Sapaan Gembala

Berpaut Pada Tuhan

Penulis : Pdt Netsen | Wed, 18 March 2015 - 17:22 | Dilihat : 2744

Hidup di zaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang dengan pesat, tidak serta merta menjadikan manusia hidup lebih baik dari sebelumnya. Hidup manusia diperhadapkan dengan kemudahan tetapi sekaligus menjadi tantangan berat. Betapa tidak, hidup manusia serba mudah dan serba instan dalam menerima, mendapat dan menemukan sesuatu yang menjadi keinginnya. Tak hanya mudah bagi kebutuhan hidup, tapi terlampau mudah guna kepuasan seleranya. di saat yang sama hidup manusia juga akan diperhadapkan dengan pergumulan yang berat, karena kemajuan juga dapat menggilas hidup, tak hanya bagi manusia yang lemah dalam segala bidang, tetapi juga bagi yang kuat dan mapan, karena tak sedikit dari mereka terjebak dalam perangkap yang salah, mereka memperbudakan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. IPTEK menjadi tempat kebergantungan manusia. Ketika merasakan akan serba bisa dan serba mudah, maka manusia tidak lagi memiliki kebergantungan pada sesama. Kehilangan nilai dan jiwa sosial. Hidup manusia menuju individualise. Tak hanya itu, tanpa disadari manusia pun hilang kebergantungannya kepada Allah, Tuhan yang adalah Sang Pencipta dan Pemelihara.

Godaan hidup manusia adalah bergantung pada apa yang mereka punyai, bergantung pada apa yang nyata dan tampak kasat dilihat dan dirasakan oleh indra. Entah itu pengetahuannya, kecerdasan, kepintaran, harta kekayaan, jabatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Tanpa sadar, hal-hal tersebut sering kali menjadi tempat untuk manusia menyandarkan akan kehidupannya. Memiliki segalanya tentu bukan hal yang salah. Karena ketika Tuhan mempercayakan hal tersebut, DIA ingin menjadikan si penerimanya sebagai orang yang dapat menjadikan apa yang ada padanya untuk menjadi alat yang dipakai bagi kemuliaan nama-NYA. Manusia tidak seharusnya menggantungkan hidup pada apa yang dipunyainya, tetapi kepada Allah yang adalah pemberi dan pemilik kehidupan ini.

Berpaut, entah kenapa merupakan sebuah kata yang tidak biasa digunakan pada hari ini. Kata tersebut mendefinisikan suatu hubungan yang hampir bertentangan dengan individualisme. Ketika orang-orang berpikir diri mereka sudah kuat dan berkuasa, mereka tidak mau mengakui bahwa berpaut adalah sesuatu yang baik, karena berpaut berarti sungguh-sungguh, betul-betul, sangat membutuhkan seseorang, lebih dari yang kita akui. Beberapa kali, Musa mengingatkan kepada bangsa Israel agar mereka berpaut kepada Tuhan. “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu, kepada-Nya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah” (Ul. 10:20). Selanjutnya, Musa juga mengatakan “Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya, maka TUHAN akan menghalau segala bangsa ini dari hadapanmu, sehingga kamu menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu” (Ul. 11:22-23) "TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut." (Ul. 13:4). Banyak orang menggambarkan intensitas berpaut pada Allah, layaknya seorang bayi yang berpaut pada seorang ibunya. Tapi, sesungguhnya, keberpautan kita pada Allah harusnya jauh melebihi akan hal itu. Sebab hanya Allah, satu-satunya sumber hidup dan pemberi hidup itu.

Kita semua, tidak peduli betapa salehnya kita menurut pikiran kita sendiri, perlu untuk berpaut pada Tuhan. Berpaut menuntut pemahaman secara intelektual sebanyak yang kita bisa tentang Allah; tetapi tidak hanya itu. Berpaut menuntut pengakuan akan nama Tuhan, tetapi tidak hanya itu. Berpaut berarti kita menjalani suatu kehidupan yang penuh dengan pekerjaan baik, tetapi tidak hanya itu. Berpaut berarti mempraktikkan iman seseorang dengan pergi ke gereja, tetapi itu belum cukup. Mereka yang berpaut kepada Allah melakukan kehendakNya. Amin.

Lihat juga

Komentar


Group

Top