Sapaan Gembala

Double Minoritas

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 10 March 2015 - 14:37 | Dilihat : 1672

Double Minoritas,” istilah ini akrab dipemandangan kita beberapa minggu terakhir.  Banyak bersliweran di media sosial, dipakai bersama imbuhan-imbuhan tanda pagar dengan arti senada.  Tujuannya pun kita juga sudah bisa menebak.  Apalagi kalau bukan menunjuk pada friksi yang terjadi antara Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama  AKA (Also Known As)  Ahok dengan aggota DPRD DKI. 

Lalu kenapa harus menggunakan istilah minoritas, apalagi “Double Minoritas”. Bukankah frasa minoritas dan mayoritas itu kurang tepat untuk digunakan dalam konteks bebangsa dan bernegara? Karena setiap orang, entah itu banyak jumlahnya  (mayoritas), ataupun  sedikit (minoritas) punya hak dan kewajiban yang sama dalam berbangsa dan bernegara.   Sama-sama berkewajiban menjaga bangsa ini.  Berhak diayomi dan dilindungi dan diperlakukan sama oleh bangsa dan negara ini.  Isitilah minoritas memang kurang tepat, tapi di sini coba dipakai sebagai identifikasi sosok atau komunitas tertentu.  Ahok adalah salah satunya. Banyak orang menyebut dia minoritas, karena berasal dari suku dan agama minoritas.  Tapi tidak hanya minoritas dalam identitas, tapi ternyata orang juga mengaitkannya dengan suatu minoritas baru.  Yaitu minoritas di dalam pilihan dan sikapnya.  Sebab banyak orang yang secara jumlah minoritas, tapi pilihan sikapnya  toh sama saja dengan kebanyakan orang. 

“Ketidaksinambungan” antara Ahok dan anggota DPRD yang sempat memanas beberapa minggu terakhir adalah salah satu contoh keminoritasan Ahok.  Sikapnya untuk tidak mau kompromi terhadap perilaku anggota DPRD yang diduga korup membuktikan bahwa Ahok benar-benar “Double Minoritas”.  

Tindakan korup di banyak lini dajn tempat seperti sudah mengkristal dan membudaya di bangsa ini.  Tak perlu heran kalau orang kemudian mengganggapnya sebagai sesuatu yang biasa; umum dan lumrah.  Sementara pilihan sikap yang tegas seperti Ahok justru dilihat sebagai sesuatu yang tak lazim, diluar kebiasaan.  Ini menunjukkan betapa tidak mudah menjadi minoritas,  tidak mudah memperjuangkan prinsip dan kebenaran ditengah-tengah anggapan dan pilihan sikap orang yang menganggap biasa laku korup.  Karena biasa dijumpai; sudah lama berlangsung; dan biasa dilakukan oleh siapa saja. 

Pilihan sikap si Double Minoritas ini mengingatkan kita pada sosok Daniel.  Integritas daniel, satunya kata dengan tindakan Daniel menunjukkan kualitas dalam keminoritasannya.  Pengalaman Daniel menunjukkan betapa tidak mudahnya menjaga tindakan tentap bersih ditengah nafsu para pejabat mayoritas yang ingin menggunakan  segala cara untuk mencungkil dia dari singgasana jabatan yang dipercayakan.  Ditengah telikung para pejabat korup yang menghalalkan segala cara demi posisi, Daniel tidak sedikitpun rela kompromi dengan menyembah sosok lain diluar Allah Israel, meski itu adalah raja sekalipun.  Benar, ada konsekuensi atas sikap itu.  Bahkan nyawanya pun menjadi taruhannya. Tapi Daniel tak selangkahpun undur dari jalan Allahnya.   Pilihan sikapnya itu pada akhirnya yang mendatangkan respek orang terhadap dirinya.  Daniel adalah teladan Double minoritas. 

Banyak orang yang  mencoba mengidentifikasi diri mereka seperti Daniel.  Tak sedikit para politikus Kristen yang duduk di Kursi empuk senayan sana pun menyamakan diri layaknya Daniel.  Tapi sikap mereka tak sedikitpun menunjukkan diri layaknya Danil.  Yang dipertontonkan para politisi Kristen yang  mengaku seperti Daniel justru melulu soal duit dan posisi.  Mengaku diri Daniel? Pertanyaannya apakah kita benar-benar memiliki model hidup layaknya Daniel. Jangan-jangan justru kebalikannya yang kita tunjukkan.  Juga bukan berupaya mati-matian menunjukkan diri seperti Daniel agar memenuhi kriteria seperti Daniel.  Konon, pembuktian mati-matian justru makin menjauhkan kita dari kesejatian sikap kristiani yang patut.   Pembuktian diri tak lebih dari sekadar pemenuhan kebetuhan identitas diri dengan kualifikasi tertentu.  Biarlah bukan karena untuk pembuktian diri, tapi sikap yang terekspresi karena Kristus ada di dalam diri dan kitap suci yang menuntun langkah diri.   Slawi

 

Lihat juga

Komentar


Group

Top