Mengenal Alkitab

Akibat Murtad

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Mon, 2 March 2015 - 13:28 | Dilihat : 1275

Ibrani 6:3-8

Dua pekan terakhir kita belajar dari surat Ibrani tentang penanda-penanda dewasa rohani.  Berupa prinsip-prinsip penting yang penulis Ibrani suguhkan terkhusus untuk penerima suratnya, pun kita yang sekarang memiliki akses luas kepada surat Ibrani untuk membaca, merenungkan dan meresponinya.  Menutup  bagian ini penulis Ibrani seperti memberikan suatu pungkasan penekanan yang menarik. Yaitu, segala sesuatu yang sudah penulis Ibrani nasihatkan untuk dilakukan itu tidak mungkin bisa terjadi tanpa ada izin ilahi (6:3).  Tanpa ada intervensi ilahi,  mustahil orang yang sejengkal kaki lagi keluar dari jalur Kristiani (seperti jemaat penerima surat Ibrani ini) akan tetap pada posisi dan tidak melangkah pergi. 

Jemaat yang akan meninggalkan Kristus itu bukan tidak pernah menerima merasai seperti apa intervensi ilahi, seperti apa karya Allah atas hidup dan spiritualitas mereka. Mereka ini pernah merasai bagaimana  diterangi hatinya oleh Allah dan firmanNya.  Pernah mengecap karunia surgawi.  Pernah mendapat bagian dan merasakan seperti apa dikuasai oleh RohKudus (6:4). Semua anugerah dan “potensi” itu seyogyanya menjadi “sarana” pertumbuhan iman mereka.  Dan bukan hanya berjalan ditempat - -dengan hanya mau menjadi seperti anak-anak yang maunya hanya minum susu dan bukan makanan keras yang membawa pada pertumbuhan kedewasan mereka.   Atau justru berjalan ke arah sebaliknya, dengan membelakangi Kristus dan bersandar pada wawasan dunia berbeda.

Orang yang murtad lagi seperti ini, maka akan sulit, atau mustahil (tidak mungkin) untuk memperbaikinya.  Bahkan membawanya pada pertobatan pun sulit benar (6:6).  Sebab, dengan berpaling dari Kristus, penulis Ibrani menulis, mereka itu tengah menyalibkan Anak Allah bagi diri mereka dan membiarkan Kristus dihina di depan umum. 

Penulis Ibrani mengibaratkan orang yang demikian itu seperti tanah yang tidak subur.  Seperti jenis jenis tanah keras yang hanya mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya.  Dan bukan menyerapnya, sehingga memiliki kadar air yang cukup untuk menumbuhkan tanaman-tanaman yang baik dan berguna.  Tanah demikian pada akhirnya hanya akan terbengkalai.  Tanah yang tak dimanfaat dan usahakan. Sehingga yang dihasilkan adalah semak duri dan rumput duri,  sesuatu yang  tidak berguna.  Sesuatu yang mendatangkan  kutuk, yang ujung akhirnya  hanya akan dibakar saja.  Karena tidak ada manfaatnya.  Karena tidak menghasilkan buah yang bisa dinikmati orang.

Kontras dengan itu, penulis Ibrani menunjukkan seperti apa kondisi orang yang bertumbuh di dalam Tuhan.  Orang yang demikian diibaratkan seperti tanah subur yang dimanfaatkan orang karena didalamnya mengandung kadar air yang cukup bagi tanaman.  Karena menghisap banyak air hujan yang sering turun ke atasnya (6:7).   Tanah seperti demikian, ketika diusahakan, tidak akan mengecewakan.  Kondisi tanah yang baik tersebut akan menghasilkan tumbuh-tumbuhan berguna bagi orang yang mengerjakannya.   Itulah berkat Allah yang diterima.

Anugerah ada di depan mata kita.  Kita bahkan dan masih terus merasai nikmat karuniaNya.  Kiranya Allah pun memberi kekuatan agar kita tetap ada di jalurnya.  Dan tidak sedikitpun terpikir untuk berpaling atau sedikit menjauh darinya.    Kiranya Tuhan berkenan tetap memberi kekuatan pada kita untuk senantiasa taat dan setia.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top