Tokoh

Bonifasius

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Mon, 2 March 2015 - 13:23 | Dilihat : 1028

Misionaris Inggris yang Sangat Berpengaruh

Bonifasius dilahirkan dalam keluarga Kristen di Wessex pada tahun 680. Nama aslinya ialah Winfred. Ia dilatih di sebuah biara Benediktus dan ditahbiskan pada usia 30 tahun. Ia dianugerahi keterampilan untuk belajar dan memimpin. Ia merasa terpanggil untuk orang-orang yang belum mengaku percaya kepada Kristus.

Bonifasius, misionaris berdarah Sakson dari Inggris, melawan kekafiran di jantung negeri Jerman. Pada tahun 716, Winfred berangkat ke Frisia, tempat para misionaris Inggris telah mengerjakan ladang berpuluh-puluh tahun lamanya. Raja Frisia, Radbod, menentang kekristenan. Tekanan di situ sangat kuat dan Winfred pun kembali ke Inggris. Inilah kegagalan misinya yang pertama. Ia pergi ke Roma pada tahun 718, dan di sana ia menerima tugas misionaris dari Sri Paus. Ia ditugaskan untuk pergi lebih jauh, melewati Sungai Rhein, dan mendirikan gereja di antara orang Jerman di sana.

Jerman umumnya telah terbuka untuk kekristenan jenis apa pun, namun tidak ada gereja yang kuat di sana. Pada abad keempat, suku-suku Jerman terikat dengan Arianisme yang mereka campurkan dengan takhayul mereka sendiri. Kemudian, para misionaris bangsa Kelt telah memenangkan sejumlah jiwa, tetapi mereka tidak pernah ada di bawah naungan organisasi gereja yang kuat. Sri Paus ingin sekali menghadirkan gereja yang kokoh di sana.

Winfred kembali ke Roma pada tahun 723 dan diangkat sebagai uskup. Itulah saatnya ia menerima nama barunya, Bonifasius. Ia juga diberikan surat perkenalan untuk Charles Martel, raja suku Franka. Ketangkasan Charles di bidang militer sangat terkenal. Perlindungannya memberikan dukungan kuat bagi Bonifasius. Sekembalinya dari Hesse, Bonifasius melanjutkan pemusnahan kekafiran dan mendirikan gereja. Dan hasil yang tampak ialah bahwa kekristenan menjadi kekuatan baru yang harus diperhitungkan di Jerman.

Bonifasius menjadi daya tarik bagi sejumlah misionaris dari Inggris. Para biarawan dan biarawati ingin sekali melayani bersamanya. Dengan bantuan mereka, ia mendirikan organisasi gereja yang kuat di seluruh kawasan itu. Ironisnya, pelindungnya, Charles Martel sedang mengupayakan perubahan gereja di antara orang-orang Franka. Charles mengambil kuasa atas gereja-gereja di sana dengan merampas tanah mereka dan menjual instansi-instansi gereja. Hanya setelah ia wafat, pada tahun 741, Bonifasius dapat memulihkan gereja Franka tersebut.

Pada tahun 747, Bonifasius sekali lagi ke Roma. Di sana ia diangkat menjadi Uskup Agung Mainz dan pemimpin spiritual seluruh Jerman. Namun, setelah melewati umur 70 tahun, ia berkeinginan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertinggal. Setelah mengundurkan diri dari jabatan uskup agungnya pada tahun 753, ia kembali ke Frisia, tempat ia memulai karya misionarisnya. Di sana ia memanggil kembali orang-orang yang telah ia baptis dan yang sekarang telah kembali ke kekafiran, kemudian ia melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah yang belum dijangkau.

Pada hari Minggu Pentakosta tahun 755 di Dokkum, di sepanjang Sungai Borne, ia merencanakan kebaktian di tempat terbuka untuk mengajar dan meneguhkan orang-orang percaya baru. Ketika sedang berdiri di tepi sungai, sambil menyiapkan kebaktian, segerombolan penjahat kafir menyerangnya. Orang-orang yang ada di pihaknya mencoba melawan mereka, tetapi Bonifasius berteriak: "Hentikanlah dari pertikaian, anak-anakku. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Terimalah dengan tenang serangan maut sesaat ini, agar engkau dapat hidup dan memerintah bersama-sama Kristus selama-lamanya." Menurut saksi mata ia mati dengan Injil di tangannya.

Tidak ada yang dapat meragukan kesalehan, keberanian, ataupun kesetiaan pelayanan Bonifasius. Seperti yang ditulis sejarawan Kristen Kenneth Scott Latourette. Bonifasius adalah salah seorang panutan yang luar biasa bagi kehidupan Kristen."

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top