti “Dunia Gemar dan Soraklah” dan “Yang Berhati Tulus, Nyanyilah Bersyukur”. Dia disebut seorang jenius, tetapi kehidupan tidak selalu mudah bagi dia, seperti yang akan kita liat nanti.

Ketika Isaac masih bayi, ayahnya dimasukkan ke dalam penjara oleh karena kepercayaannya dan karena mengajarkan Alkitab di gerejanya yang kecil. Ibu Isaac membungkus Isaac yang masih bayi itu dalam sebuah selimut dan pergi ke penjara yang dingin itu untuk mengunjungi Pendeta Watts. Ibunya mendekap Isaac  era-erat  supaya tetap hangat, tetapi orang-orang berpendapat bahwa kunjungan-kunjungan ke penjara yang dingin itu mengakibatkan Isaac  sering sakit ketika dia masih kecil. Meskipun tubuhnya tidak terlalu kuat, dia terus bertumbuh dan dia memiliki daya imajinasi yang sangat kuat, sehingga pada usia tujuh tahun dia mampu menulis sajak yang bagus dengan menggunakan huruf-huruf dari namanya. Ini dinamakan akrostik. Mungkin kita ingin membuat akrostik dengan nama sendiri.

Jika kita pernah pindah ke sebuah kota yang baru, kita mungkin mengerti mengapa Isaac bersusah hati ketika dia baru berusia 9 tahun. Isaac menyukai rumahnya yang nyaman, teman-temannya, dan kota kediamannya; tetapi sayang keluarganya harus pindah ke kota lain. Di kota yang baru, ayah Isaac bekerja di sebuah toko pakaian dan membuka sebuah sekolah. Isaac senang berada didekat ayahnya dan begitu buku banyak yang ada di tempat mereka. Kemudian Isaac mulai mempelajari bahasa Latin, Yunani, Ibrani, dan Prancis dengan cepat, dan dia menjadi murid yang sangat pandai.

Tetapi suatu kesusahan lain menimpa Isaac sebelum ulang tahunnya yang ke sepuluh, yaitu ketika ia menderita penyakit cacar yang mengerikan. Karena dia tidak dapat pergi keluar untuk bermain, Isaac yang malang harus tinggal di rumah dan beristirahat. Isaac hanya terhibur dengan buku-bukunya, dan dia melanjutkan menulis dalam buku hariannya. Sementara itu, dia menggunakan seluruh energi dan bakatnya untuk menolong teman-teman gerejanya, dan menyiapkan sebuah lagu bagi mereka untuk dinyanyikan dalam pertemuan mereka setiap minggu.

Saat Isaac menginjak remaja, beberapa orang yang bukan anggota gerejanya mengatakan bahwa musiknya terlalu sederhana dan menggunakan kata-kata yang bodoh. Isaac ingin menjadi orang yang tabah seperti orang tuanya, dia tahu bahwa Tuhan telah memberikan kepadanya lagu-lagu itu dan dia tetap menulis kidung-kidung rohani untuk gereja dimana mereka beribadah.

Isaac akhirnya pulih dari semua penyakit masa kecilnya dan dari semua pencobaan yang ia hadapi. Dia hidup lama dan bahagia, tetapi dia tidak pernah melupakan air mata masa kecilnya, dan bagaimana Tuhan memberi dia pengharapan. Setelah dewasa Isaac membuat buku nyanyian rohani yang pertama bagi anak-anak dan menulis syair-syair untuk anak-anak. Pengalaman-pengalaman yang ia rasakan, menjadikan itu sebuah kenangan yang indah dalam hidupnya. Hingga suatu hari, dari kenangan-kenangan  yang indah itu dia menulis sebuah sajak yang kemudian dijadikan sebuah lagu rohani “Berjalan ke Sion”.

Keberhasilan Isaac Watts bukan terletak pada kepandaiannya dalam menulis sajak dan lagu, tapi terletak pada kemampuan dia tetap berpengharapan pada Tuhan dan mengelolah semua yang dia miliki untuk kepentingan orang banyak disekitarnya. Angkatlah dagumu, tabahkanlah hatimu, dan beritakanlah sukacitamu. /jm/dbs           

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top