Mengenal Alkitab

Lagi, Penanda Dewasa Rohani

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Mon, 23 February 2015 - 11:20 | Dilihat : 1556

Ibrani 6:1-2

Sepekan lalu kita bersama merenungkan tentang ciri penanda orang dewasa secara rohani.  Kali ini kita akan kembali lagi melihat penanda itu, tapi dalam ranah yang lebih khusus.  Penanda kedewasaan rohani adalah tumbuh dalam pemahaman kebenaran.  Orang yang pemahaman kebenarannya bertumbuh  ditunjukkan dengan:

  1. Tidak lagi berkutat pada soalan dasar (6:1).

Hal-hal dasar dalam pemahaman iman Kristen memang merupakan hal yang penting untuk selalu diingat.  Karena itu adalah “benteng” dasar iman seseorang.  Jika benteng itu tidak teguh, maka kemungkinan orang untuk terpeleset dari iman Kristiani dan berpaling pada wawasan dunia lain, sangat besar.    Sebaliknya, jika pemahaman dasar itu kuat, maka niscaya iman seseorang akan terjaga.  Tapi jika orang hanya bergelut pada hal yang sama, sementara jika diukur secara waktu harusnya dia sudah menjadi dewasa, maka menunjukkan pemahamannya pada kebeneran tidak bertumbuh.  Jemaat penerima surat Ibrani nampaknya mengalami hal demikian.  Meskipun jika diukur dari waktu mereka sudah lama bersinggungan dengan kebenaran, tapi nyatanya kebenaran itu tidak pernah menunjukkan pertumbuhannya.  Seperti kita pelajari minggu lalu, penerima surat Ibrani hanya senang dengan susu dan bukan makanan keras.  Senang diperlakukan layaknya seorang bayi yang melulu harus selalu dituruti permintaannya, diberi perhatian lebih dan banyak hal lagi yang menuntut kemudahan dan serba instant.  Itulah bayi. 

Bagian ini penulis Ibrani mengingatkan sekaligus mengajak jemaat untuk bertolak  -- bukan meninggalkan atau melupakan sama sekali -- dari kebenaran dasar itu, menuju atau mengarah kepada kebenaran yang penuh, keberan yang utuh.  Dan itu hanya bisa diwujudkan jika ada progresifitas kemajuan di sana, dan bukan stagnan pada soalan yang mula saja.  Bertolak dari prinsip-prinsip perdana, untuk terus maju menikmati pelajaran-pelajaran yang lebih lanjut tentang kedewasaan kehidupan Kristen yang ditandai dengan pergumulan mendalam dan aplikasi kebenaran. Bukan mudah, tapi hal itu perlu dilakoni demi pertumbuhan spiritual diri.

  1. Tidak terpusat pada ajaran sia-sia (6:2).

Kemungkinan besar jemaat penerima surat ibrani adalah orang-orang yang senang membandingkan antara doktrin dasar kristiani dengan ajaran yahudi yang sebelumnya mereka pegang.  Sayangnya, upaya itu hanya berhenti di situ, tanpa ada perkembangan diskursus kebenaran. Maka tak heran jika penulis Ibrani memandang itu sebagai sesuatu perbuatan yang sia-sia.  Betapa tidak, seperti disebutkan dalam ayatnya yang ke 2, penerima surat Ibrani hanya meributkan soal “pembaptisan”,  memakai bentuk JAMAK (umum), merujuk pada upacara pembersihan diri di PL, dan bukan baptisan Kristen.  Lalu soal “penumpangan tangan” , yang juga biasa digunakan, baik dalam PL dan PB, menunjukkan pada pengkudusan seseorang untuk tugas tertentu; berkaitan dengan pengorbanan; doa berkat; doa penyembuhan; dan doa menerima Roh.   Kemudian juga meributkan soal “kebangkitan dan hukuman kekal”, yang dipercaya juga oleh orang Farisi dan Esseni. 

Hal-hal seperti disebutkan itu bukan tidak penting, tapi seyogayanya digunakan menjadi “pengantar” pada penjelasan  kebenaran yang lebih penting.  Meskipun tidak secara eksplisit, pada bagian-bagian sebelumnya pun penulis Ibrani juga telah kembali mengulang penjelasannya tentang argumentasi bahwa Kristus Lebih Unggul dari pada ajaran Agama Orang Yahudi.

Silakan mengomparasi atawa membanding-bandingkan ajaran Kristiani dengan ajaran/ wawasan dunia lain.  Tapi seyogyanya tidak melulu berkutat di situ.  Tapi bertolak dari situ untuk mencecap kabar kebenaran yang lebih utuh.  Sehingga kelak pemahaman keberimanan pun menjadi lebih utuh dan sempurna.  Itulah yang dimaksudkan penulis ibrani dengan dewasa rohani.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top