Mengenal Alkitab

3 Penanda Dewasa Rohani

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Fri, 13 February 2015 - 18:54 | Dilihat : 8462

Ibrani (5:11-14)

Seseorang dianggap benar-benar telah dewasa bukan karena tingginya melebihi tinggi orang orangtuanya.  Atau postur tubuhnya lebih besar dari pada orang kebanyakan.  Orang disebut dewasa bukan hanya secara fisik dia bertumbuh, tapi juga pemahaman dan cara berpikirnya.  Sebutan dewasa tidak melulu terkait ukuran angka kualitatif, tapi menunjuk pada ukuran kualitatif seseorang.  Demikian juga kedewasaan secara spiritual. 

Orang bertumbuh secara rohani tidak dilihat dari berapa lama dia telah menjadi kristen.  Atau dari urutan ritual gerejawi yang dijalani, seperti sudah bertobat, dibaptis atau sidi.  Secara rohani orang disebut dewasa adalah ketika kerohaniannya mengalami pertumbuhan yang ditandai beberapa hal penting.  Tanda yang sama juga pernah penulis Ibrani kemukakan kepada penerima suratnya yang nyaris meninggalkan Tuhan karena memandang iman semula lebih “mudah” dan nikmat dijalani, dari pada ikut Kristus tapi melulu menanggung derita dan siksa.  Penulis Ibrani menyebut tanda kedewasaan rohani adalah:

  1. Antusias Mendengar kebenaran (5:11)

Penulis Ibrani sangat menyayangkan kondisi kerohanian penerima suratnya yang stagnan, bahkan cenderung menurun. Penurunan itu jelas ditandai dengan ketidakantusiasan mereka mendengar kebenaran:“lambannya mereka mendengarkan,” lambannya mereka mengerti dan memahami kebenaran (11).  Kebenaran yang disampaikan ditanggapi bak angin lalu saja.  Masuk ke telinga, tapi langsung dikeluarkan kembali.  Sehingga alih-alih dapat menarik makna dari setiap kebenaran yang disampaikan, menikmati, memahami, dan mengerti kebenaran saja kesulitan.  Bukan lantaran faktor kecerdasan, tapi sebenarnya lebih karena telinga mereka disendengkan pada hal lain yang dianggap lebih nikmat dan mudah dirasai (iman semula).  Hal ini tentu saja menambah kerumitan dalam mengajar kebenaran kepada mereka.  Meskipun banyak pengajaran yang harus disampaikan, tapi akan sulit atau sukar untuk disampaikan gara-gara kecenderungan hati orang (sendeng telinganya) bukan pada pengajaran yang disampaikan.  Inilah penanda negatif dari ketidakbertumbuhan kerohanian. 

2. Pertumbuhan Pemahaman Kebenaran (12)

Penanda kedua adalah tentang pertumbuhan pemahaman kebenaran.  Semakin panjang seseorang mengenal kebenaran, sepatutnya kebenaran itu memberi dampak pada diri dan pemahamannya.  Tapi sungguh ironi, lamanya waktu bersinggungan dengan kebenaran nyatanya tak berdampak apapun pada kerohanian penerima suratnya.  Mereka yang seharusnya sudah bisa menjadi pengajar, tapi nyatanya masih perlu diajar.  Sialnya lagi, yang kembali harus diajarkan adalah soalan yang sangat mendasar tentang asas-asas pokok dari penyataan Allah (12).  Lamanya waktu tak dibarengi dengan bertambahnya pemahaman.  Para penerima suratnya nyatanya masih seperti bayi yang senang dengan “susu,” sesuatu yang manis, yang enak didengar, yang ringan-ringan dan mudah untuk ditelan.  Dan bukan makanan “keras”  yang sewajarnya menjadi porsi mereka.  Dengan ini penulis Ibrani berbicara keras.  Jika mereka masih seperti bayi dan terus menginginkan “susu” untuk dikonsumsi, maka mereka tidak akan mungkin memahami ajaran tentang kebenaran (13).

3. Memiliki “Panca Indera” Terlatih

Orang dewasa tidak lagi mengonsumsi makanan ala bayi.  Sebab, selain kandungan nutrisi yang dibutuhkan orang dewasa jauh lebih banyak dari makanan bayi, tekstur makanannya pun berpengaruh terahadap kenikmatan merasa.  Karena itu, orang dewasa haruslah mengonsumsi makanan dewasa dengan kandungan nutrisi yang cukup untuk orang dewasa,  yang teksturnya akan jauh lebih keras dari makanan bayi.  Begitu pula dengan kebutuhan kedewasaan rohani seseorang, harus dicukupkan pula dengan kandungan nutrisi spiritual yang cukup.  Dan itu tidak didapatkan dari makanan bayi. 

Orang yang dewasa hidupnya penuh dengan dinamika.  Kadang naik, kadang juga turun.  Kadang diatas, tak jarang juga terpuruk. Baik dan jahat pun akan selalu mengitarinya.  Tapi orang yang dewasa akan mampu memilah mana yang baik dan mana buruk.  Mana benar dan mana salah (14).  Ini bukanlah sesuatu yang instan atau mudah didapat, tapi harus melalui latihan yang panjang.  Orang yang memiliki kecenderungan seperti anak-anak tak mungkin bisa melakukannya.  Karena keinginan untuk melatih tak ada.  Sebab yang diingini hanya merasai yang nikmat saja.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top