Mengenal Alkitab

Sabar Dalam Pengharapan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 10 March 2015 - 15:07 | Dilihat : 4878

Ibrani 6: 9 -12

Penulis Ibrani berbicara keras kepada penerima suratnya.  Alasannya pun kita juga sudah tahu bersama dari bagian-bagian sebelumnya.  Yaitu, mulai hilang pengharapan mereka kepada Kristus. Ada keinginan mereka untuk undur dari iman kristen dan kembali kepada iman yang lama.  Tak heran kalau penulis Ibrani berbicara keras kepada mereka.  Meskipun demikian  penulis Ibrani masih melihat ada hal positif yang perlu terus dikembangkan dan dijadikan teladan dan inspirasi, baik bagi mereka sendiri pun kita di masa kini. 

Dalam kekanak-kanakan rohani mereka, penerima surat Ibrani ini masih memiliki hal baik yang terekspresi.   Ekspresi  yang mewujud dalam tindakan,  yang menurut penulis Ibrani masih memiliki nilai keselamatan (9).  Ekspresi yang dimaksud adalah, tindakan pelayanan mereka kepada orang-orang kudus, kemungkinan besar dalam dukungan dana, yang secara konsisten dilakukan sampai “sekarang” sampai surat tersebut ditulis (10).  Orang-orang kudus di sini bukan melulu diartikan pendeta, tapi kepada komunitas orang Kristen secara umum pada waktu itu. 

Tentang  tindakan pelayanan yang dilakukan penulis Ibrani mengacungi jempol kepada mereka, dan meyakinkan kembali mereka.  Bahwa Allah yang adil itu tidak akan lupa dengan pekerjaan pelayanan dan kasih yang sudah mereka tunjukkan  bagi-Nya, sewaktu menolong saudara-saudara seiman (10).

Kesungguhan pelayanan seperti itu patut untuk terus dipupuk dan tumbuh kembangkan.  Penulis Ibrani juga menggunakan kesungguhan mereka dalam melayani saudara seiman itu sebagai inspirasi dalam hal lain.  Penulis Ibrani menyarankan agar kesungguhan yang sama juga ada di pengharapan  penerima suratnya kepada kristus.  Sehingga pengharapan itu tidak layu atau malah mati sama sekali. Apalagi pengharapan yang dimaksudkan adalah pengharapan kepada Kristus sang juru selamat.   Pengharapan itu dinantikan dalam kesungguhan, kesungguhan untuk mempercayai, menghidupi dan tetap setia.  Sampai kelak pengharapan mewujud dalam menjadi milik yang pasti, sampai pada akhirnya (11).

Menurut penulis Ibrani hal ini penting dimiliki.  Sebab jika tidak orang akan menjadi lamban. Orang menjadi hilang semangat dalam mengikut Tuhan.  Tanpa ada kesungguhan dalam pengharapan, tanpa ada keyakinan yang pasti dalam pengharapan sejati, maka semangat untuk menghidupi iman di pengharapan itu pun tak lagi muncul.  Jika sudah demikian, tak ada lain yang mencuat kemuka kecuali ketidakmampuan diri untuk melangkah lebih cepat lagi.  Jika sudah begini orang berjalan menjadi lembih lamban, kalau tidak mau dibilang stagnan.  Orang seperti tidak punya daya untuk melakukan sesuatu yang benar. 

Agar dapat terus memiliki kesungguhan dalam pengharapan, penulis menyarankan agar para penerima suratnya dapat belajar dari para pendahulu mereka.  Belajar dari tokoh-tokoh kitab suci yang juga mereka kenal dan familiar di telinga mereka. Belajar bagaimana berpengharapan dalam kesungguhan itu tidak selalu mudah dijalankan, tidak selalu mudah dilalui. Tokoh-tokoh kitab suci itu belajar banyak bagaimana mereka tetap sungguh dalam pengharapan meskipun ada begitu banyak tantangan dan cobaan, yang pada akhirnya “memaksa” mereka tetap bersabar dalam pengharapan.  Sehingga, dalam kesabaran mereka kelak mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (12). Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top